07 Agu 2026

Kolaborasi LPPM dan FEB UNS Hadirkan Special Lecture Bahas Ekosistem Startup dan Transformasi Ekonomi Korea Selatan

Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) bersa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bersama menyelenggarakan Special Lecture Inkubasi Sebelas Maret Startup Academy (SEMESTA) 2026 bertajuk Inside Korea’s Start-Up Ecosystem: Opportunities for International Students and Graduates pada Jumat (31/7).

Kegiatan ini menghadirkan Gilbert Tumibay, Ph.D., Assistant Professor SolBridge International School of Business, dan Ignatius Hanny Sugiarto, Regional Manager Woosong University sekaligus alumnus SolBridge, untuk berbagi pengalaman mengenai perkembangan ekosistem startup dan transformasi ekonomi Korea Selatan kepada para peserta inkubasi startup UNS.
Membuka kegiatan, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Prof. Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani, S.H., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan program inkubasi, mulai dari jajaran Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Unit Hilirisasi dan Komersialisasi Produk Penelitian, hingga Business Incubator. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah hadir untuk berbagi pengalaman dan wawasan mengenai ekosistem startup Korea Selatan kepada peserta SEMESTA 2026.

Prof. Ayu menjelaskan bahwa SEMESTA setiap tahun menjaring startup-startup potensial untuk mengikuti proses inkubasi intensif selama kurang lebih delapan bulan. Selama periode tersebut, para peserta memperoleh pendampingan bisnis, pengembangan produk, serta pembinaan agar mampu menghasilkan produk yang siap memasuki pasar. Menurutnya, para peserta yang hadir merupakan talenta-talenta inovatif yang memiliki potensi besar untuk berkembang.

“Selamat kepada seluruh founder startup yang mengikuti kegiatan ini. Mulailah membangun cara berpikir yang mendunia (global) dalam mengembangkan inovasi dan bisnis yang sedang dirintis,” pesan Prof. Ayu kepada para peserta.

Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian, Prof. Tri Mulyaningsih, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa kolaborasi penyelenggaraan kuliah umum ini menjadi kesempatan berharga bagi para peserta startup binaan UNS untuk belajar langsung dari pengalaman Korea Selatan dalam membangun inovasi dan kewirausahaan.

Berdasarkan pengalamannya bekerja di Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta, Prof. Tri menuturkan bahwa salah satu pembelajaran paling berharga yang diperolehnya adalah
Menurutnya, keberhasilan Korea Selatan tidak hanya didukung oleh kemajuan teknologi, tetapi juga oleh budaya kerja yang kuat dan kemampuan mengembangkan potensi lokal menjadi produk yang mampu dikenal di tingkat internasional, seperti yang terlihat pada perkembangan industri budaya populer Korea.

“Saya belajar banyak dari karakter masyarakat Korea, terutama kedisiplinan mereka dalam bekerja. Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu faktor penting yang mendorong kemajuan Korea Selatan,” ungkap Prof. Tri.

Ia berharap para peserta dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali sebanyak mungkin pengetahuan dari narasumber sehingga mampu memperkuat pengembangan startup yang sedang mereka bangun.

Pada sesi utama, Gilbert Tumibay memaparkan perjalanan transformasi ekonomi Korea Selatan yang mampu bangkit dalam kurun waktu sekitar lima dekade setelah Perang Korea pada era 1950-an. Di bawah kepemimpinan Presiden Park Chung-hee selama 18 tahun, pembangunan yang berpusat di kawasan Sungai Han melahirkan fenomena Miracle on the Han River, yang menjadi tonggak kebangkitan ekonomi Korea Selatan melalui pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar hingga mampu mendominasi pasar global.

Gilbert menjelaskan bahwa salah satu kisah sukses industrialisasi Korea Selatan dapat dilihat dari perjalanan Chung Ju-yung, pendiri Hyundai. Berangkat dari latar belakang sederhana tanpa pendidikan formal, ia memulai karier dari bekerja di sawah, kemudian merintis usaha perdagangan beras dan bengkel mobil sebelum akhirnya membangun perusahaan otomotif yang dikenal di dunia.

Menurut Gilbert, salah satu pelajaran penting dari perkembangan kelompok usaha besar (chaebol) seperti Hyundai dan Samsung adalah pentingnya investasi pada pendidikan. Generasi kedua dan ketiga perusahaan-perusahaan tersebut menempuh pendidikan di universitas-universitas terbaik hingga jenjang magister dan doktor sebagai bekal untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Selain kualitas sumber daya manusia, keberhasilan Korea Selatan juga ditopang oleh dukungan pemerintah melalui kebijakan, investasi riset dan pengembangan (research and development), serta penguatan ekosistem kewirausahaan. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan-perusahaan Korea Selatan berkembang menjadi pemain utama dunia di berbagai sektor strategis, seperti baterai kendaraan listrik, industri baja, semikonduktor, panel layar, hingga komponen elektronik yang digunakan oleh berbagai produk teknologi global.

Dalam pemaparannya, Gilbert juga membandingkan dinamika pertumbuhan ekonomi Korea Selatan dengan China. Menurutnya, besarnya populasi China emberikan keuntungan berupa pasar domestik yang mampu menyerap inovasi dalam jumlah sangat besar. Kondisi tersebut menjadi pembelajaran bagi Indonesia yang memiliki sekitar 280 juta penduduk. Dengan pasar domestik yang besar, Indonesia memiliki peluang untuk mendorong pertumbuhan industri nasional dan mengembangkan produk-produk inovatif yang mampu bersaing di pasar global.

Pada aspek pembangunan wilayah, Gilbert menjelaskan bagaimana Korea Selatan mengembangkan Sejong Smart City sebagai kota terencana sekaligus memindahkan sejumlah pusat pemerintahan guna mengurangi kepadatan Seoul. Pembangunan tersebut didukung jaringan transportasi modern, termasuk kereta cepat KTX yang menghubungkan Seoul, Daejeon, dan Busan, serta pengembangan kawasan inovasi Pangyo Techno Valley sebagai pusat kolaborasi antara riset, teknologi, industri, dan kewirausahaan.

Melalui Special Lecture ini, peserta SEMESTA 2026 memperoleh wawasan mengenai berbagai faktor yang mendorong keberhasilan transformasi ekonomi Korea Selatan, mulai dari pembangunan karakter, investasi pada pendidikan, penguatan riset dan inovasi, dukungan pemerintah terhadap industri, hingga pentingnya membangun ekosistem startup yang terintegrasi dan berdaya saing global.

Pembelajaran tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi para startup binaan UNS untuk mengembangkan inovasi yang mampu memberikan nilai tambah dan menjawab tantangan pembangunan di masa depan.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas dan wawasan kewirausahaan serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan ekosistem inovasi, riset, dan startup yang berkelanjutan.