13 Agu 2020

Webinar Prodi MM dan MESP Bahas Ekonomika Eksperimen

Program Studi Magister Manajemen dan Magister Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UNS) menggelar Webinar Behavioral Economics, Fondasi dan Arah Pengembangan Penelitian Ekonomi Keperilakuan, Sabtu 27 Juni 2020.

Kegiatan diikuti oleh mahasiswa program pascasarjana dengan menghadirkan narasumber Rimawan Pradiptyo, SE, M.SC. Ph. D dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

Dalam paparannya, Rimawan Pradiptyo yang menyebut Behavioral Economics dengan Ekonomika Eksperimen (EE) menjelaskan bahwa EE merupakan cabang ilmu ekonomi yang menggunakan metoda eksperimen untuk mempelajari bagaimana manusia mengambil keputusan ekonomi, baik secara mandiri maupun secara interaktif.

Sebagian besar studi EE bertujuan untuk menguji teori ekonomi dan dilakukan di lingkungan yang mudah terkontrol (laboratorium). Hampir semua asumsi dalam teori ekonomi bisa dipenuhi di laboratorium.

Dalam perkembangannya, EE dilakukan diluar laboratorium, yaitu sebagai field experiment yang menggunakan metoda randomised control trial (RCT).  RCT adalah tulang punggung analisis impact evaluation. Perkembangan selanjutnya,  EE digunakan untuk merumuskan kebijakan.

Menurutnya, konsep rasionalitas di teori ekonomi cenderung memandang manusia tidak lebih dari sebuah robot yang  mengikuti program tertentu yang diinstal kepadanya. Manusia dalam teori ekonomi diasumsikan memiliki preferensi terhadap barang/ jasa/ prospek dengan ordering yang jelas dan manusia diasumsikan konsisten mengikuti preferensi tersebut. Faktanya manusia bukan robot yang memiliki keterbatasan kemampuan kognitif, memiliki  konsistensi preferensi yang sulit dipenuhi,  dan manusia secara sistematis melakukan kesalahan-kesalahan dalam pengambilan keputusan.

Salah satu manfaat EE adalah untuk menguji kesahihan teori-teori ekonomi dalam lingkungan yang mudah terkontrol.

Keunggulan lab eksperimen dapat digunakan untuk studi yang bersifat prospective (belum pernah terjadi) dan retrospektf. Lab eksperimen dapat digunakan sebagai “win tunnel” suatu kebijakan terutama untuk mengantisipasi hal yang belum terpikirkan dampaknya oleh peneliti. Beberapa tema yang terkait dengan Indonesia misalnya redenominasi, skema kompensasi untuk penurunan subsidi BBM dan perubahan nilai tanggungan simpanan nasabah dan lain-lain.

Sedangkan kelemahan lab eksperimen cenderung kurang realistis sehingga subyek berpotensi kurang serius dalam mengambil keputusan (main-main), untuk riset dengan tujuan menguji teori maka ketidakrealistisan setting tidak menjadi masalah mengingat sebagian besar teori ekonomi memiliki banyak asumsi yang seringkali juga tidak realistis. Dan masalah muncul ketika studi bertujuan untuk menformulasikan kebijakan. Pada titik ini desain eksperimen perlu lebih membumi dan mencerminkan situasi nyata.  (Humas)

Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.