Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret https://feb.uns.ac.id/feb/ Knowledge for Prosperity Wed, 24 Jun 2026 09:31:57 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://feb.uns.ac.id/feb/wp-content/uploads/2025/09/cropped-logo-feb-uns-baru-3-32x32.png Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret https://feb.uns.ac.id/feb/ 32 32 Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi https://feb.uns.ac.id/feb/lab-bina-desa-feb-uns-hadirkan-praktisi-pln-diskusikan-peluang-pengembangan-desa-berbasis-energi/ Mon, 22 Jun 2026 10:12:17 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41529 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Sharing Session bertajuk “Future Energy Synergy: Transformasi Desa melalui Sinergi Praktisi K3 PLN dan Lab Bina […]

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Sharing Session bertajuk “Future Energy Synergy: Transformasi Desa melalui Sinergi Praktisi K3 PLN dan Lab Bina Desa FEB UNS” secara daring, Jumat 19 Juni 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Luky Handianto Adi Pamungkas, S.E., M.M., Senior Officer K3 PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur (UIT JBM), sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Luky menjelaskan bahwa sektor energi memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan masyarakat. PLN UIT JBM saat ini mengelola lebih dari 8.329 kilometer jaringan transmisi dan 173 gardu induk yang menjadi tulang punggung pasokan listrik bagi wilayah Jawa dan Bali. Infrastruktur tersebut menopang berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari sektor industri hingga masyarakat pedesaan.

Ia juga memaparkan tren pertumbuhan kebutuhan listrik di Jawa Timur dan Bali yang terus meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa energi tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga faktor penting dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami berbagai peluang kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi, khususnya dalam menghubungkan kompetensi mahasiswa FEB UNS dengan kebutuhan sektor energi. Salah satu fokus yang dibahas adalah peran lulusan bidang manajemen, akuntansi, dan ekonomi pembangunan dalam mendukung pengelolaan BUMDes, efisiensi energi, hingga transformasi ekonomi desa yang berkelanjutan.

Luky menekankan bahwa mahasiswa dapat menjadi agen perubahan di desa melalui peningkatan literasi energi, pengembangan inovasi BUMDes berbasis layanan digital, serta penguatan ekonomi kreatif yang memanfaatkan akses listrik secara optimal. Selain itu, mahasiswa juga dapat berperan dalam mengedukasi masyarakat mengenai keselamatan ketenagalistrikan dan pentingnya penggunaan listrik secara legal.

Dalam sesi diskusi, dibahas pula pentingnya penyesuaian kurikulum perguruan tinggi agar selaras dengan kebutuhan industri. Kompetensi yang relevan dengan perkembangan Industri 4.0, seperti digital business ketenagalistrikan, manajemen aset transmisi, serta sustainability dan ESG reporting, dinilai menjadi bekal penting bagi lulusan di masa depan.

Lebih lanjut, narasumber menawarkan peluang kerja sama antara PLN dan FEB UNS melalui riset bersama, mulai dari kajian dampak ekonomi stabilitas energi terhadap UMKM desa, evaluasi program CSR berbasis SDGs, hingga pengembangan konsep “Desa Energi Digital”. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan publikasi ilmiah yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Laboratorium Bina Desa FEB UNS juga dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat inkubasi pengembangan masyarakat desa melalui penguatan keterampilan teknis, literasi keuangan, dan tanggung jawab sosial. Sinergi dengan praktisi PLN diharapkan dapat memperluas dampak program pemberdayaan masyarakat sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin dinamis.

Melalui kegiatan ini, FEB UNS menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan transformasi desa yang berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan yang tidak hanya memahami aspek ekonomi, tetapi juga memiliki wawasan mengenai ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Keterkaitan dengan SDGs: Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi mahasiswa, SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui peningkatan literasi dan akses energi, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan ekonomi desa, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-manajemen-sdm-ii-feb-uns-menjawab-tantangan-ai-skill-gap-dan-transformasi-dunia-kerja/ Mon, 22 Jun 2026 09:28:44 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41517 Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Manajemen SDM II bertajuk “Human Resource Transformation and Addressing the Challenges Brought by AI and […]

Artikel Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Manajemen SDM II bertajuk “Human Resource Transformation and Addressing the Challenges Brought by AI and Digitization”, Sabtu 20 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Ripy Mangkoesoebroto, S.Psi., M.Sc., Commissioner PT Sampoerna Karya Bangsa, yang membagikan wawasan mengenai transformasi pengelolaan sumber daya manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi.

Kuliah ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif praktis mengenai perubahan dunia kerja serta tantangan pengelolaan SDM di era transformasi teknologi.

Dalam pemaparannya, Ripy membagi materi ke dalam tiga aspek utama, yaitu perubahan dunia kerja (what is changing), pengelolaan transformasi people and culture (leading the transformation), serta persiapan individu dan organisasi menghadapi masa depan (how do we prepare ourselves).

Pada aspek pertama, ia menjelaskan bahwa AI dan digitalisasi telah mengubah cara organisasi beroperasi, mulai dari interaksi dengan pelanggan, rantai pasok, proses kerja, hingga struktur pekerjaan. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga pada ekspektasi terhadap tenaga kerja dan budaya organisasi. Seiring perkembangan ini, sejumlah pekerjaan mengalami transformasi, sementara peran-peran baru juga muncul dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda. Karena itu, pembaruan keterampilan menjadi kebutuhan yang terus-menerus.

Ripy menegaskan bahwa saat ini fokus utama dunia kerja tidak lagi hanya pada job description, melainkan pada output dan dampak terhadap bisnis. Ia juga menyoroti adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta, di mana banyak lulusan belum sepenuhnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan keterampilan seperti literasi digital dan AI, literasi data, analytical thinking, problem solving, komunikasi, adaptasi, rasa ingin tahu, serta ownership.

Pada aspek kedua, Ripy menjelaskan bahwa transformasi organisasi perlu diikuti dengan perubahan dalam pengelolaan people and culture. Struktur organisasi kini bergerak menuju model yang lebih lincah, kolaboratif, dan berbasis kompetensi. Penilaian kinerja juga bergeser dari aktivitas menjadi dampak dan hasil yang diberikan terhadap bisnis. Sejalan dengan itu, peran kepemimpinan berubah dari fungsi kontrol menjadi fasilitator yang mengembangkan tim serta mengelola kolaborasi antara manusia dan teknologi.

Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, aspek kemanusiaan tetap menjadi kunci, terutama empati, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang bijak. Selain itu, kesejahteraan karyawan (well-being) menjadi faktor penting karena kinerja optimal hanya dapat dicapai ketika individu berada dalam kondisi fisik dan mental yang baik.

Pada aspek ketiga, Ripy menekankan pentingnya kesiapan individu dan organisasi dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kemampuan beradaptasi, pemanfaatan teknologi secara efektif, serta pembelajaran berkelanjutan menjadi hal yang krusial. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi seperti kemampuan analitis, inovasi, pengelolaan diri, ketahanan (resilience), komunikasi, dan kolaborasi. Di sisi lain, organisasi perlu memastikan tata kelola penggunaan AI dan perlindungan data dilakukan secara etis dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa peran fungsi Human Resource atau People and Culture kini berkembang menjadi mitra strategis bisnis yang tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga pada pengelolaan talenta berbasis data, perencanaan kebutuhan masa depan, serta pemanfaatan teknologi secara etis dalam pengambilan keputusan SDM.

Menutup paparannya, Ripy menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Ia mengingatkan bahwa dalam era digital, individu tidak akan tergantikan oleh teknologi, melainkan oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara lebih efektif.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan pendidikan, kesiapan kerja, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam transformasi organisasi.

