30 Apr 2026

Working Paper Forum FEB UNS Bahas Valuasi Ekonomi sebagai Dasar Skema Pembayaran Jasa Lingkungan

Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P4M) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Working Paper Forum secara daring pada Kamis (5/3/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si., CBEc dari Research Group Green Economy and Sustainable Development FEB UNS yang memaparkan hasil riset berjudul “Ekologi ke Ekonomi: Valuasi Ekonomi sebagai Basis Desain Skema Pembayaran Jasa Lingkungan, Sebuah Riset Lapangan di Sub DAS Pusur, Klaten.”

Dalam pemaparannya, Prof. Evi menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari keterkaitan antara aspek ekologi dan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam. Ia menekankan bahwa pendekatan valuasi ekonomi diperlukan untuk memberikan nilai terhadap jasa lingkungan yang selama ini sering kali tidak terlihat dalam sistem ekonomi.

Menurutnya, degradasi lingkungan yang terjadi di wilayah daerah aliran sungai dapat berdampak pada kualitas dan ketersediaan air. Dalam konteks ini, wilayah hulu berperan sebagai penyedia jasa lingkungan, sedangkan wilayah tengah dan hilir memanfaatkan manfaat ekonomi dari sumber daya air tersebut.

“Ekologi dan ekonomi sebenarnya saling berkaitan. Valuasi ekonomi menjadi jembatan untuk melihat bagaimana jasa lingkungan dapat dihargai secara ekonomi,” jelasnya.

Penelitian yang dilakukan di Sub DAS Pusur, Kabupaten Klaten, ini melibatkan survei kepada masyarakat untuk mengetahui kesediaan mereka dalam mendukung upaya konservasi lingkungan melalui skema pembayaran jasa lingkungan (Payment for Environmental Services/PES).

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti mengukur dua pendekatan utama, yaitu Willingness to Pay (WTP) atau kesediaan masyarakat pengguna air untuk membayar upaya konservasi lingkungan, serta Willingness to Accept (WTA) atau kesediaan masyarakat di wilayah hulu untuk menerima kompensasi atas upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Lokasi penelitian mencakup wilayah hulu di Desa Mriyan dan Desa Pagerjurang serta wilayah tengah di Desa Ponggok dan Desa Cokro, Kabupaten Klaten. Wilayah-wilayah tersebut dipilih karena memiliki keterkaitan langsung dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air di kawasan Sub DAS Pusur.

Melalui metode survei lapangan dengan pendekatan Contingent Valuation Method (CVM), penelitian ini melibatkan ratusan responden untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap skema pembayaran jasa lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara nilai kesediaan membayar masyarakat pengguna air dan nilai kompensasi yang diharapkan oleh masyarakat di wilayah hulu. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa implementasi skema pembayaran jasa lingkungan memerlukan dukungan kebijakan dan penguatan kelembagaan agar dapat berjalan secara efektif.

Melalui forum ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi mengenai pengembangan skema kebijakan lingkungan berbasis valuasi ekonomi, sekaligus memperkuat pemahaman mengenai pentingnya integrasi antara aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan sumber daya alam.

Kegiatan Working Paper Forum ini juga menjadi bagian dari upaya FEB UNS dalam mendorong penguatan riset dan diskusi akademik yang berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.

Sebagai bagian dari komitmen terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan ini sejalan dengan SDG 6 (Clean Water and Sanitation) melalui upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air serta SDG 13 (Climate Action) dan SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan kajian ilmiah mengenai konservasi lingkungan dan pengelolaan ekosistem secara berkelanjutan.

Di penutup acara, Prof. Evi menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya air. Ia menyampaikan bahwa selama ini banyak orang berpikir air tidak akan pernah habis karena memiliki siklus alami. Namun, ia mengingatkan bahwa siklus tersebut dapat terganggu apabila ekosistem penopangnya, seperti pohon dan daerah tangkapan air, tidak lagi terjaga.

Ia menjelaskan bahwa selama siklus air masih berjalan, air dapat dikategorikan sebagai renewable resources. Akan tetapi, apabila siklus tersebut hilang, maka air hanya akan tersisa sebagai stok yang terbatas dan berpotensi menjadi sumber daya yang tidak terbarukan.

Menurutnya, upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah hal tersebut adalah dengan menjaga konservasi air serta menerapkan pemanfaatan air secara berkelanjutan. Salah satunya melalui konsep penggunaan kembali air (circular use), seperti memanfaatkan air bekas wudu untuk menyiram tanaman.

Prof. Evi berharap kesadaran untuk menjaga air dapat terus ditanamkan, sehingga keberadaan air dan siklusnya tetap terjaga. Dengan demikian, generasi mendatang tidak harus menghadapi kelangkaan air atau bahkan membayar air dengan harga yang sangat mahal.

Ia pun mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan air sebagai sumber kehidupan.