11 Sep 2026

Perdana! FEB UNS Gelar Summer School Program, Advancing the Circular Economy

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) meluncurkan program Summer School untuk pertama kalinya yang bertajuk “Advancing the Circular Economy: Best Practices in Multinational Corporations and SMEs”.

Kegiatan internasional perdana berdurasi tiga hari ini berlangsung pada 2–4 September 2026 diikuti oleh 17 peserta on-site, mahasiswa internasional dan nasional dari berbagai perguruan tinggi.

Dalam sambutannya, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D. menyampaikan kegembiraannya atas dimulainya program perintis ini dan besar harapannya terhadap hasil dari program ini.

“Jadi ini adalah program summer school pertama yang diselenggarakan oleh FEB UNS. Harapannya, melalui kegiatan ini kita dapat memperkuat atau setidaknya mengawali bagaimana mengintegrasikan antara aktivitas usaha kecil dengan konsep baru ekonomi sirkular,” ungkap Prof. Tri.

Senada dengan hal tersebut, Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si, Ph.D., mengapresiasi kehadiran para peserta dan pentingnya forum ini.

“Kehadiran Anda dalam Summer School Program ini merupakan wadah yang sangat bermakna untuk pertukaran akademis, pemahaman budaya, dan juga kolaborasi internasional. Kegiatan ini lebih dari sekadar aktivitas akademis,” tegas Dekan FEB UNS.

Rangkaian kegiatan Summer School ini dirancang komprehensif melalui kombinasi pembelajaran kelas, studi lapangan, dan pengenalan budaya.

Pada hari pertama, peserta menerima materi konsep dasar ekonomi sirkular dari pakar rantai pasok FEB UGM, Luluk Lusiantoro, Ph.D., serta pemaparan praktik di skala perusahaan multinasional oleh Danil Abimanyu Subagyo dari PT Tirta Investama (AQUA Klaten).

Pada hari kedua dan ketiga, peserta diajak mengamati langsung implementasi ekonomi sirkular di lapangan, mulai dari sektor agribisnis dan pertanian di Desa Wisata & Smart Green Village Banyuanyar, Boyolali, hingga pemanfaatan daur ulang limbah plastik pada UMKM “Rajut Apik” di Jagalan, Surakarta.

Rangkaian acara perdana ini diakhiri dengan kegiatan kebudayaan berupa Lokakarya Gamelan Jawa bersama PUI Javanologi UNS.

Kunjungan ke industri rumahan Rajut Apik memberikan wawasan mendalam bagi para peserta. Prof. Tri Mulyaningsih menilai praktik ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan (mutual) dan memberikan wawasan penting di tengah persoalan lokal.

“Topik ini sangat esensial saat ini, terutama kita tahu apa yang terjadi di Solo bahwa kita memiliki krisis sampah. Kontribusi yang telah dilakukan selama 9 tahun terakhir memiliki dampak nyata bagi lingkungan. Hal paling penting adalah cara mengubah perspektif kita dan memberikan inspirasi bagi para mahasiswa,” jelas Prof. Tri.

Pemilik Rajut Apik, Asih, juga menyampaikan rasa syukurnya atas kunjungan ini. “Ini adalah kesempatan besar bagi kami untuk dapat menyebarkan pengetahuan, tidak hanya untuk lingkungan sekitar kami, tetapi dari berbagai latar belakang dan negara lain juga. Ini adalah sebuah keberkahan bagi kami,” tuturnya.

Inisiatif ini mendapat apresiasi tinggi dari para peserta internasional. Dasrath Rai Meghwar (Mahasiswa Magister asal Pakistan di Universitas Islam Internasional Indonesia) menyampaikan bahwa pengalaman hari ini sangat luar biasa. Kami mempelajari bahwa seberapapun limbah yang kita buang, sebenarnya bukanlah limbah, melainkan dapat diproduksi menjadi produk yang lebih baik jika didaur ulang. Pengurangan limbah adalah solusi terbaik untuk ekonomi sirkular dan penanganan perubahan iklim. Bisnis kecil dan menengah yang mengumpulkan limbah plastik, polietilena, hingga kain pakaian untuk dijadikan produk baru seperti dompet merupakan inisiatif yang sangat produktif.

Sementara itu, Mamudou Bah (Mahasiswa asal Gambia di Universitas Muhammadiyah Surakarta mengatakan: “Ini bagian dari pengalaman terbaik saya sebagai mahasiswa. Karena tantangan limbah plastik ada di seluruh dunia, pengalaman mengolah produk limbah menjadi barang berguna seperti tas dan dompet merupakan bentuk perlindungan lingkungan yang sangat baik. Proses pembuatannya pun sangat mudah, hanya menggunakan setrika dan alat sederhana. Saya berharap setiap peserta dapat mempraktikkannya di rumah,” jelasnya.

Wan Muhammad Nursalam Bin Wan Roslan, Mahasiswa dari Universitas Malaysia Sarawak sangat mengapresiasi usaha dan energi yang dicurahkan untuk membuat kerajinan tangan dari limbah ini. Ini sangat berhubungan dengan konsep keseluruhan Summer Course, yaitu ekonomi sirkular—bagaimana mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermakna, tidak hanya menjadi produk, tetapi juga melalui pengalaman membuat kerajinan tangan itu sendiri.

Penyelenggaraan Summer School pertama ini diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan bagi FEB UNS dalam memperkuat kolaborasi akademis internasional, memperluas pemahaman ekonomi sirkular, serta mendukung tercapainya target-target SDGs khususnya SDG 4, SDG 8, SDG 12, dan SDG 17.