08 Mar 2021

Menulis Artikel Populer, Susahkah?

Seorang fakih bisa mendekati Allah dengan ibadahnya, seorang seniman bisa mendekati Allah dengan dengan karya seninya dan seorang penulis bisa mendekati Allah dengan tulisannya.

Pernyataan K.H. Abdurrahman Wahid itu dikutip Riwi Sumantyo, SE, M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) mengawali presentasinya saat menjadi narasumber Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa yang digelar FEB UNS secara daring, Kamis 11 Februari 2021.

Kutipan itu diartikannya, proses menulis bukan sebuah obsesi yang sepele, namun sebuah proses yang perlu kontemplasi yang mendalam, bukan tidak mungkin jika dilakukan dengan passion yang sungguh-sungguh akan memberikan kemanfaatan yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan terutama bagi orang banyak.

Selanjutnya,  Dosen yang aktif menulis di media massa itu mengatakan bahwa menulis itu penting, menggambarkan kemampuan atau kompetensi seseorang,  dan juga merupakan ciri-ciri seseorang yang peka atau aware terhadap masalah yang sedang terjadi, bukan apatis, ada sesuatu yang perlu dicermati dan disampaikan dengan opini atau pendapatnya serta memberikan alternatif solusi. Menulis juga memberikan nilai tambah bagi pribadi penulis.

Menurutnya, artikel populer di media massa merupakan buah fikir dari penulis, berisi permasalahan aktual dan pemecahannya dan bukan merupakan imajinasi. Meskipun demikian, terkadang ada tulisan yang tidak melulu menyajikan fakta-fakta yang ada tapi merupakan imajinasi atau hayalan penulisnya. Namun secara umum penulis menuangkan idenya berdasarkan fakta-fakta dan bahkan terkadang perlu melakukan riset kecil-kecilan.

Penulis harus memiliki bekal  referensi dan  pengalaman terhadap sesuatu yang ingin ditulis. Penulis juga harus memiliki inspirasi dan motivasi serta memiliki kemampuan merangkai kata dengan bahasa yang benar dan menarik. Selain itu, juga mampu memberikan argumentasi dan menawarkan solusi dan konsep yang berisi pilihan-pilihan.

Dihadapan lebih dari 80 peserta pelatihan, Riwi menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan penulis ketika menyusun artikel populer di media massa. Yang utama adalah tulisan harus aktual, dikaitkan dengan momentum yang tengah terjadi di masyarakat.

“Menulis artikel populer tidak susah. Permasalahan disekitar kitapun sangat banyak untuk digunakan sebagai bahan tulisan. Mulailah menulis, gunakan waktu sebaiknya-baiknya. Saat ini referensi sangat berlimpah tersedia, berbeda dengan dulu yang perlu usaha keras untuk mendapatkan referensi. Dan di media mainstream ada rubrik khusus untuk menuangkan opini atau gagasan. Terlebih untuk media online ruangnya lebih sangat terbuka luas. Bagi yang terbiasa menulis di blog dan media sosial lain hanya tinggal sedikit mengasah tulisan itu menjadi tulisan populer yang layak di media massa” dorong Riwi yang sejak mahasiswa terobsesi menjadi seorang penulis media massa.

Riwi Sumantyo, SE, M.Si., Dosen FEB UNS

Perlu diperhatikan pula, menulis artikel populer di media masa sangat berbeda dengan menulis artikel ilmiah (skripsi atau artikel jurnal). Karena pangsa pasarnya adalah masyarakat luas, maka tulisan harus dengan bahasa yang menarik, lugas dan tidak bertele-tele, jika perlu data, disampaikan sedikit untuk mengantarkan namun fokusnya pada pandangan penulis tentang fenomena yang terjadi dan pemecahannya. Berbeda dengan artikel ilmiah yang pangsa pasarnya adalah kalangan akademisi.

Orisinalitas dan kebaruan tulisan juga penting, apalagi jika kita berniat mengirimkan tulisan ke media mainstream yang tingkat kompetensinya tinggi sekali. Kolom di media sangat terbatas dan  artikel yang masuk dalam sehari mungkin ribuan, sangat selektif ketat ketika mengeluarkan tulisan di media mereka.

“Menulis akan terasa mudah jika kita tidak terikat pada gaya tulisan seseorang, apa yang ingin kita tulis, tulis saja, kapanpun dan dimana saja dan juga kirimkan ke media massa agar apa yang kita tulis memberikan kemanfaatan kepada masyarakat luas ” ungkapnya diakhir paparannya.

Sementara itu, narasumber lain, Prof. Agus Kristiyanto, M.Pd.,  Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana  menegaskan bahwa memproduksi artikel opini itu tidak sulit.

Prof. Agus Kristiyanto, M.Pd.,  Wakil Dekan Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Sekolah Pascasarjana

Selanjutnya disampaikan, sebuah tulisan opini yang standar ditulis dalam rentang 650 hingga 900 kata. Judul berbentuk frasa yang “bermagnet” seperti judul dari paparan Bapak Riwi, Menulis dan Impian Merubah Dunia. Narasi  di paragraf awal yang menarik, aktual dan ada sudut pandang konflik yang membutuhkan solusi.

Isi gagasan berupa pengembangan ide sistematis yang jelas dan sederhana dan arah gagasan memberikan jawaban pertanyaan publik dan memicu pertanyaan produktif baru yang terbarukan. Dan kesimpulan di akhir tulisan harus jelas dan tegas karena biasanya yang melekat di pembaca adalah kata kunci pernyataan di akhir tulisan.

Ketika ditanya kiat khusus menulis artikel, Prof. Agus menjawab simpel yakni mencoba memulai, memulai dan memulai. Jangan pernah berhenti untuk selalu memulai.  (Humas FEB).