02 Nov 2026

Gelar Bimtek Akselerasi Ekonomi Desa, FEB UNS Dorong Penguatan BUMDes dan Industri Kreatif Berbasis Kearifan Lokal

Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Akselerasi Ekonomi Desa Berbasis Kearifan Lokal: Mendorong Pertumbuhan Bisnis Inklusif untuk Mencapai SDGs”, Jumat, 23 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara daring diikuti oleh sivitas akademika dan pemangku kepentingan daerah guna merumuskan strategi penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) serta UMKM berbasis kearifan lokal.

Dalam sambutannya, Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., menegaskan komitmen fakultas dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi pengembangan ekonomi pedesaan.

Dikatakan, akademisi perlu memperluas fokus pada kegiatan aplikasi ekonomi di pedesaan secara langsung.

“Kami ingin menunjukkan bahwa ada ceruk lain di luar penelitian yang sifatnya makro, yaitu yang lebih menyentuh realita dan aktivitas ekonomi di pedesaan secara langsung,” ujar Prof. Bhimo.

Prof. Bhimo menambahkan bahwa agenda ini sekaligus terintegrasi dengan pembekalan sertifikasi kompetensi mahasiswa sebagai syarat kelulusan, sehingga mahasiswa mendapatkan wacana aplikatif sebelum terjun dalam program pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., menggarisbawahi peran strategis perguruan tinggi sebagai jembatan kolaborasi antar-instansi.

“Kami di institusi akademis berupaya serius menjembatani berbagai stakeholder, baik dari Pemerintah Kabupaten Karanganyar maupun Kementerian Desa, agar kita dapat berjalan bersama secara faktual mencapai tujuan yang diinginkan,” tegas Yogi.

Hadir sebagai narasumber pertama, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kabupaten Karanganyar, Heru Joko Sulistyono, S.S.T.P., M.Si., memaparkan lanskap kelembagaan BUMDes di wilayahnya.

Dari total 162 desa di Kabupaten Karanganyar, seluruhnya telah memiliki BUMDes aktif, meski tingkat kinerjanya bervariasi mulai dari yang berkembang pesat hingga yang mengalami kendala operasional.

Heru menjelaskan bahwa BUMDes dibentuk untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), menciptakan lapangan kerja, dan mendorong UMKM masyarakat. Namun, BUMDes masih menghadapi tantangan berupa kapasitas manajerial kelembagaan yang terbatas serta pemetaan analisis kelayakan bisnis yang belum optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, Pemkab Karanganyar menerapkan empat pilar penguatan: pendampingan berbasis lokal, pengembangan produk unggulan, branding berbasis budaya, dan sinergi pentahelix.

“BUMDes dibentuk dengan orientasi bisnis untuk meningkatkan PADes, yang pada akhirnya dikembalikan kepada masyarakat melalui program pemberdayaan,” ungkap Heru.

Heru juga menawarkan peluang kerja sama konkret dengan FEB UNS, seperti pendampingan penyusunan rencana bisnis (business plan), pengawasan keuangan, digitalisasi UMKM, pembentukan Klinik Bisnis Desa, hingga pengembangan desa binaan percontohan (pilot project) seperti di kawasan wisata BUMDes Berjo. Selain itu, Dispermasdes Karanganyar berencana menggelar forum business matching untuk mempertemukan BUMDes dengan lembaga perbankan dan calon mitra pasar.

Sementara itu, narasumber dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Drs. Samsul Widodo, M.A., memberikan sorotan kritis terhadap pola pendampingan desa yang selama ini berjalan. Samsul mengidentifikasi adanya fenomena “pengeringan likuiditas”, di mana dana yang mengalir ke desa sering kali cepat kembali ke kota karena minimnya produk dan layanan lokal yang mampu menyerap daya beli masyarakat.

Samsul mendorong perguruan tinggi untuk menghentikan pendekatan konvensional yang monoton dan berani keluar dari zona nyaman guna membawa arah baru dalam pembangunan ekonomi pedesaan.

“Perguruan tinggi mestinya membawa lentera dan memberi strategi baru. Jangan sampai pola pendampingan UMKM desa hanya begitu-begitu saja dari tahun ke tahun,” tegas Samsul.

Ia mengusulkan agar FEB UNS membantu desa menciptakan kekayaan intelektual (Intellectual Property/IP) dan inovasi kegiatan ekonomi modern.

Beberapa gagasan strategis yang ditawarkan antara lain pengembangan sports tourism berbasis event, seperti lomba lari trail run di lereng Gunung Lawu Karanganyar serta perumusan standardisasi dan rating desa wisata bintang lima guna meningkatkan nilai tawar dan taraf pengelolaan homestay masyarakat.

Kegiatan Bimtek ini mendukung secara langsung pencapaian SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pembinaan BUMDes dan UMKM, SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) lewat pengembangan potensi lokal dan pariwisata daerah, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kementerian.