01 Jul 2026

Sharing Session Laboratorium Bina Desa FEB UNS Angkat Potensi Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni Maluku

Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Sharing Session bertajuk “Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni di Maluku: Sinergi Praktisi dan Akademisi Berbasis Kearifan Lokal” secara daring melalui Zoom Meeting  Selasa (30/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pembina Yayasan Kopi Maluku sekaligus Ketua Pengawas Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Yulius Wibowo, dan Ketua Pengurus Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Andre W.A. Sopolatu.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang diselenggarakan Laboratorium Bina Desa dan Research Group (RG) Ekonomi Kerakyatan FEB UNS untuk mengangkat potensi ekonomi lokal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya kawasan timur Indonesia.

Dalam pengantarnya, Yogi memaparkan hasil kajian awal mengenai sejarah dan potensi ekonomi kopi di Maluku. Menurutnya, kopi tuni merupakan komoditas bersejarah yang telah dibudidayakan di Maluku sejak abad ke-17 dan memiliki potensi ekonomi yang besar.

“Nilai ekspor kopi cukup tinggi, namun masyarakat di Maluku masih menangkap sebagian kecil dari nilai rantai pasok tersebut. Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Pada sesi materi, Yulius Wibowo mengisahkan bahwa ketertarikannya terhadap kopi tuni bermula ketika ia mencoba kopi asal Maluku dan menemukan cita rasa yang unik. Pengalamannya berkeliling di berbagai wilayah Maluku membuatnya meyakini bahwa kopi tuni merupakan tanaman endemik yang telah lama tumbuh dan dikenal oleh masyarakat setempat.

Ia menjelaskan bahwa kopi tuni memiliki karakteristik yang khas karena setiap kampung menghasilkan cita rasa yang berbeda. Keunikan tersebut dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan pola tanam berbasis agroforestri dengan tanaman pendamping seperti durian, cengkeh, maupun kakao.

“Tidak ada dua kampung yang memiliki cita rasa kopi yang sama. Kami ingin setiap negeri memiliki kebanggaan terhadap kopi yang ditanam di wilayahnya masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Yulius, rendahnya harga kopi di tingkat petani pada masa lalu menyebabkan kopi tuni hampir punah karena banyak petani beralih ke komoditas lain. Kondisi tersebut mendorong lahirnya Yayasan Kopi Maluku pada tahun 2018 yang kemudian menyusun grand design pengembangan kopi tuni dari hulu hingga hilir, termasuk pembentukan Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku.

Selain itu, Yayasan Kopi Maluku juga tengah mempersiapkan pendirian Sekolah Kopi Maluku sebagai wadah pendidikan dan peningkatan kapasitas bagi para petani kopi.

Sementara itu, Ketua Pengurus Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Andre W.A. Sopolatu, menjelaskan bahwa koperasi dibentuk untuk menciptakan tata kelola yang lebih berkeadilan bagi petani. Melalui pendampingan dan sistem pembelian yang lebih baik, harga kopi yang diterima petani mengalami peningkatan signifikan.

“Dalam sistem koperasi, kami mengutamakan keadilan bagi anggota dan mendorong petani untuk terus membudidayakan kembali kopi tuni di Maluku,” jelasnya.

Ia menambahkan, koperasi juga memberikan edukasi kepada petani mengenai teknik budidaya, panen, hingga pascapanen agar kualitas kopi yang dihasilkan semakin baik. Pendampingan dilakukan melalui jaringan koordinator di berbagai wilayah di Maluku, termasuk daerah pegunungan dan kepulauan.

Menurut Andre, kopi tuni Maluku saat ini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah diperkenalkan di pasar internasional. Pada tahun 2021, kopi tuni hadir dalam festival kopi di Athena, Yunani, dan kini telah dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Belanda, Amerika Serikat, Swiss, Jepang, dan Korea Selatan.

Meski demikian, keterbatasan bahan baku serta tantangan akses transportasi di wilayah kepulauan masih menjadi kendala dalam pengembangan kopi tuni Maluku.

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS berharap sinergi antara akademisi dan praktisi dapat terus diperkuat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa berbasis potensi lokal dan kearifan setempat, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola komoditas yang lebih berkeadilan bagi petani.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.