18 Okt 2021

Ketua OJK, Rektor UNS dan Dekan FEB UNS Tandatangani Prasasti, Resmikan Masjid Al-Latief FEB UNS

Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Republik Indonesia, Prof. Wimboh Santoso, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof. Jamal Wiwoho dan  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS Prof. Djoko Suhardjanto menandatangani prasasti sebagai tanda diresmikannya Masjid Al-Latief FEB UNS, Jumat (1/10/2021).

Dalam peresmian masjid itu, Prof. Wimboh, Prof. Jamal dan Prof. Djoko juga melakukan pengguntingan pita sebagai tanda bahwa Masjid Al-Latief sudah mulai bisa digunakan sebagai tempat beribadah khusus seperti sholat maupun aktifitas-aktifitas lain yang mendukung kepada peningkatan ibadah dan juga kesejahteraan masyarakat.

Pengguntingan pita: Prof. Jamal, Prof. Wimboh, Prof. Djoko (dari kiri ke kanan)

Dekan FEB UNS dalam laporannya menyampaikan, Masjid Al-Latief yang diresmikan saat ini sebelumnya merupakan sebuah musala. Renovasi terhadap bangunan sangat perlu dilakukan agar jamaah bisa lebih nyaman dalam menjalankan ibadahnya.

Dekan juga mengucapkan terima kasih kepada Bank Mandiri, Bank BRI, Bank BNI dan OJK yang telah memberikan bantuan sehingga Masjid Al-Latief bisa lebih bagus dan memberikan kenyamanan jamaah dalam menjalankan aktifitas ibadah maupun lainnya.

“Bangunan masjid kita desain dengan memenuhi filosofi  syariat, tarekat, hakikat, dan juga makrifat. Pilar-pilarnya gilig sebagai simbol manembah kepada gusti” ungkapnya.

Dekan juga telah menunjuk dosen muda FEB, Ibrahim Fatwa Wijaya, Ph.D sebagai Takmir Masjid  Al-Latief untuk bisa lebih memakmurkan masjid. Takmir yang baru diharapkan mampu menjadikan masjid sebagai center of excellent. Lebih menggerakkan aktifitas masjid dengan kajian-kajian Ekonomi Islam, Sejarah Islam sehingga memberikan kemanfaatan bagi masyarakat  dan turut mengharumkan nama UNS.

Prof. Wimboh saat memberikan sambutan

Hampir senada, Prof. Wimboh dalam sambutannya menekankan bahwa  fungsi masjid bukan sekedar tempat beribadah namun juga sebagai tempat mengembangkan ilmu yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Di masjid harus ada kajian-kajian, inovasi-inovasi dalam pengembangan pemikiran syariah.

“Alhamdulillah bangunan Masjid Al-Latief yang sebelumnya sebuah Musala sekarang sudah lebih baik, lebih nyaman dan bisa dimanfaatkan, baik oleh sivitas akademika FEB maupun masyarakat luas. Masjid Al-Latief dapat menjadi center of excellent. Masjid bukan hanya untuk sholat, bukan hanya untuk beribadah tapi untuk sinergi menggalang inovasi pemikiran syariah,” kata Prof. Wimboh.

Menurutnya, hal itu sangat penting sebab dari 275 juta penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam harusnya porsi masyarakat untuk menikmati produk perbankan syariah menjadi besar.

“Potensi syariah masih sangat kecil, hanya 9 persen. Sekarang bagaimana kita bisa meningkatkan porsi itu. Produk-produk syariah harus kita perbanyak, aset-aset syariah masyarakat juga diperbanyak. Pengurus masjid harus menggerakkan diskusi-diskusi soal inovasi bagaimana mengembangkan hal ini,” tegas Prof. Wimboh.

Peninjauan arsitektur dan fasilitas masjid

Usai peresmian, Prof. Wimboh, Prof. Jamal, dan Prof. Djoko diikuti oleh sejumlah tamu undangan  langsung meninjau arsitektur dan fasilitas yang ada di Masjid Al-Latief FEB UNS. (Humas FEB)