Kuliah Praktisi Perilaku Organisasional Kupas Sisi Terang dan Gelap Budaya Perusahaan di Industri Perbankan
Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menghadirkan praktisi berpengalaman dalam kegiatan Kuliah Praktisi Perilaku Organisasional bertajuk “The Bright and Dark Side of Corporate Culture: Perspective from the Banking Industry” Sabtu (27/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Joko P. Fitriyanto, Senior Manager Human Capital Bank Mandiri Region VII/Jawa 2, yang membagikan pengalaman dan perspektif mengenai penerapan budaya perusahaan di industri perbankan.

Mengawali pemaparannya, Joko menyampaikan apresiasinya kepada FEB UNS atas kesempatan yang diberikan untuk berbagi pengalaman praktis dari dunia kerja. Ia mengungkapkan harapannya agar di masa mendatang dapat bertemu langsung dengan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan serupa secara luring.
“Saya sangat senang bisa berbagi dalam kuliah praktisi ini. Harapan saya sebenarnya bisa menyampaikannya secara offline agar kita bisa mendapatkan vibes-nya. Insyaallah ke depan kita bisa dipertemukan secara langsung,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Joko menjelaskan bahwa budaya tidak hanya hadir dalam kehidupan sosial, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam sebuah organisasi. Menurutnya, budaya perusahaan mencakup aturan dan nilai yang mengatur interaksi antarkaryawan serta mendukung pencapaian tujuan bisnis organisasi.
“Budaya perusahaan ditetapkan sejalan dengan tujuan bisnis perusahaan dan diselaraskan dengan visi serta misinya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa di Bank Mandiri terdapat tiga fondasi utama dalam menjalankan budaya perusahaan, yakni Aku Tahu, Aku Mampu, dan Aku Mau. Ketiganya mendorong setiap insan perusahaan untuk memahami transformasi bisnis, menerapkan nilai-nilai perusahaan dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajak rekan kerja untuk konsisten menjalankan budaya perusahaan.
Lebih lanjut, Joko memaparkan konsep iceberg theory atau teori gunung es dalam budaya organisasi. Menurutnya, perilaku yang tampak di permukaan merupakan hasil dari sistem nilai, norma, dan pola pikir yang dibangun dalam organisasi.

“Yang terlihat dari luar adalah perilakunya, tetapi perilaku itu muncul dari nilai, norma, dan mindset yang ada di dalam organisasi,” ungkapnya.
Dalam konteks industri perbankan, Joko menegaskan bahwa budaya perusahaan tidak dapat dipisahkan dari strategi bisnis. Menurutnya, visi besar perusahaan hanya dapat dicapai apabila didukung oleh budaya kerja yang baik dan berintegritas.
“Tidak mungkin budaya perusahaan terpisah dengan strategi bisnisnya. Nilai budaya dan strategi bisnis harus berjalan seiring,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Joko juga mengulas transformasi budaya di Bank Mandiri sejak berdiri pada tahun 1998 melalui penggabungan empat bank nasional, yakni Bank Bumi Daya, Bank Exim, Bank Dagang Negara, dan Bank Pembangunan Indonesia. Pada masa awal pembentukan, Bank Mandiri mengusung nilai budaya TIPCE yang terdiri dari Trust, Integrity, Professionalism, Customer Focus, dan Excellence sebagai pedoman dalam berinteraksi dan bekerja.
Selain membahas budaya perusahaan, Joko turut menyoroti transformasi digital yang terjadi di industri perbankan. Menurutnya, digitalisasi telah mengubah berbagai proses kerja yang sebelumnya dilakukan secara manual menjadi berbasis sistem digital.
“Kami juga harus siap dengan adanya transformasi digital. Suka tidak suka, peran kami secara fisik berubah dan bergeser menjadi lebih dominan pada fungsi pemasaran dan pelayanan yang memberikan nilai tambah,” katanya.
Ia mencontohkan berbagai inovasi layanan perbankan yang kini semakin memudahkan nasabah, seperti transaksi tanpa kartu dan penggunaan QRIS yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di tengah tuntutan pencapaian target dan perubahan yang terus berlangsung, Joko menekankan pentingnya menciptakan kesejahteraan (well-being) bagi karyawan. Bank Mandiri, menurutnya, memberikan ruang bagi pegawai untuk tetap mengembangkan minat dan bakat di luar pekerjaan.
“Kami memberikan kesempatan teman-teman untuk tetap menyalurkan hobi dan bakatnya agar well-being tetap berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan juga menyediakan berbagai dukungan, mulai dari physical well-being, financial well-being, hingga social well-being bagi para pegawai.
Dalam sesi diskusi, Joko juga berbagi pengalaman pribadinya mengenai pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill. Ia mengungkapkan bahwa pengalaman bekerja sambil kuliah justru membantunya beradaptasi ketika memasuki dunia kerja.
“Hard skill penting, tetapi soft skill juga sangat dibutuhkan. Pengalaman berinteraksi dengan banyak orang membantu saya lebih mudah beradaptasi ketika masuk ke dunia kerja,” tuturnya.
Di akhir kegiatan, Joko menyampaikan komitmen Bank Mandiri untuk terus menjalin kolaborasi dengan FEB UNS, baik melalui kegiatan kuliah praktisi, program magang, maupun rekrutmen talenta muda.
“Ketika nanti ada informasi lowongan, silakan di-apply. Itu bagian dari pengalaman dan proses belajar. Alumni UNS juga banyak yang berkarier cukup tinggi di Bank Mandiri,” ungkapnya.
Ia juga mendorong mahasiswa yang mengikuti program magang untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya karena tidak sedikit peserta magang yang kemudian direkrut menjadi bagian dari Bank Mandiri.
Kuliah praktisi ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana budaya organisasi dibangun, dijalankan, dan ditransformasikan dalam industri perbankan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan mengenai pentingnya budaya perusahaan, kesiapan menghadapi transformasi digital, serta pengembangan kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia kerja.
Kegiatan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran berbasis praktisi dan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui penguatan kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja.