{"id":41356,"date":"2026-06-11T20:53:46","date_gmt":"2026-06-11T13:53:46","guid":{"rendered":"https:\/\/feb.uns.ac.id\/feb\/?p=41356"},"modified":"2026-06-15T14:58:40","modified_gmt":"2026-06-15T07:58:40","slug":"menjembatani-riset-dan-kebijakan-publik-mesp-feb-uns-gelar-workshop-penyusunan-policy-brief-berdampak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/feb.uns.ac.id\/feb\/menjembatani-riset-dan-kebijakan-publik-mesp-feb-uns-gelar-workshop-penyusunan-policy-brief-berdampak\/","title":{"rendered":"Menjembatani Riset dan Kebijakan Publik, MESP FEB UNS Gelar Workshop Penyusunan Policy Brief Berdampak"},"content":{"rendered":"
Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan workshop strategis bertajuk \u201cMenyusun Policy Brief yang Berdampak bagi Pengambilan Kebijakan Publik\u201d<\/em> pada Kamis, 11 Juni 2026.<\/p>\n Bertempat di Gedung Bachtiar Effendi FEB UNS, kegiatan diikuti sivitas akademika, mahasiswa MESP serta perwakilan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen, hingga Pemkab Wonogiri.<\/p>\n Dalam sambutan pembukanya, Prof. Suryanto, Ketua Program Studi MESP menyampaikan rasa bangganya atas konsistensi program akademik di FEB UNS yang dilaksanakan secara terus-menerus. Sebelumnya, MESP telah sukses menggelar workshop mengenai Environmental Economics<\/em> bersama narasumber dari UGM.<\/p>\n Ke depan, Prof. Suryanto mengumumkan agenda besar berikutnya pada 15-16 Juni 2026 mendatang. Agenda dua hari tersebut berfokus pada pengembangan Economics Green<\/em> yang nantinya akan diintegrasikan menjadi sertifikat pendamping jasa atau SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah). Mahasiswa S2, khususnya dari MESP, diminta segera meregistrasikan diri.<\/p>\n Terkait workshop hari ini, Prof. Suryanto menekankan pentingnya penguasaan penulisan policy brief<\/em> (risalah kebijakan) bagi akademisi maupun praktisi pemerintahan di Solo, Sragen, maupun Wonogiri.<\/p>\n “Kami berharap kegiatan ini bisa ada kelanjutannya atas arahan dan harapan penuh dari Ibu Wakil Dekan (Wadek). Kami memohon partisipasi serius dari Bapak, Ibu, dan adik-adik mahasiswa. Siapa tahu nanti jika disetujui, kita rencanakan policy brief<\/em> ini bisa menjadi salah satu opsi pengganti tesis bagi mahasiswa S2,” ujar Prof. Suryanto.<\/p>\n Sebagai pengantar materi, Dr. Erda Rindrasih, S.Si., MURP, narasumber dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa kebijakan pada hakikatnya adalah sebuah keputusan (decision<\/em>). Mengutip adagium, \u201cpolicy is whatever government choose to do or not to do. It is what government do.\u201d<\/em> Ia mengingatkan para peserta agar mampu memetakan persoalan ke dalam tingkatan yang tepat: operasional, teknis, strategis, politis, hingga etis yang melampaui sekat politik (beyond politics<\/em>).<\/p>\n “Kita harus belajar meletakkan solusi sesuai dengan porsi masalahnya. Sering kali kita terjebak meributkan hal operasional kecil\u2014seperti isu adanya belatung di makanan Makanan Bergizi Gratis (MBG)\u2014padahal masalahnya bisa jadi ada di tingkat teknis supply chain<\/em>, desain strategis yang salah dari awal, atau bahkan di ranah penganggaran (politis). Jangan sampai isunya operasional, tapi solusinya politis. Jangan menepuk nyamuk dengan bom nuklir,” tegas Dr. Erda.<\/p>\n Ia juga mencontohkan bagaimana aspek etis memiliki tantangan global yang rumit karena perbedaan nilai (values<\/em>) antar-daerah atau negara, seperti pandangan terhadap LGBT yang sudah diterima di luar negeri namun belum bisa diterima di Indonesia.<\/p>\n Prinsip Policy Brief<\/em>: Selembar Risalah Ringan Teman Minum Kopi<\/strong><\/p>\n Lebih lanjut, Dr. Erda meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi di lapangan di mana istilah policy brief<\/em> sering kali tertukar dengan policy paper<\/em>, makalah kebijakan, atau artikel kebijakan. Policy brief<\/em> atau risalah kebijakan memiliki karakteristik yang sangat spesifik: ringkas (4 hingga maksimal 8 halaman), dikemas secara ringan agar selesai dibaca dalam waktu 5-7 menit saja sambil minum kopi, serta menggunakan bahasa non-spesialis yang mudah dipahami layaknya anak kelas 2 SMP tanpa jargon asing yang rumit.<\/p>\n Untuk menyusun policy brief<\/em> yang baik, Dr. Erda mengajak peserta melatih cara berpikir terstruktur melalui simulasi kasus kemandirian farmasi:<\/p>\n Dukungan Terhadap Pencapaian SDGs<\/strong><\/p>\n Melalui luaran konkret berupa draf policy brief<\/em> dari para dosen, mahasiswa, peneliti, dan praktisi daerah yang hadir, kegiatan yang diinisiasi oleh FEB UNS ini secara tidak langsung turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals \/ Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Terutama pada SDGs Target 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui kemandirian sektor kesehatan\/farmasi), SDGs Target 4 (Pendidikan Berkualitas), serta SDGs Target 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi erat antara akademisi perguruan tinggi dan pemerintah daerah (Pemkot Solo, Pemkab Sragen, dan Pemkab Wonogiri).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":" Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan workshop strategis bertajuk \u201cMenyusun Policy Brief yang Berdampak bagi Pengambilan Kebijakan Publik\u201d […]<\/p>\n","protected":false},"author":3264,"featured_media":41357,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[105,103],"tags":[],"class_list":["post-41356","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-fakultas","category-s2_mesp"],"yoast_head":"\n
<\/p>\n
<\/p>\n
<\/p>\n\n