16 Agu 2022

Dosen UNS Bahas Sinergi Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Dunia Industri

Semakin eratnya pola relasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri membuat Etzkowitz dan Leydesdorff (1995) mengembangkan model inovasi triple helix yang didasarkan pada interaksi antara tiga elemen tersebut.

Universitas sebagai gudang ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki sumberdaya manusia yang mampu melahirkan inovasi di berbagai bidang yang dapat diterapkan dalam dunia industri. Pemerintah sangat mendorong universitas melalui bantuan dana riset, dan fasilitas lainnya untuk menghasilkan karya bermutu, mengatur perlindungan dan penggunaan hak cipta. Sedangkan industri memberikan dukungan kepada universitas baik dalam kegiatan penelitian dan pengembangan maupun penggunaan hasil riset secara berkesinambungan.

 

Ketika interaksi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri  meningkat, setiap komponen berevolusi untuk mengadopsi beberapa karakteristik dari institusi lain, yang kemudian memunculkan institusi hibrida. Interaksi bilateral terjadi antara universitas, industri dan pemerintah.

Namun, ahli lain telah menunjukkan bahwa kegiatan konsultasi anggota fakultas juga dapat memiliki kelemahan, seperti fokus yang berkurang pada mendidik siswa, dan potensi konflik kepentingan yang berkaitan dengan penggunaan sumber daya universitas untuk kepentingan industri.

Hal itu disampaikan Dr. Akhmad Daerobi, MS, Akademisi FEB UNS saat menjadi salah satu narasumber di hari kedua Focus  Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh  Badan Pengelola Usaha Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Selasa 28 Juni 2022 di UNS Inn.

Provinsi Jawa Tengah dengan banyaknya perguruan tinggi memiliki peluang strategis bersinergi antara pemerintah daerah, pelaku bisnis, dan perguruan tinggi.

“Pemerintah telah berusaha keras untuk mencapai kombinasi yang berhasil antara ekonomi komersial dan berorientasi penelitian dengan membangun ekosistem inovasi nasional yang unggul untuk memperoleh daya saing. Sebagai bentuk ekosistem inovasi, kolaborasi akademisi-industri –pemerintah sangat mementingkan promosi pembangunan sosial ekonomi” ungkapnya.

Dua narasumber lain di FGD yang dihadiri lebih dari 40 peserta dari BUMN, BUMD dan Akademisi tersebut yakni Suparno, ST, MT, Direktur SDM dan Umum PT KAI dengan tema Peran BUMN di Bidang Transportasi dan Logistik dan Kebutuhan SDM dalam Mencapai Pertumbuhan Nasional serta Dr. Supriyatno, MBA Direktur Utama Bank Jateng dengan tema Profil Pembiayaan Infrastruktur  Bank Jateng.

Mewakili Dekan FEB UNS, Dr. Mugi Harsono, SE, M.Si, Wakil Dekan Perencanaan, Kerjasama Bisnis dan Informasi dalam sambutannya menyampaikan bahwa dengan FGD ini, diharapkan perguruan tinggi dengan BUMN dan BUMD memiliki satu gelombang yang sama untuk membuat kebijakan bagi kemaslahatan masyarakat khususnya di Jawa Tengah.

“Di hari ini, kami mengundang narasumber dari BUMN, PT KAI. Dan dalam aspek sinergi nanti diperlukan partisipasi dari bidang finance, bagaimana peran bank bisa memberikan skema apa yang perlu digelontorkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan para pelaku bisnis sehingga nanti bisa padu, juga secara filosofi dan konseptual akan disampaikan oleh akademisi FEB UNS” paparnya

Para diskusan juga diharapkan memberikan fakta-fakta di lapangan sehingga bisa merumuskan permasalahan, mengurangi benang kusut, peran perguruan tinggi sebagai pendamping pun dapat maksimal.

Harapannya acara ini bisa berjalan dengan baik, mampu “menyepuh emas-emas yang tertimbun di tanah”, menghasilkan hal yang bermanfaat untuk Jawa Tengah pada umumnya dan peran UNS pada khususnya.

Dilaporkan juga FEB memiliki BPUF yang diketuai oleh Ahmad Ikhwan Setiawan, SE, MT. Dalam 5 tahun terakhir ini fokus pada pengembangan sertifikasi profesional bagi para dosen, sehingga jika dalam sebuah kerjasama memerlukan sertifikasi profesional, maka FEB sudah siap.

Reporter dan Editor: Humas