Kolaborasi Akademisi dan Industri Warnai Gelaran FutureFin di FEB UNS
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menjadi tuan rumah kegiatan FutureFin dalam rangka inisiatif Tech for Indonesia yang diselenggarakan di Aula Gedung Suhardi FEB UNS, Selasa (3/3/2026).
Kegiatan yang bertema Exploring Digital Lending Through Data, Ethics and Critical Thinking menghadirkan kolaborasi antara dunia akademisi, industri, dan regulator untuk memperkuat literasi serta inklusi keuangan digital di kalangan mahasiswa.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D, dalam sambutannya menilai kegiatan FutureFin Talk ini sangat penting bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Program Studi Bisnis Digital, karena memberikan kesempatan untuk belajar langsung dari para praktisi dan pemangku kepentingan di bidang teknologi finansial.
“Mahasiswa tidak hanya mengikuti pelajaran dan teori secara eksklusif di kelas. Kampus juga harus terintegrasi dengan berbagai perkembangan di luar, termasuk dengan dunia industri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa UNS saat ini juga menekankan integrasi kegiatan akademik dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), salah satunya SDG 4: Quality Education. Melalui kegiatan seperti ini, mahasiswa diharapkan memperoleh pencerahan dan wawasan baru dari para narasumber yang berkompeten.
Kepala OJK Solo Eko Hariyanto menyampaikan apresiasi kepada FEB UNS atas komitmennya dalam mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui penyelenggaraan kegiatan edukasi bagi mahasiswa.

OJK juga mengapresiasi kontribusi perusahaan fintech AdaKami yang terlibat dalam program literasi dan inklusi keuangan di Indonesia dengan menghadirkan mahasiswa sebagai peserta dalam kegiatan ini.
Sementara itu, Ketua Program Studi S1 Bisnis Digital, Aldy Fariz Achsanta, S.E., M.Rech.,Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengasah dan memperbarui pengetahuan mengenai teknologi finansial, baik dari segi konsep maupun berbagai tantangan yang muncul dalam praktiknya.

Ia menjelaskan bahwa peserta mendapatkan paparan dari dua narasumber dengan perspektif yang berbeda, yakni dari sisi industri dan dari sisi akademisi, sehingga mahasiswa dapat memahami perkembangan fintech secara lebih komprehensif.

“Pada dasarnya acara ini merupakan bagian dari sinergi yang luar biasa antara dunia akademis dan dunia industri. Ke depan diharapkan kolaborasi ini dapat melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, baik dari dunia bisnis, regulator, maupun masyarakat,” ungkapnya.
Aldi menambahkan bahwa kolaborasi tersebut penting untuk mendorong tercapainya inklusi keuangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ia juga mengajak mahasiswa untuk menyimak materi dengan baik agar dapat memahami secara langsung bagaimana industri fintech berjalan di dunia nyata.

Melalui kegiatan FutureFin ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman diskusi yang memberikan gambaran nyata tentang praktik industri.
