08 Mar 2021

FEB UNS Sosialisasikan Matching Fund

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan Sosialisasi dan Strategi Menyusun Matching Fund yang digelar secara daring,  Rabu, 10 Februari 2021.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 70 peserta menghadirkan dua narasumber, Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT,  Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS dan Prof. Dr. Rahmawati, M.Si., Ak, Kepala Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) FEB UNS.

Dekan FEB UNS,  Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons)., Ph.D, Ak. dalam sambutannya mengatakan di awal tahun 2020,  pemerintah mengeluarkan kebijakan mengenai Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Kebijakan ini sebenarnya ingin mendekatkan atau mengintegrasikan dunia kampus dengan dunia industri. Desain Kurikulum MBKM diantaranya mahasiswa boleh memilih selama satu semester di luar prodi di satu perguruan tinggi dan  dua semester di luar perguruan tinggi.

Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com. (Hons)., Ph.D, Ak, Dekan FEB UNS

Awal tahun 2021,  pemerintah meluncurkan Matching Fund yang besarnya Rp 250 Miliar untuk seluruh perguruan tinggi yang merupakan insentif untuk mengintegrasikan lebih lanjut kebijakan  Merdeka Belajar.  Diharapkan dengan adanya insentif ini, kampus akan memberikan kebermanfatan bagi industri dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Prof. Rahmawati, Kaprodi PDIE yang telah memulai langkah lebih awal di program Matching Fund  dalam presentasinya mengatakan, program ini untuk mengakselerasi penerapan Merdeka Belajar yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa, utamanya yang  S-1, namun untuk mahasiswa program pascasarjana  juga dapat ikut.  Program ini berjalan selama 2 tahun dan khusus pendanaannya di tahun berikutnya dievaluasi dulu dari tahun pertama.

“Silahkan pelajari Panduan Matching Fund dan juga contoh proposal yang telah kami susun bersama tim. Setiap perguruan tinggi boleh mengusulkan lebih dari satu proposal.  Pola kemitraannya bisa satu perguruan tinggi dengan satu dunia usaha dan industri (DUDI),  bisa satu perguruan tinggi dengan beberapa DUDI, beberapa perguruan tinggi dengan satu DUDI atau beberapa   perguruan tinggi dengan beberapa DUDI” paparnya.

Lebih lanjut, Prof. Rahma menjelaskan secara detil teknik penyusunan proposal kepada peserta sosialisasi daring.

Sementara itu, Prof. Kuncoro memulai dengan bahasan Kedaireka, katalog inovasi produk yang bisa diakses publik. Kedaireka semacam ‘rumah pernikahan’ antara perguruan tinggi dan industri. Industri memiliki pilihan solusi terbaik dari 4700 kampus di Indonesia. Sedangkan Matching fund adalah salah satu dari program Kedaireka.

Lebih lanjut dikatakan, Kedaireka bersifat open hingga sekitar pertengahan Juni 2021. Proses seleksinya akan melalui  3 tahap,  seleksi tahap awal sekitar minggu ketiga atau 4 bulan Februari, tahap kedua sekitar April, dan tahap ketiga sekitar bulan Juni.

“Yang paling mudah dilakukan adalah mari kita cari mitra kita, DUDI dalam konteks luas, misalnya desa yang terintegrasi dengan UKMnya, Pemda atau dunia industri riil berskala besar maupun UKM. Untuk mematching-kan, kita tanyakan apakah program mitra kita di tahun 2021, bagaimana ploting anggarannya. Nantinya, anggaran mitra tetap berjalan sebagai pendamping, lalu kita menambahkan sejumlah anggaran yang sama dengan mengagendakan kegiatannya menjadi lebih besar dan lebih bermanfaat. Kira-kira begitu konsep Kedaireka” jelas Prof. Kuncoro

Prof. Dr. Kuncoro Diharjo, ST, MT,  Wakil Rektor Riset dan Inovasi UNS

Prof. Kuncoro mengingatkan, dalam konsep kedaireka,  problem riil yang ada adalah problem yang ada di DIDU dan para akademisi masuk untuk membantu menyelesaikan. Jangan sampai masyarakat kita bawa sesuai dengan keinginan kita. Intinya ketika kita akan menggandeng mitra, sampaikan apa permasalahan mereka dan apa yang bisa kita  bantu.

Kedua narasumber mendorong dosen dan mahasiswa untuk mulai bergerak menyusun proposal berdasarkan panduan. Dan yang penting juga adalah timnya adalah multidisiplin sehingga menunjukkan adanya kerjasama. (Humas FEB)