Artikel Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-komunikasi-bisnis-feb-uns-bangun-career-branding-sejak-kuliah/ Mon, 22 Jun 2026 09:18:17 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41516 Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Mata Kuliah Komunikasi Bisnis dengan menghadirkan Sonny Hendrawan Saputra, Corporate Risk Management Section Head […]

Artikel Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Mata Kuliah Komunikasi Bisnis dengan menghadirkan Sonny Hendrawan Saputra, Corporate Risk Management Section Head PT Astra Honda Motor, sebagai keynote speaker.

Kuliah Praktisi yang dimoderatori oleh Miftachul Ma’arif, S.E.I., M.M.,LSS.Cp, Dosen FEB UNS berlangsung secara daring,  Sabtu 20 Juni 2026.

Dalam sesi bertajuk “Career Branding & Strategic Job Market Navigation”, mahasiswa diajak memahami pentingnya membangun identitas profesional dan merancang strategi karier sejak masa perkuliahan.

Dalam paparannya, Sonny menekankan bahwa penguasaan teori dan keterampilan teknis saja tidak selalu cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Menurutnya, mahasiswa perlu mulai memikirkan bagaimana membangun nilai diri dan citra profesional yang dapat dikenali oleh lingkungan akademik maupun dunia industri.

“Kalau bisa mulai lebih awal dalam career branding, pasti akan semakin baik dibandingkan menunggu setelah lulus. Semakin dini dipersiapkan, semakin banyak peluang yang bisa terbuka di masa depan,” ungkap Sonny.

Ia juga membagikan perjalanan kariernya yang berawal dari berbagai aktivitas dan pengalaman selama menjadi mahasiswa. Berbagai pencapaian yang diraih, mulai dari pengalaman organisasi, aktivitas menulis, hingga pengembangan jejaring profesional, menurutnya merupakan bagian dari proses membangun personal branding yang kemudian berkembang menjadi career branding.

Dalam sesi tersebut, Sonny menjelaskan bahwa career branding merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menunjukkan nilai, kompetensi, serta keunggulan yang dimiliki seseorang kepada publik.

Melalui berbagai karya, aktivitas, maupun kontribusi yang dilakukan secara konsisten, seseorang dapat membentuk persepsi positif yang akan menjadi modal penting dalam pengembangan karier.

“Career branding adalah bagaimana orang lain melihat dan mengingat nilai yang kita miliki ketika kita tidak berada di ruangan tersebut. Karena itu, penting untuk mulai membangun value sejak sekarang,” jelasnya.

Selain membahas konsep career branding, Sonny juga mengajak mahasiswa untuk memiliki pandangan yang lebih strategis dalam merencanakan karier.

Ia menegaskan bahwa memperoleh pekerjaan tidak cukup hanya mengandalkan penyebaran CV atau keberuntungan semata, tetapi perlu didukung oleh kompetensi, pengalaman, jejaring, dan reputasi yang dibangun secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan praktis mengenai pentingnya mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja sejak dini. Kuliah praktisi menjadi sarana untuk menjembatani teori yang dipelajari di kelas dengan pengalaman nyata dari praktisi industri, sehingga mahasiswa dapat memahami tantangan sekaligus peluang yang akan dihadapi di masa depan.

Kegiatan ini mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan wawasan dan kompetensi mahasiswa, serta SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membekali mahasiswa strategi pengembangan karier dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Artikel Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-maksi-feb-uns-kupas-tata-kelola-dan-pelaporan-keuangan-blud-pada-rumah-sakit-daerah/ Thu, 18 Jun 2026 08:59:23 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41501 Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Praktisi bertajuk Pelaporan Sektor Publik dan Penyusunan Modul: Case Study pada RSUD, Jumat […]

Artikel Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Praktisi bertajuk Pelaporan Sektor Publik dan Penyusunan Modul: Case Study pada RSUD, Jumat 12 Juni 2026 secara daring.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan tiga narasumber dari praktisi sektor publik dan profesi audit, yakni Direktur UPTD RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, Lampung, Dr. Eko Hendro Saputro, S.T., M.Kes., Plt. Kepala Bagian Keuangan UPTD RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, Fitri Novilia, S.E., M.S.Ak., serta Auditor KAP Wartono dan Rekan, Heru Prasetyo, S.E., M.H., Ak.

