Laboratorium Fintech FEB UNS Bekali Mahasiswa Strategi Hadapi Risiko Perbankan Digital
Laboratorium Financial Technology (Fintech) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan pelatihan bertema “Risk Management in Digital Banking: Strategi Bank Menghadapi Disrupsi Financial Technology” Rabu, 15 April 2026 di Aula Gedung Soedarah Soepono Lantai 5 FEB UNS.
Kegiatan ini menghadirkan Cucu Kurniawati, S.E., M.M. dari Bank Danamon Indonesia Cabang Syariah Solo sebagai narasumber.
Kepala Laboratorium Financial Technology FEB UNS, Wahyu Trinarningsih, S.E., M.M., M.A., CFP., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya laboratorium dalam memfasilitasi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi di bidang financial technology dan manajemen risiko.

Ia menegaskan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam menghadapi transformasi digital di sektor perbankan.
“Digitalisasi ini sudah menyentuh seluruh aspek industri, termasuk perbankan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami bagaimana dampaknya, baik manfaat maupun risiko yang ditimbulkan,” ujar Wahyu.
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa pelatihan ini memiliki keterkaitan dengan kebutuhan akademik mahasiswa.
“Sertifikat dari pelatihan ini dapat digunakan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian skripsi, serta diselaraskan dengan skema sertifikasi yang tersedia di LSP UNS, khususnya di bidang manajemen risiko,” tambahnya.

Dalam sesi materi, Cucu Kurniawati menjelaskan bahwa transformasi perbankan di era digital merupakan respon terhadap perkembangan teknologi dan perubahan perilaku masyarakat yang menginginkan layanan yang cepat, praktis, dan mudah.
Berbagai inovasi seperti mobile banking, QRIS, serta layanan keuangan digital lainnya telah meningkatkan efisiensi dan memperluas akses layanan ke masyarakat.
“Transformasi perbankan saat ini merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat yang ingin serba cepat dan praktis. Oleh karena itu, bank harus mampu beradaptasi dengan mengadopsi teknologi, termasuk berkolaborasi dengan financial technology (fintech),” jelas Cucu.
Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) telah membantu perbankan dalam meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional. Namun demikian, transformasi tersebut juga diiringi dengan berbagai risiko yang perlu dikelola dengan baik.

“Setiap transaksi itu mengandung risiko, sehingga manajemen risiko menjadi hal yang wajib dilakukan untuk meminimalkan potensi kerugian, termasuk risiko siber, perlindungan data, hingga kegagalan sistem teknologi,” tegasnya.
Pelatihan berlangsung secara interaktif dengan penyampaian materi yang dikombinasikan dengan pengalaman praktis di industri perbankan. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga gambaran nyata mengenai implementasi manajemen risiko di sektor perbankan.
Melalui kegiatan ini, FEB UNS menunjukkan komitmennya dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi mahasiswa, serta poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan industri keuangan di era digital.