01 Jul 2026

Lab Bina Desa FEB UNS Bahas Potensi Kolaborasi Pembangunan Desa Berbasis Kearifan Lokal di NTT

Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Sharing Session Praktisi dan Akademisi secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (29/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Sinergi Pembangunan Desa: Menjejaki Kolaborasi, Isu Lokal, Potensi Riset, dan Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT)” ini menghadirkan akademisi sekaligus praktisi literasi pendidikan NTT, Karolus Banda Larantukan, S.Fil., M.Hum.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E.,Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas wilayah untuk memahami berbagai fenomena lokal yang berkembang di NTT.

Menurutnya, banyak kearifan lokal yang selama ini dianggap biasa oleh masyarakat setempat, namun sesungguhnya memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan desa.

“Kami meyakini bahwa ada hal-hal atau kearifan lokal yang bukan menjadi hambatan, tetapi justru sebuah peluang besar yang dapat mendorong kemajuan yang signifikan,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal terbentuknya kemitraan antara FEB UNS dan berbagai pihak di NTT, baik dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengabdian sosial.

“Antara lokalitas dan modernisasi, kita perlu mencari jalan tengah dan solusi bersama. Jika kemitraan ini berjalan secara sederhana tetapi tekun dan terus berdiskusi, saya meyakini perubahan itu dapat diwujudkan,” tambahnya.

Dalam paparannya, Karolus Banda Larantukan menjelaskan bahwa NTT memiliki karakteristik sebagai provinsi kepulauan dengan lebih dari 22 kabupaten dan kota serta kondisi geografis berupa lahan kering. Sebagian besar wilayah NTT mengalami musim kering hingga delapan bulan dalam setahun dan hanya sekitar empat bulan mengalami musim hujan. Kondisi tersebut berdampak pada produktivitas masyarakat, terutama di sektor pertanian.

Selain tantangan iklim, masyarakat NTT juga dihadapkan pada persoalan konektivitas logistik, keterbatasan infrastruktur dasar, serta akses modal yang masih rendah. Di sisi lain, NTT memiliki modal sosial yang kuat berupa adat istiadat dan budaya gotong royong yang di Flores Timur dikenal dengan istilah gemohing.

“Modal sosial yang paling besar di masyarakat NTT adalah adat dan gotong royong. Segala sesuatu dikerjakan bersama-sama tanpa memikirkan keuntungan finansial,” jelasnya.

Karolus juga menyoroti berbagai isu strategis di NTT, seperti kemiskinan dan stunting. Menurutnya, kedua isu tersebut masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan daerah, terutama karena penyebaran penduduk di wilayah kepulauan yang luas.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media melalui pendekatan pentahelix.

“Dibutuhkan jembatan antara teori akademik di ruang kelas dengan realitas empiris di lapangan. Kita memerlukan teori yang kontekstual dan mengakar pada persoalan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam sesi tersebut, Karolus juga memperkenalkan berbagai inisiatif pemberdayaan yang dilakukan melalui Komunitas Taman Baca Hutan 46 Waibalun, sebuah komunitas literasi yang didirikannya di Larantuka, Flores Timur. Komunitas ini bergerak dalam pengembangan literasi, dokumentasi sejarah lokal, serta transformasi kearifan lokal sebagai upaya membangun kemandirian masyarakat.

Selain itu, ia menjelaskan berbagai potensi yang dimiliki NTT, mulai dari model pertanian terintegrasi tanam jagung panen sapi, hingga potensi energi terbarukan berupa tenaga surya dan angin yang dinilai sangat besar untuk dikembangkan.

Karolus juga menawarkan sejumlah agenda riset kolaboratif yang dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi, di antaranya penelitian mengenai ekonomi desa dan BUMDes, intervensi stunting berbasis budaya, pengembangan pariwisata dan pertanian lokal, hingga harmonisasi antara hukum adat dan hukum positif.

Ia membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara FEB UNS dan Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL), baik melalui penelitian bersama, magang tematik, KKN kolaboratif, maupun program pemberdayaan berbasis kearifan lokal.

Diakhir paparannya, Karolus menegaskan bahwa pembangunan desa di NTT tidak dapat hanya mengandalkan transfer teknologi, tetapi harus dibangun melalui dialog antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal yang telah lama hidup di masyarakat.

“Sinergi pembangunan desa di NTT bukan sekadar transfer teknologi, melainkan dialog antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan yang telah menjaga tanah ini selama berabad-abad,” tegasnya.

Menutup kegiatan, Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro mengapresiasi terselenggaranya sharing session yang mengangkat tema-tema lokal dalam pembangunan desa. Menurutnya, diskusi semacam ini perlu terus dilakukan secara berkelanjutan dan dapat dikembangkan menjadi serial kajian lintas daerah.

“Tema-tema lokal seperti ini penting dikembangkan agar mahasiswa tidak hanya memahami isu ekonomi yang berkaitan dengan perbankan dan keuangan, tetapi juga persoalan sosial dan potensi lokal di masyarakat,” ujarnya.

Prof. Bhimo juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber, Laboratorium Bina Desa, serta seluruh peserta yang hadir dan berharap konsistensi dalam membangun ruang diskusi dan kolaborasi terus terjaga.

Versi ini tetap sesuai dengan narasi asli, tetapi lebih ringkas dan cocok dimasukkan ke dalam press release website fakultas.

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS berharap dapat memperkuat jejaring kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan komunitas lokal untuk menghasilkan riset dan program pemberdayaan yang lebih kontekstual serta berdampak bagi pembangunan desa di Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).