22 Agu 2026

Working Paper Forum P4M Bahas Pengaruh Sustainability Uncertainty Terhadap Imbal Hasil Obligasi Negara

Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Research Group (RG) Monetary and Fiscal Studies menggelar kegiatan Working Paper Forum secara daring via Zoom Meeting, Jumat (21/8).

Forum ini menjadi wadah rutin bagi para dosen, peneliti, hingga mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3) untuk saling bertukar gagasan, mendiskusikan temuan riset, serta menjaring masukan demi meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.

Dalam sambutannya, Ketua P4M, Dr. Wahyu Widarjo, S.E., M.Si., menyampaikan pentingnya wadah ini sebagai sarana ilmiah yang rutin disiapkan fakultas untuk terus menjaga kualitas karya akademis.

“Working Paper Forum ini merupakan salah satu ruang akademik yang disiapkan untuk kita saling berdiskusi secara ilmiah. Penelitian itu sepertinya tidak ada yang sempurna. Meskipun menurut kita sudah sangat bagus atau bahkan sudah terpublikasi, tentu masih butuh masukan dari Bapak/Ibu semua untuk meningkatkan kualitasnya,” ungkap Dr. Wahyu Widarjo.

Hal senada ditegaskan oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset, dan Kemahasiswaan FEB UNS, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., yang menggarisbawahi pentingnya pendekatan interdisiplin dalam riset tingkat lanjut serta pemanfaatan forum ilmiah sebagai ruang diskusi yang kaya wawasan.

“Salah satu yang mendasar dari kualitas riset S1 hingga S3 adalah adanya novelty dan pendekatan yang semakin interdisipliner. Melalui forum ini, para peneliti bisa mendapatkan masukan, sementara rekan-rekan mahasiswa pascasarjana memperoleh wawasan baru dari berbagai sudut pandang,” tutur Prof. Tri.

Sesi pemaparan materi menghadirkan akademisi dari RG Monetary and Fiscal Studies sekaligus Kepala Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan FEB UNS, Muhammad Yusuf Indra Purnama, S.E., M.Rech., Ph.D.

Ia membedah draft awal penelitiannya yang disusun bersama mahasiswa bertajuk “Sustainability Uncertainty and Sovereign Bond Yield: Asymmetric Evidence from Selected Countries”.

Dr. Indra menyambut terbuka setiap tanggapan dari para peserta untuk menyempurnakan penelitiannya sebelum siap didiseminasikan dan dipublikasikan.

“Semangat dari forum ini adalah kami berharap banyak sekali masukan dari Bapak-Ibu sekalian. Tentu, coba saya presentasikan ini masih banyak sekali celah dan ruang untuk improvement-nya. Jadi, saya harapkan ini juga menjadi ruangan kami untuk kemudian memperbaiki draf penelitian ini,” ujar Dr. Indra.

Dalam pemaparannya, Dr. Indra menjelaskan fokus risetnya pada indikator Sustainability Uncertainty atau ESG Uncertainty Index (ESG UI) dan dampaknya terhadap imbal hasil obligasi negara (sovereign bond yield). Ia menekankan perbedaan mendasar antara indikator ketidakpastian ini dengan kinerja ESG (ESG Performance).

“Kalau kita membedakan apa bedanya ESG performance dengan ESG uncertainty, maka ESG performance itu bicara lebih kepada seberapa sustainable sebuah lingkungan atau negara. Sementara ESG uncertainty lebih mendiskusikan seberapa tidak stabilnya lingkungan dalam sebuah negara, yang meng-capture tiga hal: policy uncertainty, risiko transisi & fiskal, serta risiko nilai aset jangka panjang,” jelasnya.

Penelitian ini menggunakan data bulanan periode 2012–2021 dari 13 negara (8 negara maju dan 5 negara berkembang) mencakup tiga level maturitas obligasi (1, 5, dan 10 tahun). Model analisis ini juga menguji dua kerangka teori pasar (Risk Premium Channel vs Flight to Safety Channel) dengan memasukkan variabel kontrol Geopolitical Risk (GPR), Economic Policy Uncertainty (EPU), serta indikator makroekonomi seperti suku bunga, inflasi, dan nilai tukar.

Berdasarkan temuan awal (baseline result) menggunakan metode Fixed Effect, variabel Geopolitical Risk (GPR) terbukti mendominasi pergerakan imbal hasil obligasi, sedangkan variabel ESG Uncertainty belum terlihat signifikan secara rata-rata. Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan dengan uji heterogenitas (Quantile Regression) untuk melihat efek asimetris berdasarkan perbedaan karakteristik negara (maju vs berkembang), level maturitas, dan rezim imbal hasil ekstrem.

Dipandu oleh Mokhtat Fazli (Ketua Himpunan Mahasiswa PDIE) selaku moderator, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang hangat bersama para dosen senior dan peserta yang hadir.

Topik penelitian Sustainability Uncertainty mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui analisis risiko transisi kebijakan lingkungan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi dengan upaya menjaga stabilitas pasar keuangan dan instrumen pembiayaan fiskal, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan iklim riset kolaboratif antardisiplin ilmu di lingkungan civitas akademika.