06 Okt 2026

Working Paper Forum P4M FEB UNS Bahas Trade-Off pada Green Microfinance Institutions

Pusat Pengembangan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Working Paper Forum (WPF), Jumat, 25 September 2026.

Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom ini mengangkat tema “The Trade-Off in Green Microfinance Institutions” dan diikuti sivitas akademika FEB UNS, termasuk dosen, peneliti, serta mahasiswa.

Ketua P4M FEB UNS, Dr. Wahyu Widarjo, S.E., M.Si. dalam sambutannya menyampaikan bahwa WPF merupakan kegiatan rutin bulanan P4M FEB UNS yang menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman penelitian.

Dr. Wahyu juga menyampaikan apresiasi kepada Putra Pamungkas yang berkenan membagikan riset yang sedang dikembangkan bersama Research Group (RG) Governance and Corporate Finance. Ia berharap forum tersebut dapat memberikan inspirasi bagi sivitas akademika sekaligus mendorong semangat melakukan riset, menulis, dan menghasilkan publikasi ilmiah.

“Semoga dapat menginspirasi kita semua dan nanti atmosfer akademik di FEB UNS harapannya akan semakin bagus. Semangat untuk menulis, semangat untuk riset dan publikasi dapat meningkat,” ujarnya.

Pada sesi utama, Putra Pamungkas, S.E., M.Rech., Ph.D., memaparkan riset berjudul “The Trade-Off in Green Microfinance Institutions: Does Level of Islamic Finance Development Matters?”. Ia menjelaskan bahwa riset tersebut merupakan bagian dari kajian Research Group Governance and Corporate Finance FEB UNS.

Putra mengawali paparannya dengan menjelaskan peran microfinance institutions (MFI) dalam mendukung inklusi keuangan dan pengentasan kemiskinan, khususnya melalui penyaluran pembiayaan kepada masyarakat yang belum mampu mencapai kemandirian ekonomi. Dalam praktiknya, MFI memiliki dua tujuan utama, yaitu keberlanjutan finansial dan manfaat sosial yang dikenal sebagai double bottom line.

Seiring meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan, konsep tersebut kemudian berkembang dengan memasukkan dimensi keberlanjutan lingkungan. Konsep green microfinance institutions (Green MFI) mengintegrasikan aspek finansial, sosial, dan lingkungan yang dikenal sebagai triple bottom line: profit, people, dan planet.

Dalam risetnya, Putra juga mengaitkan konsep Green MFI dengan perspektif keuangan Islam. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif tersebut, manusia dipandang sebagai khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi. Konsep fikih ekologi menjadi salah satu landasan yang menghubungkan tanggung jawab keagamaan dengan etika lingkungan.

Pembahasan kemudian diarahkan pada peran Islamic Financial Development Index (IFDI) dalam perkembangan Green MFI.

Menurut Putra, tingkat perkembangan keuangan Islam yang lebih tinggi berpotensi mendukung pembiayaan hijau melalui instrumen seperti Green Sukuk dan dana sosial Islam. Namun, efektivitas hubungan tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut.

Putra juga menjelaskan bahwa Green MFI dapat mendorong praktik berkelanjutan, antara lain melalui pembiayaan energi terbarukan, pertanian berkelanjutan, dan kewirausahaan yang ramah lingkungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Di sisi lain, pengembangan Green MFI masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan kebijakan lingkungan, pendanaan, serta disparitas antarwilayah.

Berangkat dari kajian tersebut, riset ini mengangkat pertanyaan mengenai ada tidaknya trade-off antara kinerja finansial dan kinerja sosial pada Green MFI. Fokus berikutnya adalah melihat apakah tingkat perkembangan keuangan Islam turut memengaruhi trade-off tersebut.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian, studi ini menggunakan data microfinance dari 78 negara yang diperoleh dari World Bank. Pengukuran kinerja finansial dalam penelitian antara lain menggunakan Return on Assets (ROA) dan Operational Self-Sufficiency (OSS).

Working Paper Forum selanjutnya menjadi ruang diskusi bagi peserta untuk memberikan masukan terhadap riset yang dipaparkan. Melalui forum ini, P4M FEB UNS terus mendorong terbentuknya atmosfer akademik yang kolaboratif dan produktif melalui kegiatan berbagi pengetahuan, pengembangan riset, serta diskusi ilmiah.

Kegiatan ini mendukung SDGs 8: Decent Work and Economic Growth melalui pengembangan kajian inklusi keuangan dan pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta SDGs 13: Climate Action melalui pembahasan pembiayaan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.