21 Apr 2026

Mahasiswa FEB UNS Ikuti Kuliah Umum Literasi dan Investasi Keuangan Digital

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa melalui penyelenggaraan kuliah umum bertajuk “Literasi dan Investasi Keuangan Digital”.

Acara ini berlangsung secara daring pada Kamis, 25 September 2025 melalui Zoom Meeting dan diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa FEB UNS dari berbagai program studi.

Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Fennicia Auliantika, S.E., M.M., CFP®, perencana keuangan tersertifikasi sekaligus Duta Penggerak Literasi Keuangan OJK Tahun 2025, serta Assoc. Prof. Dr. Dodik Siswantoro, S.E., Ak., CA., CACP., MSc., ACC. dari Universitas Indonesia.

Kehadiran keduanya diharapkan mampu memperkaya pemahaman mahasiswa terkait pengelolaan keuangan dan investasi di era digital.

Dalam arahannya, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., Wakil Dekan Akademik dan Penelitian menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa agar lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan dinamika ekonomi global.

“Untuk hari ini ada dua laboratorium yang bersinergi memberikan pelatihan terkait perencanaan keuangan personal maupun investasi, yaitu Lab Fintech di bawah koordinasi Ibu Wahyu Trinarningsih serta Lab Logistik dan Pasar Modal yang dipimpin Bapak Arif Lukman Santoso . Kedua lab ini aktif dalam mengembangkan program pelatihan yang nantinya mengarah pada sertifikasi kompetensi melalui LSP UNS bekerja sama dengan BNSP,” jelasnya.

Prof. Tri juga menekankan bahwa mahasiswa FEB UNS diharapkan tidak hanya lulus dengan ijazah dan transkrip nilai, tetapi juga membawa sertifikat kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

“Mohon teman-teman mahasiswa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk memperkaya ilmu investasi. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi kita semua,” pungkasnya.

Sesi pertama menghadirkan Fennicia Auliantika dengan materi “Go Digital, Go Financially Wise: Optimalisasi Fintech untuk Perencanaan Keuangan Mahasiswa”.

Dalam paparannya, Fennicia mengangkat fenomena generasi Z yang rentan terjebak dalam gaya hidup berbasis FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Only Live Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions). Kebiasaan ini sering mendorong perilaku doom spending, yaitu berbelanja impulsif tanpa perencanaan yang semakin diperparah dengan kemudahan akses paylater dan pinjaman online.

“Bukan seberapa besar uangmu, tapi seberapa cerdas kamu mengaturnya,” tegas Fennicia.

Ia memberikan panduan praktis bagi mahasiswa untuk mulai berlatih perencanaan keuangan sejak dini, meliputi Pengelolaan cashflow agar pendapatan selalu lebih besar dari pengeluaran; Menyediakan dana darurat, meskipun kecil, untuk menghindari utang saat kebutuhan mendesak; Membedakan antara utang sehat (produktif) dengan utang konsumtif; Mindful spending menggunakan formula 40-30-20-10: kebutuhan hidup, cicilan sehat, tabungan/investasi, dan hiburan.

Selain itu, Fennicia memperkenalkan pemanfaatan teknologi keuangan seperti aplikasi digital banking, platform investasi, dan aplikasi budgeting otomatis yang terintegrasi dengan rekening bank. Namun, ia mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap keamanan data, hanya menggunakan aplikasi resmi terdaftar di OJK, serta menghindari investasi ilegal yang menawarkan keuntungan tidak realistis.

Pada sesi kedua, Assoc. Prof. Dr. Dodik Siswantoro membawakan materi “Investasi Personal di Indonesia: Memahami Risiko dan Cara Menghadapinya”. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi membawa kemudahan dalam berinvestasi, namun sekaligus menghadirkan risiko baru seperti peretasan platform, maraknya penjualan emas palsu secara daring, hingga berbagai modus penipuan investasi ilegal.

“Memahami profil risiko pribadi adalah langkah pertama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan,” ungkap Dodik.

Lebih lanjut, ia menjelaskan profil risiko investor yang terbagi menjadi konservatif, moderat, dan agresif. Investor konservatif biasanya memilih instrumen aman dengan risiko rendah, sedangkan investor moderat mencari keseimbangan antara risiko dan imbal hasil, dan investor agresif berani mengambil risiko tinggi demi potensi keuntungan besar.

Dodik juga menekankan pentingnya diversifikasi portofolio ke berbagai instrumen seperti obligasi, sukuk, saham, hingga emas. Tips keamanan juga ia bagikan, mulai dari membeli emas bersertifikat resmi, menggunakan aplikasi investasi dengan sistem keamanan berlapis, hingga tidak sembarangan mengakses aplikasi finansial melalui perangkat umum. “Investasi bukan hanya soal mengejar return tinggi, tetapi bagaimana menjadikannya jalan menuju kebebasan finansial yang aman dan berkelanjutan,” tegasnya.

Rangkaian kuliah umum ini tidak hanya menambah wawasan mahasiswa FEB UNS mengenai pengelolaan keuangan, tetapi juga memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi risiko investasi di era digital. Materi yang disampaikan kedua narasumber diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk membentuk pola pikir finansial yang cerdas, kritis, dan bijak.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen FEB UNS dalam mencetak generasi muda yang unggul, melek finansial, serta mampu mengoptimalkan teknologi secara produktif. Lebih jauh, program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi keuangan, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif melalui praktik investasi yang sehat.