Tendik dan Dharma Wanita FEB UNS Ikuti Pelatihan Public Speaking
Dalam rangka meningkatkan keterampilan komunikasi dan kepercayaan diri, Tenaga Kependidikan (Tendik) dan Dharma Wanita Unit Persatuan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti pelatihan Public Speaking “Membangun Keterampilan Komunikasi untuk Meningkatkan Kinerja Pegawai, Senin 21 April 2025 di Aula Gedung Soedarah Soepono FEB UNS.
Kegiatan yang digelar bertepatan dengan Hari Kartini itu menghadirkan nara sumber Zahra Noor Eriza, S.I.Kom. MM, Director SPEAKING.id Communnication Trainign Center.

Diharapkan, melalui pelatihan ini, para pegawai dapat meningkatkan kualitas komunikasi serta kemampuan dalam berinteraksi dengan rekan kerja, atasan, dan juga pengguna layanan, guna mendukung kinerja organisasi secara keseluruhan.
Sutaryo, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA, Wakil Dekan Bidang Nonakademik FEB UNS dalam sambutannya menyampaikan bahwa dalam konteks organisasi apapun atau dalam entitas apapun, ketika berkumpul dengan banyak orang atau dengan komunitas, komunikasi adalah faktor kunci. Pesan akan menjadi bias dan berbeda permaknaannya atau penerimaanya jika dikomunikasikan secara tidak tepat.

“Tugas pokok kita adalah sebagai pelayan. Ketika mengambil keputusan menjadi pegawai UNS maka kita telah menyatakan bahwa diri kita adalah sebagai pelayan. Salah satu yang dilayani adalah mahasiswa. Kita harus mempunyai cara berkomunikasi yang tepat. Sekali lagi, jika kita menyampaikan informasi, jasa atau layanan dan tujuannya itu baik, pada waktu yang baik tapi dengan cara komunikasinya kurang pas, jadinya kurang baik. Harapannya miskomunikasi bisa diminimalisir” ungkapnya.
Sementara itu, selama pelatihan, Sara melibatkan peserta aktif untuk mempraktikkan cara berkomunikasi yang baik.
Dikatakan, ada hambatan-hambatan saat kita berkomunikasi. Hambatan dalam komunikasi verbal diantaranya informasi tidak jelas, kurangnya empati, komunikator dan komunikan belum siap dan perbedaan persepsi. Sedangan untuk hambatan komunikasi Nonverbal diantaranya tidak konsisten, perbedaan persepsi, tidak ada konfirmasi dan perbedaan budaya.

Adanya hambatan dalam pesan verbal dan non verbal dapat menyebabkan konflik karena pesan yang diterima tidak sesuai dengan maksud pengirim.
Selanjutnya disampaikan bagaimana cara berkomunikasi dengan pimpinan agar efektif.
Yang pertama adalah dengan mengidentifikasi potensi kepribadian diri sendiri dan juga pimpinan. Apakah memiliki potensi kepemimpinan yang Dominance Koleris (Sikuat), tegas, fokus pada tujuan; Influence Sanguinis (Si Gesit), ramah, suka berbicara, optimis, antusias, menyukai perhatian; Stediness Plegmatis (si Damai), tenang, penyabar, setia, senang mendukung orang lain; Compliance Melankolis (Si Rinci), analitis, perfeksionis, detail-oriented dan mematuhi aturan.
Yang kedua dengan mengidentifikasi gaya kepemimpinan, apakah pasif, cenderung menghindari konflik; Aktif, mendominasi pembicara; Agresif pasif, menggunakan sindiran atau perilaku manipulati; atau asertif, menghargai diri sendiri sekaligus orang lain, berorientasi pada penyelesaian masalah.
Atasan punya gaya komunikasi yang berbeda-ada, yang to the point, ada yang detail. Perhatikan dan sesuaikan cara kamu menyampaikan informasi.
Yang ketiga adalah melatih skill komunikasi dengan mendengarkan aktif, bertanya secara efektif dan melatih komunikasi verbal.
Dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang efektif dengan pimpinan dapat dicapai melalui pemahaman terhadap gaya komunikasi pimpinan, penyampaian informasi secara jelas dan terstruktur, penggunaan bahasa yang sopan dan profesional, serta kemampuan untuk mendengarkan secara aktif. Dengan menjaga sikap terbuka, memilih waktu dan media komunikasi yang tepat, serta memberikan umpan balik secara bijak, hubungan kerja akan menjadi lebih harmonis dan produktif.
Komunikasi yang baik bukan hanya menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kepercayaan dan kerja sama yang kuat.
Pelatihan public speaking bagi Tendik dan Dharma Wanita FEB UNS ini mendukung SDG 4: Quality Education melalui peningkatan keterampilan dan kapasitas sumber daya manusia dalam aspek komunikasi profesional. Selain itu, kegiatan ini berkontribusi pada SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions dengan memperkuat kualitas layanan, transparansi komunikasi, serta efektivitas interaksi dalam organisasi, sehingga menciptakan lingkungan kerja yang lebih responsif dan akuntabel.