30 Jun 2026

Working Paper Forum P4M FEB Diskusikan Pengembangan Startup Energi Terbarukan di Indonesia

Dalam rangka mendorong atmosfer akademik yang kolaboratif dan produktif, Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P4M) FEB UNS bekerja sama dengan Research Group for Digital Economic, Marketing, and Consumer Insight (DEMCI) Working Paper Forum, Selasa, 10 Juni 2025, di  Ruang Koordinasi Tendik, Gedung Soeharno TS FEB UNS.

Kegiatan yang diikuti oleh Dosen dan Mahasiswa menghadirkan narasumber Dr. Catur Sugiarto, S.E., M.SM., M.Rech., Ph.D., CDMP., CPM (Asia), Dosen dan Peneliti dari RG Digital Economic, Marketing, and Consumer Insight (DEMCI).

Dila Maghrifani, S.E., B.Sc., M.Sc.,Ph.D, Ketua P4M menyampaikan forum ini merupakan bagian dari diseminasi hasil riset akademik untuk memperluas wawasan sivitas akademika, khususnya terkait pengembangan kewirausahaan berkelanjutan, inovasi ramah lingkungan (eco-innovation), dan pertumbuhan startup energi terbarukan di Indonesia.

Lebih lanjut dikatakan, hasil penelitian yang akan disampaikan oleh narasumber hari ini bukan sekedar penelitian, namun merupakan project yang mendapat pendanaan oleh Bank Indonesia, yang  berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D, wakil Dekan Akademik dan Penelitian FEB UNS dalam sambutannya berharap peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa dapat memanfaatkan kegiatan ini untuk aktif berdiskusi, mampu menyerap dengan baik wawasan dari narasumber.

Di Working Paper Forum yang digelar P4M, Dr. Catur Sugiarto memaparkan hasil penelitiannya bertajuk Business Incubation, Eco-innovation, and Startup Growth: A Study of Renewable Energy Entrepreneurship in Indonesia.

“Indonesia memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT yang sangat melimpah, mencapai 3.686 gigawatt, yang berasal dari berbagai sumber seperti energi surya, bayu, hidro, bioenergi, panas bumi, dan laut. Meskipun memiliki potensi besar, Indonesia masih bergantung pada energi fosil, terutama batubara, yang menghasilkan emisi tinggi. Hal ini menimbulkan urgensi untuk beralih ke sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan” jelasnya.

Lebih lanjut disampaikan , startup EBT di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, termasuk regulasi yang kompleks, kebutuhan modal yang besar, dan rendahnya kesadaran pasar tentang pentingnya energi terbarukan. Di tingkat global, banyak perusahaan seperti Proterra dan Britishvolt mengalami kebangkrutan akibat masalah rantai pasok dan kekurangan pendanaan. Di Indonesia, perusahaan seperti Xurya dan Surya Power juga menghadapi ketidakpastian kebijakan dan hambatan regulasi yang menghambat pertumbuhan mereka.

Inkubator bisnis berperan penting dalam mengatasi ketergantungan pada satu jenis energi dan mempercepat pencapaian kesejahteraan masyarakat di daerah yang memiliki potensi EBT. Melalui pengembangan perusahaan rintisan (startup) di bidang EBT dan penguatan perusahaan yang sudah ada, inkubator dapat memberikan dukungan berkelanjutan yang diperlukan untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan. Dengan demikian, inkubator bisnis dapat menjadi solusi strategis untuk memanfaatkan potensi EBT yang ada di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Catur Sugiarto dkk menggunakan metode campuran untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inkubator bisnis di sektor EBT. Pendekatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bagaimana inkubator dapat berkontribusi dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Melalui kegiatan ini, P4M FEB UNS menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur).

Forum ini menjadi wadah strategis dalam memperkuat kolaborasi akademik, mendorong inovasi berkelanjutan, dan membangun ekosistem kewirausahaan yang mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan energi di Indonesia.