09 Okt 2026

Respon Disrupsi Teknologi, Prodi S1 Manajemen FEB UNS Hadirkan Praktisi, Bedah Kepemimpinan dan Masa Depan Kerja Era AI

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Dosen Tamu Mata Kuliah Kepemimpinan bertajuk “Beyond Human Intelligence: Leadership and the Future of Work in the Age of AI” di Aula Gedung Soedarah Soepono FEB UNS, Rabu (7/10/2026).

Acara ini menghadirkan praktisi bisnis Radita Sonixtus Arauna, ST., MBA., CPM (Asia), CMT, Direktur Indonesia Quality Development Program (IQ DEVPRO), untuk membedah peta transformasi kepemimpinan dan masa depan dunia kerja di tengah masifnya adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Dalam pembukaan diskusi, moderator acara, Siti Khoiriyah, S.E., M.Si. menekankan pentingnya mendefinisikan kembali peran kepemimpinan manusia ketika teknologi AI semakin mampu mengambil alih tugas-tugas analitis, mulai dari penyusunan laporan, perumusan strategi, hingga pemberian rekomendasi keputusan bisnis.

“Ketika intelligence atau kecerdasan dapat semakin banyak dikerjakan oleh mesin, apakah leadership juga dapat digantikan oleh mesin? Atau justru semakin canggih AI, semakin penting kualitas-kualitas manusia seperti judgement, empathy, ethics, courage, trust, dan ability to inspire others?” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan utama bagi calon pemimpin masa depan bukanlah bertarung mengalahkan AI, melainkan bagaimana mampu bekerja berdampingan dengan AI tanpa kehilangan nilai-nilai hakiki kemanusiaan.

Di sesi paparan materi, Direktur IQ DEVPRO, Radita Sonixtus Arauna menjelaskan bahwa kecerdasan buatan secara fundamental telah memenuhi dua syarat utama penerimaan teknologi (technology acceptance), yaitu berguna (useful) dan mudah digunakan (easy to use).

“Pertanyaan saat ini, bukan lagi, apakah saya masih harus menggunakan AI? Sudah bukan itu lagi. Sudah bukan lagi pertanyaan mau pakai AI apa enggak, tapi seberapa cepat dan seberapa baik kita bisa beradaptasi,” ujar Sonix.

Ia juga menyoroti hambatan adopsi teknologi pada budaya organisasi di Indonesia dan Asia yang memiliki tingkat power distance (jarak kekuasaan) cenderung tinggi. Menurutnya, rasa hormat yang sangat tinggi terhadap hierarki jabatan membuat anggota tim sangat bergantung pada gestur dan instruksi pemimpin.

“Di Indonesia atau Asia, power distance-nya tinggi. Ketika leadernya bilang ‘jangan pakai AI’ atau ragu-ragu, tidak ada tim yang berani pakai. Kalau pemimpinnya menunggu, itu akan membuat bottleneck dalam dunia bisnis,“ ungkap Sonix.

Guna mengatasi hambatan tersebut, Sonix memaparkan empat langkah kunci bagi pemimpin di era AI.

Langkah pertama, mengambil keputusan (buka pintu), pemimpin harus berani menetapkan arah penggunaan AI meskipun di tengah ketidakpastian; Kedua, ikut belajar secara aktif, pemimpin tidak boleh sekadar menuntut hasil dari tim, melainkan wajib mempelajari cara kerja AI; Ketiga, mengeksplorasi beragam platform AI, pemimpin dan tim harus mencoba berbagai platform sesuai kelebihannya; Bertanggung jawab atas hasil kerja, pemimpin wajib memverifikasi hasil kerja AI sebelum dipublikasikan dan tidak melemparkan kesalahan kepada teknologi.

Selain aspek kepemimpinan, pergeseran ini membawa implikasi besar bagi lulusan baru (fresh graduates) yang akan memasuki pasar kerja (entry-level work), di mana porsi core skills diperkirakan bergeser 40 hingga 50 persen.

Penguasaan teknis dasar tidak lagi menjadi pembeda utama, melainkan keterampilan non-teknis (power skills) seperti analytical thinking, creative thinking, flexibility, resilience, curiosity, serta leadership talent management.

Menutup pemaparannya, Sonix mengingatkan para mahasiswa FEB UNS agar tidak terjebak dalam crab mentality atau sikap meremehkan orang lain yang memanfaatkan AI.

“Kapasitas pengolahan data AI saat ini sudah melampaui rata-rata IQ manusia. Jangan punya crab mentality. Lakukan reality check, cobalah (try and use) berbagai tools AI, dan manfaatkan efisiensi waktu yang didapat untuk belajar lebih dalam agar tetap relevan,” pungkas Sonix.

Kuliah Dosen Praktisi ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyiapan mahasiswa yang adaptif terhadap kemajuan teknologi; SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pembekalan power skills untuk menghadapi transformasi pasar kerja; serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) lewat integrasi AI secara bijak dan bertanggung jawab guna mendorong efisiensi serta inovasi organisasi.