Perkuat Ekonomi Digital Desa, Lab Bina Desa FEB UNS dan Dansatrad 406 Ngliyep Gagas Strategi Electronic Warfare untuk Ketahanan Siber Pedesaan
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Kuliah Dosen Tamu bertajuk “Digitalisasi Desa & Ketahanan Siber: Belajar dari Strategi Electronic Warfare Mengamankan Ekonomi Digital Pedesaan” pada Rabu (28/10/2026) secara daring.
Kegiatan ini menghadirkan Komandan Satuan Radar (Dansatrad) 406 Ngliyep TNI AU, Letkol Lek Hendrawan Candra Purnama, S.T., M.T., guna mengupas langkah strategis pengamanan ekosistem digital dan keberlanjutan ekonomi masyarakat pedesaan dari ancaman kejahatan siber.
Dalam paparannya, Letkol Lek Hendrawan Candra Purnama mengenalkan adopsi kerangka pertahanan elektronik (Electronic Warfare) ke dalam tata kelola keamanan digital pedesaan melalui empat pilar respon digital, yaitu Sense, Protect, Respond, and Learn. Pilar Sense berfokus pada deteksi dini anomali sistem, Protect bertugas membatasi akses dan memblokir peretasan, Respond mengamankan kelancaran operasional dan pelaporan, serta Learn berfokus pada evaluasi standar keamanan secara berkelanjutan.
“Electronic warfare ini memberikan kerangka bahwa itu bisa digunakan sebagai salah satu prinsip yaitu sense, protect, respond, and learn untuk membangun keamanan digital desa,” terang Letkol Lek Hendrawan.
Guna memberikan gambaran nyata, Letkol Lek Hendrawan membagikan pelajaran penting dari insiden serangan siber pada sistem pendingin (cold storage) pangan berbasis Internet of Things (IoT) di Prancis yang mengalami peretasan hingga suhu penyimpanan melonjak dari 2–3°C menjadi di atas 15°C, memicu kerusakan bahan pangan dan kerugian finansial bagi pemilik usaha.
Ia mengingatkan bahwa maraknya penggunaan transaksi elektronik seperti QRIS, perbankan digital, media sosial, hingga aplikasi operasional BUMDes dan UMKM di Indonesia juga menyimpan risiko rekayasa sosial, kebocoran data, dan penipuan digital jika tidak diimbangi dengan literasi serta Prosedur Operasional Standar (SOP) keamanan yang memadai.
Selain aspek teknis, pemaparan narasumber membedah peta kerentanan wilayah berdasarkan dua lensa, yakni intensitas kerentanan dan volume penduduk, yang kemudian dikelompokkan menjadi empat skema intervensi. Wilayah berpopulasi tinggi seperti Jawa dan Sumatra diarahkan pada pendekatan pelatihan massal (Training of Trainers), sementara wilayah dengan keterbatasan jaringan seperti Papua dan Maluku menjadi prioritas khusus yang membutuhkan modul pembelajaran luring (offline) serta kolaborasi mitra lokal.
Sebagai tindak lanjut, dirancang model kerja sama enam tahap antara TNI AU, FEB UNS, dan pemangku kepentingan pedesaan. Skema ini mencakup pengumpulan data ancaman, penyusunan modul Electronic Warfare for Desa dan literasi keuangan digital, pelatihan fasilitator mahasiswa, penyusunan SOP keamanan, penerapan program KKN, hingga pembentukan desa mentor sebagai proyek percontohan (pilot project) yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027.
Memasuki sesi penutupan diskusi, Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., merangkum poin-poin utama dari pembahasan yang berlangsung hangat selama hampir dua jam tersebut. Ia menekankan bahwa di balik kemudahan transaksi digital di pedesaan, terdapat lapisan pertahanan siber tak kasat mata yang harus terus dibangun dan dijaga secara kolaboratif.

“Diskusi hari ini menyadarkan kita bahwa di balik layar gawai dan transaksi digital di desa-desa kita ada pertahanan tak kasat mata. Sebuah ketahanan siber yang harus terus kita bangun dan jaga bersama,” ujar Yogi Pasca Pratama.
Yogi menambahkan bahwa kerja sama antara akademisi dan TNI AU berakar pada komitmen bersama untuk merawat kesejahteraan dan keamanan masyarakat hingga ke pelosok desa. Namun, ia juga memberikan refleksi penting agar seluruh ikhtiar teknologi dan pembangunan ekonomi senantiasa diselaraskan dengan nilai-nilai spiritual serta keharmonisan alam.
“Sehebat apapun sistem keamanan digital yang kita ciptakan, secanggih apapun taktik electronic warfare yang kita pelajari hari ini, pada akhirnya kita disadarkan pada satu hakikat bahwa kita hanyalah manusia biasa. Semua ikhtiar pengamanan, teknologi, dan pembangunan ekonomi pada akhirnya bermuara pada restu, kuasa Tuhan, dan keselarasan kita dengan semesta,” pungkas Yogi.

Pelaksanaan kuliah dosen tamu tamu ini mendukung pencapaian SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan infrastruktur keamanan digital desa guna melindungi UMKM dan BUMDes dari potensi kerugian ekonomi akibat kejahatan siber. Selain itu, sinergi antara FEB UNS, TNI AU, dan pemerintah desa merupakan wujud nyata pencapaian SDGs 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam membangun kolaborasi lintas sektor demi pembangunan pedesaan yang inklusif dan berkelanjutan.