21 Jun 2026

Universitas Sebelas Maret Gandeng TPS3R ”Mojo Makmur” dalam Pengelolaan Sampah Organik melalui integrasi UMAITA (Unggas, Magot, Ikan dan Tanaman) di Kota Surakarta

Dalam upaya mendorong pengelolaan sampah organik berkelanjutan, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar kegiatan Sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengelolaan Sampah Organik di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) ”Mojo Makmur”, Jebres, Surakarta.

Acara ini juga dihadiri oleh Komandan Kodim 0735/Surakarta Letkol Inf Fictor Juradi Situmorang, S.I.P., M.I.P. yang ingin berdampingan dan bersinergi dalam pengelolaan sampah organik.

Acara dimulai dengan sambutan pertama yang sampaikan oleh Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si selaku Ketua Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).

Prof. Suryanto menyampaikan bahwa banyak orang beranggapan sampah organik menjadi barang yang tidak berguna bahkan dicap sebagai barang negatif. Namun, melalui model integrasi UMAITA (Unggas, Magot, Ikan dan Tanaman) akan diubah menjadi barang positif dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Acara selanjutnya yaitu sambutan dan pembukaan oleh Ibu Santi Yuniati, S.So,MAP selaku Sekertaris Kelurahan Jebres. Ia menyampaikan bahwa kerja sama dengan UNS tidak berhenti pada kegiatan ini saja, melainkan terus berlanjut sebagai lembaga akademisi yang selalu mendampingi kegiatan TPS3R.

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Izza Mafruhah, S.E., M.Si. sebagai narasumber utama yang memaparkan konsep ekonomi sirkular serta inovasi pemanfaatan maggot (Black Soldier Fly) dalam mengatasi persoalan sampah organik. Menurut Prof. Izza, timbunan sampah nasional mencapai ±34,2 juta ton per tahun dengan sekitar 40% belum terkelola. Di Surakarta, khususnya wilayah Jebres, rumah tangga dan mahasiswa menjadi penyumbang utama sampah, terutama sisa makanan. Maggot dinilai sebagai solusi yang efektif karena mampu mengurai limbah organik secara cepat, tanpa bau, dan aman bagi kesehatan.

“Budidaya magot tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi tinggi. Produk seperti maggot kering dan tepung maggot bisa menjadi pakan unggas dan ikan, sekaligus mengurangi biaya pakan hingga 40%,” ungkap Prof. Izza.

Selanjutnya, dalam sesi FGD yang dipandu oleh Dr. Nurul Istiqomah, S.E., M.Si.

Pak Sunarno selaku Pengelola TPS3R Mojo Makmur menyampaikan aktivitas pengolahan kompos, pupuk cair, dan budidaya maggot yang telah berjalan, meski masih terkendala distribusi dan pasokan bahan baku sampah organik.

Sementara itu, Letkol Inf Fictor J. Situmorang menegaskan dukungan TNI terhadap program ini. Ia menyatakan bahwa pengelolaan sampah organik sejalan dengan program ketahanan pangan dan kebersihan lingkungan yang saat ini tengah digencarkan.

“Kami siap bersinergi dengan berbagai pihak untuk menyukseskan program ini,” katanya.

Sementara itu, perwakilan warga menyoroti minimnya partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah. Serta Sekretaris Kelurahan Jebres, Ibu Santi, yang mendorong terbentuknya paguyuban bank sampah sebagai langkah strategis jangka panjang.

Salah satu solusi inovatif yang muncul dalam diskusi adalah kerja sama dengan warung makan untuk menyuplai sisa makanan sebagai pakan maggot, serta pemanfaatan pupuk cair untuk pertanian hidroponik di TPS3R.

Kegiatan ini diharapkan menjadi tonggak awal dalam menciptakan ekosistem pengelolaan sampah organik terpadu berbasis partisipasi masyarakat dan teknologi lokal, dengan dukungan dari berbagai elemen termasuk pemerintah, akademisi, dan komunitas.