04 Mei 2026

Kunjungi OJK, Mahasiswa FEB UNS Diharapkan Jadi Agen Literasi Keuangan

30 Mahasiswa Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan (EP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Observasi Lapangan pada Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan, Selasa 3 Desember 2024 di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Solo.

Ayya Agmulia Asmarani Islam, S.E., M.E., Dosen Pengampu Mata Kuliah Bank dan Lembaga Keuangan, mewakili Kepala Program Studi S-1 EP Dr. Muhammad Yusuf Indra Purnama menyampaikan terima kasih dan memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada OJK Solo yang telah menerima kunjungan mahasiswa FEB.

Dikatakan, kunjungan ini bukan sekedar kegiatan akademik tapi juga merupakan langkah nyata dalam menjembatani teori yang dipelajari di kelas.

Harapannya, mahasiswa lebih mengetahui bagaimana pengawasan sektor keuangan mendukung dan berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Dan juga mahasiswa akan mendapatkan edukasi tentang investasi yang legal dan ilegal agar tidak terjerat investasi yang “bodong” atau judol.

“Hari ini, kita melakukan kunjungan ke kantor OJK Solo untuk mendapatkan edukasi bagi mahasiswa FEB. Dan saya mengajak mahasiswa untuk berpartisipasi aktif di saat kegiatan edukasi keuangan ini. Jika ada yang ingin ditanyakan kepada narasumber, manfaatkan waktu sebaik-baiknya mumpung ada pakarnya dari OJK Solo, bagaimana cara menghindari investasi ilegal, atau bagaimana jika ingin berkarir di OJK Solo, saya berharap Temen-Temen mendapatkan banyak hal yang baik di hari ini” ungkapnya.

Susan Diah Kusumaningrun, Kepala Sub Bagian Pengawasan Perbankan OJK dalam sambutannya berharap di acara ini, para mahasiswa mendapatkan pengetahuan lebih tentang OJK dan juga mendapatkan edukasi keuangan.

Lebih lanjut dijelaskan, hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2024, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia  65,43 persen, sudah hampir sama dengan indeks inklusi keuangan sebesar 75,02 persen. Sebelumnya, tahun 2022 literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen dan indeks inklusinya 85,10%.

“Tingkat literasi keuangan dulu 40-an persen sekarang sudah 65-an persen, sedangkan inklusi keuangan sebelumnya 85-an persen malah sekarang turun menjadi 75-an persen. Dari hasil survei tersebut, tandanya ada gap. Tahun ini literasinya sudah bagus, masyarakat sudah mulai teredukasi” katanya kemudian.

Ini merupakan capaian yang kita banggakan, edukasi yang kita lakukan ada dampaknya bagi masyarakat. Harapannya, para mahasiswa yang telah teredukasi seperti melalui kunjungan ini akan menjadi kepanjangan tangan OJK. Para mahasiswa juga bisa memberikan edukasi langsung ke masyarakat.

Lebih lanjut, Susan berpesan kepada mahasiswa agar berhati-hati dalam menggunakan digitalisasi keuangan. Ia juga berpesan agar mahasiswa menjauh dari judi online yang saat ini sedang marak karena korbannya sudah cukup banyak.

Menurutnya, judi tidak akan membuat kaya, bahkan akan membuat miskin, awalnya mungkin akan diberikan kemenangan dulu tapi kemudian akan kehilangan yang lebih banyak.

 “Di kunjungan ini, salah satu harapan kami, kalian lebih aware lagi jika mendapatkan penawaran investasi online maupun offline, harus bisa membedakan, logis atau tidak, di dunia ini nggak ada yang instan, perlu usaha, kalian harus pelajari dulu produknya, diawasi siapa, hasilnya apa, benar nggak, cek di pencarian pernah nggak ada penipuan terhadap investasi ini” nasihatnya.

Di kunjungan ini, mahasiswa juga mendapatkan edukasi keuangan digital dan proses magang di OJK oleh beberapa narasumber OJK.