16 Okt 2026

Tingkatkan Kualitas Akademik, PDIE FEB UNS Gelar Review Kurikulum Berbasis Outcome Based Education

Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Review Kurikulum Berbasis OutcomeBased Education (OBE), Jumat, 9 Oktober 2026, di UNS Inn.

Kegiatan yang diikui oleh dosen pengampu PDIE ini menjadi langkah strategis prodi dalam memperkuat mutu pembelajaran serta menyelaraskan kurikulum dengan standar reputasi internasional.

Hadir sebagai natasumber Prof. Putu Mahardika Adi Saputra, S.E., M.Si., M.A., Ph.D. dari  Universitas Brawijaya

Kepala Program Studi PDIE FEB UNS, Prof. Agung Nur Probohudono, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA.,CFrA menegaskan bahwa lokakarya review kurikulum ini merupakan kelanjutan nyata pasca-diraihnya Akreditasi Unggul selama 5 tahun dari LAMEMBA.

Dikatakan, dengan jumlah mahasiswa aktif yang mencapai sekitar 280 orang, proses pendidikan di jenjang S3 harus diarahkan pada pembentukan karakter akademisi unggul.
“Yang paling penting adalah bagaimana lulusannya. Lulusan itu menurut saya yang benar-benar doktor, yang benar-benar memiliki kedalaman berpikir, dan yang benar-benar menghasilkan kebaruan ilmu pengetahuan, supaya memberikan manfaatnya untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kaprodi juga memetakan beberapa pilar utama penguatan prodi, meliputi penegasan spesifisitas identitas keilmuan, percepatan internasionalisasi dan reputasi akademik, hingga penyelarasan kurikulum baru 6 semester yang diimbangi dengan pelayanan serta pembimbingan akademik yang prima.

Wakil Dekan Akademik dan Penelitian FEB UNS, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., secara resmi membuka acara dan menyampaikan dua isu strategis sebagai bahan pemantik diskusi.
Isu pertama yang disoroti adalah maraknya penggunaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di lingkungan akademis. Kondisi ini dinilai membutuhkan peningkatan literasi digital yang tajam di kalangan akademisi.

“AI itu memang produce a new information, tapi not necessarily to be a new knowledge, apalagi knowledge yang benar,” ujar Prof. Tri menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan kritis terhadap teknologi.

Selanjutnya, Prof. Tri menyoroti tantangan utama pendidikan doktor dalam mencetak peneliti mandiri.

“Pendidikan S3 itu kan memang katanya produce independent researcher. Tapi ketika kemudian masuk ke periode disertasi, ternyata tidak mudah untuk membentuk mahasiswa yang bisa melakukan riset secara mandiri dan sesuai dengan kaidah saintifik,” ungkap beliau.

Memasuki sesi inti, Prof. Putu memaparkan arsitektur pembelajaran Outcome-Based Education (OBE) dan Assurance of Learning (AoL), dengan menekankan bahwa program studi merupakan unit analisis utama dalam mengukur keberhasilan capaian pembelajaran.

Pemaparan materi mencakup penyelarasan matriks I-R-M (Introduced, Reinforced, Mastered) yang disesuaikan khusus untuk jenjang S3 (Doktor) berdasarkan Taksonomi Bloom.

Pada tahap awal atau Introduced (I), mahasiswa diajak untuk mengkritisi, menafsirkan, dan menelaah berbagai konsep dasar (critique, interpret, examine). Progresi pembelajaran ini kemudian diperdalam pada tahap Reinforced (R), di mana mahasiswa didorong untuk mensintesis, merumuskan, serta memvalidasi kerangka pemikiran secara komprehensif (synthesize, formulate, validate).

Puncaknya berada pada tahap Mastered (M), ketika mahasiswa dituntut untuk menciptakan teori baru, mendemonstrasikan kemahiran puncak, serta menghasilkan kontribusi ilmiah yang orisinal (create, theorize, generate new knowledge).

Secara singkat, penyelenggaraan review kurikulum berbasis OBE ini mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penjaminan mutu pembelajaran doktor, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan riset dan kebaruan ilmu (novelty), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) lewat kolaborasi strategis bersama pakar penjaminan mutu eksternal.