10 Jun 2026

Fiscal Corner FEB UNS Bahas Sinergi Fiskal Pusat-Daerah dan Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Fiscal Corner Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS)  menyelenggarakan Fiscal Outlook Series bertajuk “Selat Hormuz Impact: Strategi Ketahanan Fiskal Daerah & Transformasi Pembiayaan Alternatif”, Selasa (9/6/2026) di Classroom  UNS Tower.

Kegiatan yang menghadirkan narasumber Dr. Subandono, S.E., M.Sc., Direktur Sistem Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan Republik Indonesia diikuti oleh mahasiswa program sarjana dan pascasarjana, alumni, serta sivitas akademika yang antusias mengikuti diskusi mengenai dampak dinamika geopolitik global terhadap perekonomian dan fiskal daerah.

Forum ini menjadi ruang dialog antara praktisi dan akademisi dalam memahami tantangan sekaligus peluang pengelolaan fiskal di tengah ketidakpastian global.

Dekan FEB UNS Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dr. Subandono yang berkenan berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada mahasiswa serta peserta yang hadir.

Menurut Prof. Bhimo, tema yang diangkat sangat relevan dengan berbagai isu yang dipelajari dalam ekonomi pembangunan dan kebijakan fiskal.

Ia menilai kehadiran praktisi dari Kementerian Keuangan memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai bagaimana pemerintah mengelola kebijakan fiskal dalam menghadapi berbagai tantangan global.

“Menjadi suatu kehormatan bagi kami dapat menghadirkan Direktur Sistem Perimbangan Keuangan Kementerian Keuangan untuk berbagi wawasan kepada mahasiswa dan alumni. Kegiatan seperti ini sangat penting untuk mempertemukan perspektif akademik dengan praktik kebijakan yang dijalankan pemerintah,” ujarnya.

Prof. Bhimo juga berharap Fiscal Outlook Series dapat terus berlanjut sebagai forum diskusi berkala yang menghadirkan isu-isu strategis di bidang fiskal dan pembangunan daerah.

Ia juga menegaskan bahwa Fiscal Corner merupakan bagian dari ekosistem laboratorium dan pusat pengembangan keilmuan di FEB UNS yang mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, serta kolaborasi dengan berbagai mitra.

Sementara itu, dalam paparannya, Dr. Subandono menjelaskan bahwa kondisi ekonomi global saat ini masih dipengaruhi berbagai ketidakpastian geopolitik, termasuk dinamika di kawasan Selat Hormuz yang memiliki implikasi terhadap stabilitas ekonomi dan fiskal berbagai negara.

Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga ketahanan fiskal serta memastikan pembangunan tetap berjalan secara berkelanjutan.

Penyebabnya mungkin terjadi di ujung sana, tetapi dampaknya bisa sampai ke sini. Karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus terus bersinergi dalam merespons berbagai tantangan yang muncul. .

Dalam pemaparannya, Dr. Subandono menjelaskan bahwa Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan konsisten untuk keluar dari middle-income trap. Di tengah berbagai gejolak global, ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja yang relatif baik dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga serta inflasi yang terkendali.

Ia juga menyoroti pentingnya peran APBN dan APBD sebagai instrumen desentralisasi fiskal yang mampu mendukung pemerataan pembangunan dan pelayanan publik di berbagai daerah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa transfer ke daerah dirancang untuk mengurangi ketimpangan fiskal, meningkatkan kualitas layanan publik, serta mendukung pencapaian prioritas pembangunan nasional. Menurutnya, penguatan kapasitas fiskal daerah tidak hanya bergantung pada transfer dari pemerintah pusat, tetapi juga pada kemampuan daerah mengoptimalkan pendapatan asli daerah, meningkatkan kualitas belanja, serta memperkuat tata kelola keuangan daerah.

Selain itu, Dr. Subandono memperkenalkan berbagai alternatif pembiayaan pembangunan daerah, termasuk pemanfaatan pinjaman daerah, obligasi daerah, dan sukuk daerah untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang produktif. Ia menegaskan bahwa pembiayaan kreatif dapat menjadi solusi bagi daerah dalam meningkatkan kapasitas fiskal dan mempercepat pembangunan tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian fiskal.

Pada akhir paparannya, Dr. Subandono menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan penta helix yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, industri, komunitas, dan media. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung optimalisasi fiskal daerah, menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten, serta memberikan rekomendasi kebijakan berbasis riset bagi pemerintah daerah.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa, alumni, dan peserta yang hadir.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai hubungan antara dinamika geopolitik global, kebijakan fiskal nasional, ketahanan fiskal daerah, serta berbagai inovasi pembiayaan yang dapat mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen FEB UNS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan ruang pembelajaran yang relevan dengan isu kebijakan publik, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan pemahaman mengenai strategi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam pengembangan kapasitas dan kebijakan pembangunan.