FEB UNS Gelar Konferensi Internasional SMICS 2026: Dorong Integrasi Isu Keberlanjutan dalam Ekonomi, Bisnis, dan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Sebelas Maret International Conference on Sustainability (SMICS) 2026 secara hibrida di Pradipa Ballroom, Swiss-Belhotel Surakarta. Mengusung tema “Sustainability Issues in Economics, Business, and Accounting”, Rabu 28 Oktober 2026 di Swiss Bell Hotel.
Konferensi internasional ini menjadi forum akademis strategis yang mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, serta pembuat kebijakan dari berbagai negara untuk merumuskan solusi atas tantangan keberlanjutan global.
Penyelenggaraan SMICS 2026 dilaksanakan atas kolaborasi FEB UNS bersama dua perguruan tinggi mitra sebagai co-host, yaitu Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII) dan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Semarang (FEB UNNES). Forum ini memfokuskan pembahasan pada integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), ekonomi sirkular, kebijakan harga karbon, strategi bisnis berkelanjutan, hingga pelaporan keberlanjutan.

Ketua Panitia SMICS 2026, Lulus Kurniasih, S.E., M.S.Ak., Ph.D., CA, CIAP, dalam laporan panitia menyampaikan bahwa dari seluruh naskah riset yang masuk, sebanyak 59 makalah dinyatakan lolos proses penelaahan (review) dan dipresentasikan dalam sesi paralel. Makalah-makalah tersebut terbagi dalam tiga klaster utama, yakni Akuntansi Berkelanjutan (Sustainable Accounting), Manajemen Berkelanjutan (Sustainable Management), dan Ekonomi Berkelanjutan (Sustainable Economics). Selain mendiseminasikan hasil riset, para peneliti juga berkesempatan mempublikasikan karyanya pada jurnal dan penerbit mitra bereputasi, seperti International Journal of Monetary Economics and Finance (Inderscience Publishing), UPM Press, serta Jurnal Akuntansi dan Bisnis (JAB) FEB UNS.

Saat membuka kegiatan secara resmi, Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab isu-isu krusial seperti pemanasan global, perubahan iklim, dan ketimpangan sosio-ekonomi. Beliau menegaskan bahwa riset berkualitas, pendidikan, dan kolaborasi internasional merupakan fondasi utama dalam merespons tantangan tersebut.
“We believe that research, education, and international collaboration are key addressing these challenges. I hope this conference will provide a valuable platform for exchanging ideas, sharing research findings, and developing practical solutions for a more sustainable and inclusive future,” ujar Prof. Bhimo saat menyampaikan sambutannya.

Sesi pleno SMICS 2026 menghadirkan dua pembicara utama (keynote speakers) internasional yang dipandu oleh Mulyadi, S.E., M.Ec.Dev., Ph.D., MCE selaku moderator. Pemaparan pertama disampaikan oleh Guru Besar Parker College of Business Georgia Southern University (Amerika Serikat), Prof. Kwabena G. Boakye, Ph.D., yang membawakan materi bertajuk “Building Resilience and Sustainable Rural Healthcare System”. Ia menguraikan tantangan struktural dalam penyediaan layanan kesehatan pedesaan dan menegaskan bahwa keberlanjutan tidak bisa hanya bergantung pada suntikan dana semata.
“Funding just opens the doors, but it doesn’t build the house,” tegas Prof. Boakye.
Menurutnya, diperlukan transformasi menuju model operasional terintegrasi serta pembiayaan lokal/domestik untuk mendukung fasilitas dan tenaga kesehatan di tingkat komunitas.

Pembahas sesi pleno, Retno Tanding Suryandari, S.E., M.E., Ph.D., turut memberikan komparasi terkait sistem layanan kesehatan primer di Indonesia, seperti keberadaan Puskesmas dan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Sementara itu, Assoc. Prof. Habib Zaman Khan, Ph.D., FCPA, MBA dari University of Canberra, Australia, memaparkan perkembangan akuntansi karbon dan pelaporan keberlanjutan. Ia menyoroti pergeseran global dari pelaporan keberlanjutan yang bersifat sukarela (voluntary) menuju regulasi wajib (mandatory sustainability reporting) di bawah standar International Sustainability Standards Board (ISSB). Regulasi ini mencakup empat pilar utama, yaitu tata kelola (governance), strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target.
Ia juga menekankan perlunya penegakan regulasi untuk mengeliminasi praktik greenwashing demi menjaga kredibilitas informasi bagi publik dan investor.
Usai penutupan sesi pleno, peserta diarahkan untuk mengikuti sesi paralel yang terbagi ke dalam 3 sesi.
Sesi paralel ini terdistribusi ke dalam beberapa ruang diskusi tematik, meliputi klaster Akuntansi Berkelanjutan (Sustainable Accounting), Manajemen Berkelanjutan (Sustainable Management), dan Ekonomi Berkelanjutan (Sustainable Economics).
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas riset akademis, panitia mengumumkan jajaran artikel pilihan (shortlisted articles) terbaik di setiap bidang. Terdapat 15 artikel pilihan yang terbagi secara proporsional ke dalam tiga klaster utama, yakni Akuntansi, Manajemen, dan Ekonomi:
Keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs): Kegiatan SMICS 2026 mendukung secara nyata pencapaian SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui pembahasan ketahanan sistem kesehatan pedesaan, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui penguatan tata kelola karbon dan standar ESG, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang diwujudkan melalui kolaborasi riset dan akademik antarlembaga tingkat nasional maupun internasional.