25 Mei 2024

Riset Group Green Economy dan Sustainable Development  FEB Hadirkan Tiga Narasumber di Webinar Internasional

Komitmen dalam pengembangan pariwisata, terutama komitmen pemimpin, sangatlah penting. Dalam hal pemberdayaan masyarakat terkait industri pariwisata, terdapat banyak metode yang dapat diterapkan atau disarankan kepada pelaku usaha pariwisata.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dwi Marhen Yono, S.STP, M.Si., Direktur Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf RI, pada event webinar internasional ‘Exploring the Potential of International Tourism Development Through Community Empowerment and Local Wisdom,’ pada Kamis, 25 Mei 2023.

Webinar internasional tersebut diselenggarakan oleh Riset Group Green Economy dan Sustainable Development Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS).

Tiga pembicara tamu hadir yakni Dwi Marhen Yono, S.STP, M.Si. (Direktur Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf RI), Prof. Madya Dr. Norlida Hanim Mohd Salleh (Universiti Kebangsaan Malaysia), dan Dr. Nurul Istiqomah, S.E.,M.Si (EP FEB Universitas Sebelas Maret).

Selain menyampaikan materi terkait pemulihan sektor pariwisata dan rencana pengembangan pariwisata Indonesia, Dwi Marhen juga menjelaskan proses sertifikasi halal yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Hal tersebut diungkapkan pada sesi tanya jawab bersama peserta webinar.

Pembicara kedua, Assoc. Prof. Dr. Norlida Hanim menyampaikan materi berjudul ‘Rural Tourism: How Could Local Communities Develop Their Local Wisdom as Economic Values?’

Merespon materi yang telah disampaikan oleh Marhen, Prof. Norlida setuju bahwa saat ini wisata budaya telah menjadi permintaan masyarakat. Lebih lanjut, beliau kemudian menjelaskan aspek-aspek yang dibutuhkan untuk mengembangkan pariwisata pedesaan dan tantangan yang dihadapi.

“Perkembangan ini (sektor pariwisata) butuh peran pemerintah. Diperlukan pula pertimbangan terkait faktor kearifan lokal, dukungan lingkungan, perencanaan, dan perencanaan lain dari sektor internal masyarakat,” jelas Prof. Norlida, selaras dengan pernyataan Marhen.

Paparan materi berlanjut ke pemateri ketiga, yaitu Dr. Nurul Istiqomah berjudul ‘Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan’ sekaligus mewakili RG Green Economy dan Sustainable Development.

Dalam paparannya, Dr. Nurul berfokus pada penerapan pariwisata berkelanjutan pasca pandemi Covid-19. Diungkapkan bahwa pariwisata Indonesia tumbuh dengan cepat setelah pandemi. Hal ini terbukti dengan Global Tourism Index dari Indonesia yang naik di tahun 2021.

“Perbedaan dari pariwisata berkelanjutan dan pariwisata konvensional adalah keterlibatan stakeholder. Dalam pariwisata konvensional, pembangunan ataupun pengembangan hanya melibatkan pelaku sektor pariwisata, seperti manajer ataupun pengelola situs wisata. Sementara pada pariwisata berkelanjutan, semua stakeholder daerah wisata dilibatkan dalam proses pengelolaan wisata, termasuk pula para pelancong yang mengunjungi lokasi wisata,” jelas Dr. Nurul.

Dosen Prodi S1 EP tersebut kemudian menjelaskan bahwa meskipun indeks pariwisata Indonesia naik, namun indikator pariwisata berkelanjutan belum banyak diperhatikan. “Untuk mengurangi dampak negatif dari sektor pariwisata, termasuk kerusakan alam, terdapat konsep carrying capacity.

Seperti yang telah dijelaskan oleh pemateri sebelumnya, yaitu perhitungan yang digunakan untuk membatasi jumlah pengunjung sehingga dapat meminimalkan efek negatif. Konsep ini diterapkan, contohnya, di daerah wisata Raja Ampat, yang memang didesain sedemikian rupa, sehingga jumlah pengunjung terbatas dan untuk mengurangi kerusakan lingkungan,” ungkapnya.

Menutup jalannya acara, Prof. Izza Mafruhah, Ketua RG Green Economy dan Sustainable Development, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pembicara yang telah hadir, dengan harapan agar sektor pariwisata dapat menjadi ‘bisnis kebahagiaan’ tidak hanya untuk para turis namun juga masyarakat sekitar.