04 Agu 2021

Webinar PDIE Bahas Paradigma Riset Kualitatif

Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menggelar webinar dengan tema Paradigma Riset Kualitatif dengan narasumber Prof. Dr. Iwan Tri Yuwono dari Universitas Brawijaya, Rabu, 26 Mei 2021.

Prof. Iwan menfokuskan pada pembahasan dua paradigma dalam riset penelitian kualitatif yaitu paradigma interpretivis dan posmodernis. Desain penelitian paradigma interpretivis meliputi desain fenomenologi, etnografi, etnometodologi, hermenetika, narasi, histori, dan grounded theory.

Desain etnometodologi di paradigma interpretivis menjadi bahasan yang diangkat dalam webinar yang diikuti hampir 100 orang peserta.

Etnometodologi merupakan studi tentang bagaimana masyarakat menggunakan metode-metode tertentu dalam menjalani kehidupan sosialnya. Didalam etnometodologi ada konsep indexicality dan reflexivity sebagai alat analisis.

Menurut Prof. Iwan di dalam etnometodologi, yang diteliti adalah pemahaman masyarakat, bukan atas dasar pemahaman peneliti. Peneliti tidak boleh memaksakan pikirannya kepada orang yang ditelitinya. Bagaimana orang-orang memaknai simbol-simbol yang mereka temukan versi mereka sendiri, bukan versi peneliti. Ini yang penting dalam paradigma interpretivis, bagaimana kita memahami orang lain.

Disampaikannya, dalam penelitian non positivis tidak menghendaki adanya generalisasi dari hasil penelitian.

“Jika kita melakukan penelitian, hasilnya spesifik dimana kita melakukan penelitian itu, misal di PT X, hasilnya tidak digeneralisasikan untuk PT yang lain karena memang penelitiannya spesifik. Tapi tidak menutup kemungkinan bisa dipakai di PT Y dengan melakukan adaptasi karakter model yang kita temukan di PT X. Model dasar sudah ada, tapi untuk aspek lain harus disesuaikan dengan kondisi di perusahaan lainnya” ungkapnya.

Desain etnometodologi meliputi pertanyaan penelitian, situs penelitian, metode koleksi data serta metode dan alat analisis data.

Contoh pertanyaan untuk penelitian etnometodologi yaitu “Bagaimana cara mempraktikkan tanggung jawab sosial PT X dengan kerangka analisis etnometodologi?” dan contoh tujuan penelitian “Membangun konsep metode mempratikkan tanggung jawab sosial pada PT X dengan metode etnometodologi”

Sepanjang pertanyaan penelitian menanyakan  cara bagaimana suatu komunitas mempraktikkan sesuatu maka termasuk ke dalam penelitian etnometodologi.

“Di paradigma etnometodologi cukup satu pertanyaan saja karena penelitiannya sangat mendalam dan bisa mendapatkan konsep yang bisa dipakai peneliti. Berbeda dengan penelitian di paradigma positivis yang pertanyaannya bisa mencapai 10 hingga 15 pertanyaan tergantung dari banyaknya variabel” ungkapnya.

Situs penelitian meliputi komunitas masyarakat tertentu secara aktif mempraktikkan budaya dalam kehidupan sehari-hari.  Komunitas bisa berarti perusahaan dengan stakeholdernya, organisasi nir-laba dengan stakeholdernya, perguruan tinggi, rumah tangga, accounting firm dan stakeholdernya ataupun masyarakat kota, desa, RW dan RT.

Dalam pembahasan berikutnya, Prof. Iwan menjelaskan bahwa paradigma posmodernis mengkombinasikan antara sesuatu yang sudah ada dengan yang lain, misal dengan budaya. Contoh pertanyaan penelitian posmodernis, “Bagaimana praktik perolehan laba pada PT X dengan pendekatan kombinasi etnometodologi dan hamemayu hayuning bawana?”. Tujuannya membangun konsep metode perolehan laba pada PT X yang dapat membahagiakan manusia dan alam. Judul Penelitian:  “Hamemayu Hayuning Bawana sebagai Metode Perolehan Laba pada PT X untuk Kebahagiaan Manusia dan Alam dengan Paradigma Posmodernis.” Untuk paradigma ini, dapat pula dikombinasikan dengan agama.

Berbeda dengan paradigma interpretivis, dalam  paradigma posmodernis bisa menggunakan pemikiran kita sebagai peneliti. (Humas FEB).