Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Manajemen SDM II bertajuk “Human Resource Transformation and Addressing the Challenges Brought by AI and Digitization”, Sabtu (20/6/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Ripy Mangkoesoebroto, S.Psi., M.Sc., Commissioner PT Sampoerna Karya Bangsa, yang membagikan wawasan mengenai transformasi pengelolaan sumber daya manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi.
Kuliah ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif praktis mengenai perubahan dunia kerja serta tantangan pengelolaan SDM di era transformasi teknologi.

Dalam pemaparannya, Ripy membagi materi ke dalam tiga aspek utama, yaitu perubahan dunia kerja (what is changing), pengelolaan transformasi people and culture (leading the transformation), serta persiapan individu dan organisasi menghadapi masa depan (how do we prepare ourselves).
Pada aspek pertama, ia menjelaskan bahwa AI dan digitalisasi telah mengubah cara organisasi beroperasi, mulai dari interaksi dengan pelanggan, rantai pasok, proses kerja, hingga struktur pekerjaan. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga pada ekspektasi terhadap tenaga kerja dan budaya organisasi. Seiring perkembangan ini, sejumlah pekerjaan mengalami transformasi, sementara peran-peran baru juga muncul dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda. Karena itu, pembaruan keterampilan menjadi kebutuhan yang terus-menerus.
Ripy menegaskan bahwa saat ini fokus utama dunia kerja tidak lagi hanya pada job description, melainkan pada output dan dampak terhadap bisnis. Ia juga menyoroti adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta, di mana banyak lulusan belum sepenuhnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan keterampilan seperti literasi digital dan AI, literasi data, analytical thinking, problem solving, komunikasi, adaptasi, rasa ingin tahu, serta ownership.

Pada aspek kedua, Ripy menjelaskan bahwa transformasi organisasi perlu diikuti dengan perubahan dalam pengelolaan people and culture. Struktur organisasi kini bergerak menuju model yang lebih lincah, kolaboratif, dan berbasis kompetensi. Penilaian kinerja juga bergeser dari aktivitas menjadi dampak dan hasil yang diberikan terhadap bisnis. Sejalan dengan itu, peran kepemimpinan berubah dari fungsi kontrol menjadi fasilitator yang mengembangkan tim serta mengelola kolaborasi antara manusia dan teknologi.
Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, aspek kemanusiaan tetap menjadi kunci, terutama empati, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang bijak. Selain itu, kesejahteraan karyawan (well-being) menjadi faktor penting karena kinerja optimal hanya dapat dicapai ketika individu berada dalam kondisi fisik dan mental yang baik.
Pada aspek ketiga, Ripy menekankan pentingnya kesiapan individu dan organisasi dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kemampuan beradaptasi, pemanfaatan teknologi secara efektif, serta pembelajaran berkelanjutan menjadi hal yang krusial. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi seperti kemampuan analitis, inovasi, pengelolaan diri, ketahanan (resilience), komunikasi, dan kolaborasi. Di sisi lain, organisasi perlu memastikan tata kelola penggunaan AI dan perlindungan data dilakukan secara etis dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa peran fungsi Human Resource atau People and Culture kini berkembang menjadi mitra strategis bisnis yang tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga pada pengelolaan talenta berbasis data, perencanaan kebutuhan masa depan, serta pemanfaatan teknologi secara etis dalam pengambilan keputusan SDM.
Menutup paparannya, Ripy menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Ia mengingatkan bahwa dalam era digital, individu tidak akan tergantikan oleh teknologi, melainkan oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara lebih efektif.
Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan pendidikan, kesiapan kerja, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam transformasi organisasi.