24 Feb 2020

Sering Baca Jurnal, Tips Temukan Kebaruan Ide

Penulisan artikel ilmiah untuk publikasi, bukan semata-mata bertujuan untuk memenuhi kelulusan studi namun untuk mengenalkan ide baru karena ilmu itu harus dikembangkan berbasis penelitian dari perguruan tinggi. Dan penelitian itu harus didiseminasikan ke masyarakat melalui media.

Ada tiga hal yang harus kita perhatikan dalam menulis artikel yakni adanya kebaruan ide, substansi dari manuskrip yang kita tulis harus menarik perhatian pembaca dan juga harus bisa meyakinkan pembaca bahwa ide yang kita paparkan, benar.

Mahasiswa Prodi MM ikuti workshop penulisan artikel

Pernyataan itu disampaikan Dr. Eng. Anto Satriyo Nugroho dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat menjadi narasumber di Workshop Penulisan Artikel Ilmiah untuk Publikasi yang digelar oleh Program Studi Magister Manajemen, Sabtu 1/2/2020 di Aula Konimex Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS).

Selanjutnya dijelaskan, novelty atau kebaruan dalam artikel adalah untuk membangun knowledge pada sebuah bidang ilmu. Untuk ikut membangun harus ada kontribusi yang kita berikan, ada sebuah ide yang kita perkenalkan atau yang kebaruan yang kita berikan. Ide itu belum pernah dilakukan oleh orang lain.

“Untuk mengetahui kebaruan ide, hanya satu kuncinya, kita harus sering membaca jurnal ilmiah. Pembimbing saya saat studi menyarankan untuk membaca sepuluh artikel  setiap hari. Ini berguna untuk mengetahui tren penelitian saat ini” papar Dr. Anto

Seorang peneliti harus berhati-hati juga dalam memilih tema, harus disesuaikan dengan lingkup jurnalnya. Apakah untuk kepentingan di tingkat nasional ataupun internasional.

Selain itu, gaya penulisan menjadi salah satu yang sangat dipertimbangkan untuk diterima tidaknya  artikel pada  sebuah jurnal. Sering terjadi, ditolaknya sebuah artikel ilmiah bukan karena substansinya yang tidak baik namun salah satunya adalah gaya menulisnya yang kurang tepat.

Sementara itu, Tri Mulyaningsih,SE, M.Si,Ph.D, dari FEB UNS sebagai narasumber kedua di kegiatan itu memberi gambaran kepada peserta yang mengikuti workshop betapa sangat banyaknya permasalahan di sekitar kita yang bisa menjadi bahan penelitian.

“Banyak permasalahan yang bisa kita gali di sekitar kita, isu-isu yang sedang tren saat ini, misal tentang Virus Corona, Asuransi Jiwasraya, gagasan Mas Nadiem dengan Kampus Merdekanya dan lain sebagainya bisa menjadi topik penelitian yang menarik. Bahkan pengalaman pribadi kita pun bisa menjadi sumber inspirasi” jelasnya memberi semangat.

Retno Tanding Suryandari, Ph.D , Kaprodi MM saat membuka acara

Dari sisi penulisan artikel, peneliti harus memperhatikan gaya selingkung atau format penulisan dari jurnal. Karena masing-masing  jurnal punya gaya selingkung yang berbeda.

Tri Mulyaningsih juga memaparkan kepada peserta, beberapa pedoman lain dalam penulisan paper.

Usai menyampaikan pemaparan, perserta berdiskusi dengan kedua narasumber.