19 Mei 2024

Sambut Mahasiswa Baru di Hari Pertama Kuliah, Prodi Ekonomi Pembangunan Undang Dosen Tamu dari Universitas Sains Malaysia

Di hari pertama masuk perkuliahan semester gasal Agustus 2023-Januari 2024, Senin 28 Agustus 2023, Prodi S1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret menyambut maba dengan mendatangkan Dosen Tamu, Assoc. Prof. Dr. Radij Firdaus Radin Badaruddin dari Universitas Sains Malaysia. Selain itu, hadir pula sebagai narasumber. Dr. Suryanto, S.E., M.Si. Dosen Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan.

Kegiatan yang diadakan di Aula Gedung Suhardi FEB membahas The Impact of Climate Change on Food Security and Economic Growth. Di kegiatan yang dibuka oleh  Kepala Program Studi S1 Pembangunan,  Dr. Bhimo Rizky Samudra, SE. M.Si , juga diikuti oleh beberapa dosen Ekonomi Pembangunan .

Prof. Radij dalam paparannya menyampaikan bahwa perubahan iklim telah masuk dalam SDG, lebih spesifiknya adalah SDG13, karena dianggap sebagai hambatan yang paling signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini didukung dengan banyaknya bukti yang menunjukkan bahwa perubahan iklim secara langsung mempengaruhi kondisi pertumbuhan dan perkembangan sosial, ekonomi, dan sumberdaya manusia di sebuah negara.

Perubahan iklim sendiri bukanlah sebuah kejadian alam yang baru-baru saja terjadi. Meskipun begitu peningkatan atau percepatan perubahan iklim mulai terjadi sejak pertengahan tahun 1970-an.

Dilain sisi, beberapa aktifitas kegiatan manusia terbukti memiliki peran dalam kenaikan level karbondioksida (CO2). Diantara banyak kegiatan, sektor produksi listrik dan pertanian (termasuk kehutanan dan penggunaan lahan lainnya) masing-masing berkontribusi sebesar 25% dan 24% pada kenaikan tingkat CO2 di dunia. Kenaikan ini akan membawa banyak efek negatif seperti mencairnya permafrost (salju abadi), kenaikan tinggi air laut, sering terjadinya kekeringan dan cuaca ekstrim, hingga ancaman terhadap produksi pangan. Lebih lanjut dijelaskan mengenai mitigasi perubahan iklim yang dapat dilakukam melalui enam langkah yaitu reduce, remove, regulate, put a price, use of government subsidies, dan international cooperation.

Sementara itu, Dr. Suryanto mengatakan Indonesia sebagai wilayah agraris juga dipastikan mendapat pengaruh negatif dari perubahan iklim. Menurut catatan KLH (2004), perubahan iklim seperti suhu udara dan curah hujan yang terjadi secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa temperatur udara global telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861.

“Kenaikan suhu dari tahun ke tahun semakin meningkat, meskipun mungkin tidak terasa, namun jika tidak segera diantisipasi maka suhu akan semakin panas, mungkin bukan Saudara atau kita yang menerima dampaknya, tapi generasi dibawah kita yang mendapatkan efek yang luar biasa” ungkapnya.

Terkait ketahanan pangan, masalahya bukan hanya pada ketersediaan pangan saja namun  juga tetang aksesibilitas dan pada pilihan bagaimana kita bisa memanfaat kan pangan untuk kesehatan.. Impacts of Climate Change

Secara garis besar disampaikan bahwa dalam food security atau Impacts of Climate Change terhadap food security adalah cukup signifikan. Ketika gaya dalam kita berekonomi atau ketika mengejar pertumbuhan ekonomi masih menggunakan cara-cara lama yang tidak ramah lingkungan, dan lingkungan memiliki daya tampung dan daya dukung yang terbatas,

“Sama seperti kita, jika kita diganggu sekali mungkin bisa tahan, dua kali tahan, ketiga mungkin sudah tidak tahan dan marah. Demikian juga dengan  bumi, lingkungan, bagaimana kita bisa berbaik hati terhadap lingkungan supaya ada imbal balik lingkungan dengan kita, bisa beraktifitas ekonomi, lingkungan juga masih mendukung kehidupan kita” jelasnya.

Ekonomi tidak perlu tinggi jika harus menghancurkan bumi dan manusia menderita.Namun pertumbuhan yang ramah lingkungan tapi jangan panjang, berkelanjutan.