P4M FEB UNS Gelar Working Paper Forum: Bedah Peran Rasio Keuangan dalam Menilai Kualitas Kredit Sukuk Korporasi
Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan agenda ilmiah Working Paper Forum secara daring melalui Zoom Meeting, Jumat (23/10/2026).
Mengangkat topik penelitian bertajuk “Do Financial Ratios Signal Sukuk Credit Quality? Evidence from Indonesian Corporate Sukuk Ratings”, forum ini menghadirkan Dr. Falikhatun, M.Si., Ak., Ketua Riset Grup (RG) Ekonomi dan Keuangan Islam sekaligus dosen S1 Ekonomi Keuangan Islam FEB UNS.
Kegiatan yang dihadiri oleh dosen, dan mahasiswa tersebut menjadi sarana penting dalam mendiseminasi hasil riset serta memperkuat atmosfer akademis di lingkungan kampus.

Saat membuka acara, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FEB UNS, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., menegaskan komitmen fakultas dalam memfasilitasi publikasi karya ilmiah dosen dan peneliti.
Prof. Tri menyampaikan bahwa forum ini menjadi ajang untuk menampilkan kepakaran sivitas akademika FEB UNS, khususnya di bidang ekonomi dan keuangan Islam yang kini didukung oleh keberadaan program studi S1 Ekonomi Keuangan Islam.
“Semoga paparan beliau hari ini bisa menambah wawasan kita bersama, kemudian juga meningkatkan ekosistem riset yang ada di FEB UNS. Kami punya banyak pakar yang berkecimpung di bidang ekonomi dan keuangan Islam,” tutur Prof. Tri.
Ia berharap dukungan seluruh pihak dapat terus menstimulasi diseminasi hasil riset di lingkungan FEB UNS.
Apresiasi senada disampaikan oleh Ketua P4M FEB UNS, Dr. Wahyu Widarjo, S.E., M.Si.. Ia menilai bahwa riset yang menguji hubungan rasio keuangan dengan peringkat kredit sukuk memiliki nilai strategis. Tidak hanya memperkaya literatur akademis, kajian ini juga memberikan kontribusi praktis bagi investor, korporasi penerbit sukuk, serta pengembangan pasar keuangan syariah.
“Forum ini bukan sekadar tempat untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi ruang bagi kita untuk saling memberikan masukan, mempertajam argumentasi, dan memperkuat metodologi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas penelitian agar terpublikasi di jurnal internasional bereputasi,” ungkap Dr. Wahyu.
Dalam paparannya, Dr. Falikhatun membedah hasil riset mandiri yang disusun bersama tim RG Ekonomi dan Keuangan Islam FEB UNS. Riset tersebut dilatarbelakangi oleh fenomena menarik di pasar modal syariah Indonesia, di mana sejumlah korporasi yang sebelumnya mengantongi peringkat kredit tinggi justru mengalami kesulitan pelunasan atau default saat jatuh tempo.

Dr. Falikhatun memaparkan beberapa studi kasus riil di Indonesia, seperti kasus default sukuk PT Garuda Indonesia senilai 500 juta dolar AS pada 2021, penurunan peringkat PT Kapuas Prima Coal dari CCC menjadi default akibat gagal bayar Rp23 miliar pada Januari 2024, serta kasus penundaan kewajiban sukuk mudarabah PT Tiga Pilar Sejahtera Food.
Ia menerangkan bahwa tidak seperti sukuk negara yang dijamin langsung oleh pemerintah, keberlanjutan imbal hasil sukuk korporasi sangat ditentukan oleh kinerja dan rasio keuangan perusahaan. Berbeda pula dengan obligasi konvensional yang berbasis bunga, sukuk merupakan instrumen utang syariah berbasis imbal hasil atau bagi hasil yang tidak mengenal mekanisme denda keterlambatan sebagai pendapatan.

Menggunakan sampel 112 observasi sukuk korporasi berakad mudarabah dan ijarah yang terdaftar di PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) periode 2019–2023, penelitian ini menguji pengaruh tiga rasio utama—profitabilitas (ROE), likuiditas (current ratio), dan leverage (DER)—serta variabel kontrol ukuran (firm size) dan usia perusahaan (firm age).
Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa rasio profitabilitas (ROE) dan usia perusahaan (firm age) berpengaruh positif terhadap peringkat kredit sukuk. Sebaliknya, rasio likuiditas, leverage (DER), dan ukuran perusahaan (firm size) menunjukkan pengaruh negatif.
Selain memaparkan temuan kuantitatif, Dr. Falikhatun membagikan wawasan penting mengenai penggunaan teori dalam penyusunan karya ilmiah bagi mahasiswa S1, S2, maupun S3. Ia menekankan pentingnya signaling theory sebagai pisau analisis untuk menurunkan variabel independen.
“Di dalam penelitian kuantitatif, fungsi dari teori adalah menurunkan variabel independen. Jangan sampai kita mengambil teori yang keliru atau mengambil variabel independen baru mencari teorinya,” tegas Dr. Falikhatun. Ia juga mengingatkan pentingnya menjelaskan dampak praktis dari inkonsistensi hasil riset terdahulu terhadap para pemangku kepentingan seperti investor, kreditor, dan issuer.
Penyelenggaraan Working Paper Forum ini sejalan dengan komitmen FEB UNS dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) dan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth). Melalui penguatan kapasitas metodologi riset dan penyebarluasan ilmu pengetahuan akademis (SDG 4), kegiatan ini secara langsung mendukung terciptanya pasar keuangan syariah dan iklim investasi yang lebih transparan, akuntabel, serta berdaya tahan demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan (SDG 8).