Prof. Evi Gravitiani dan Prof. Tatien Masharabu Soroti Pentingnya Valuasi Ekonomi dan Konservasi Ekosistem DAS
Prof. Evi Gravitiani dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Tatien Masharabu dari University of Burundi menjadi narasumber dalam Program Visiting Professor yang merupakan bagian dari International Research Network–Equity Impact Ranking 2026, Sabtu 7 Maret 2026.
Dalam forum akademik tersebut, kedua akademisi membahas pengelolaan ekosistem daerah aliran sungai (DAS) dari perspektif ekologi dan ekonomi lingkungan sebagai upaya mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Evi Gravitiani, Dosen FEB UNS menyampaikan materi berjudul “How Much is Nature Worth? Measuring WTP and WTA for Environmental Services.” Dalam paparannya, Prof. Evi membahas pendekatan ekonomi dalam menilai jasa lingkungan, khususnya dalam konteks pengelolaan daerah aliran sungai.

Menurut Prof. Evi, terdapat kesenjangan kepentingan antara wilayah hulu dan hilir DAS yang mendorong lahirnya konsep Payment for Environmental Services (PES) sebagai mekanisme kompensasi bagi pihak yang berperan menjaga kelestarian lingkungan.
“Meskipun begitu banyak skema PES yang gagal karena belum adanya asesmen ekonomi empiris yang berlandaskan fakta,” ungkap Prof. Evi.
Dalam hasil risetnya, Prof. Evi menemukan adanya perbedaan yang cukup signifikan antara Willingness to Pay (WTP) dan Willingness to Accept (WTA) dalam skema jasa lingkungan. Ia juga menekankan bahwa skema PES berbasis pasar masih menghadapi berbagai kendala dalam implementasinya. Oleh karena itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan, regulasi, maupun subsidi menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan implementasi skema tersebut.

Selain itu, kegiatan ini juga menghadirkan pembicara internasional, Tatien Masharabu dari University of Burundi, yang memaparkan materi berjudul “Understanding Watershed Ecosystem Services: Biodiversity and Ecological Function.” Dalam paparannya, Prof. Masharabu menjelaskan konsep daerah aliran sungai sebagai sistem yang saling terhubung antara aliran air, tanah, udara, serta berbagai spesies yang menopang keberlanjutan ekosistem.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga fungsi ekologis daerah aliran sungai karena seluruh masyarakat hidup dalam sistem ekologi tersebut dan memiliki tanggung jawab dalam upaya konservasi lingkungan.
Diskusi ini diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai pentingnya integrasi pendekatan ekonomi dan ekologi dalam pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan serta memperkuat kolaborasi akademik lintas negara dalam bidang lingkungan.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui pembahasan pengelolaan daerah aliran sungai, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya konservasi lingkungan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademik internasional dalam pengembangan riset lingkungan.