Ketua Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS, Lulus Kurniasih, S.E., M.S.Ak., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber yang telah berkenan berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan keuangan sektor publik, khususnya di lingkungan rumah sakit daerah.

“Adapun kegiatan ini ditujukan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa S2 Akuntansi yang saat ini berada di semester 1 dan 2. Dengan harapan bahwa apa yang dipelajari tidak hanya theoretical based, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana real case di dunia nyata,” ungkapnya.

Lulus menjelaskan bahwa kuliah praktisi merupakan bagian dari upaya Prodi MAKSI untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Melalui interaksi langsung dengan para praktisi, mahasiswa diharapkan mampu memahami implementasi berbagai konsep akuntansi dan pelaporan sektor publik yang selama ini dipelajari di ruang kelas.

Selain memberikan pengalaman belajar berbasis kasus nyata, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal penguatan kerja sama antara FEB UNS dan RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro.

Menurutnya, tindak lanjut yang direncanakan tidak hanya berupa penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi juga penyusunan modul pembelajaran berbasis kasus yang dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan di Prodi MAKSI.

“Selain harapan adanya MoU, nantinya akan kami susun modul dari tim MAKSI berdasarkan apa yang kita dapatkan pada hari ini. Modul tersebut berbasis real case sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran,” jelasnya.

Dalam sesi utama, Dr. Eko Hendro Saputro memaparkan materi mengenai implementasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada rumah sakit pemerintah daerah sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan pelayanan publik. Ia menjelaskan bahwa penerapan BLUD memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan tanpa mengesampingkan prinsip akuntabilitas dan transparansi.

Menurut Eko, BLUD menjadi instrumen strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

 “BLUD bukan hanya fleksibilitas keuangan, tetapi strategi penguatan pelayanan publik yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, ” tegasnya.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami berbagai aspek pengelolaan keuangan BLUD, mulai dari penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), pelaksanaan anggaran, sistem akuntansi, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan. Narasumber juga menjelaskan tantangan implementasi BLUD, termasuk kebutuhan penguatan kapasitas sumber daya manusia, harmonisasi regulasi, dan perubahan budaya organisasi dalam mendukung tata kelola yang lebih efektif.

Selain aspek keuangan, materi juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan rumah sakit. Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), Rekam Medis Elektronik (RME), pengembangan e-BLUD, serta pemanfaatan dashboard manajemen menjadi bagian dari upaya menciptakan tata kelola rumah sakit yang modern, terintegrasi, dan berbasis data.

Melalui studi kasus RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana prinsip-prinsip pelaporan sektor publik diterapkan dalam praktik.

Kehadiran Fitri Novilia sebagai pengelola keuangan rumah sakit dan Heru Prasetyo sebagai auditor eksternal turut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengelolaan, pelaporan, serta proses pengawasan dan audit pada organisasi sektor publik.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDGs 4, 3 dan 17 melalui penguatan pembelajaran berbasis praktik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pelayanan publik.

Artikel Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa https://feb.uns.ac.id/feb/laboratorium-bina-desa-feb-uns-bekali-mahasiswa-dengan-strategic-marketing-tools-untuk-pengembangan-ekonomi-desa/ Thu, 18 Jun 2026 08:23:09 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41494 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha melalui pelatihan bertajuk Strategic Marketing Tools for Rural-Based […]

Artikel Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha melalui pelatihan bertajuk Strategic Marketing Tools for Rural-Based Enterprises: Membangun Daya Saing Ekonomi Desa Berbasis Inovasi dan Kolaborasi, Rabu 17 Juni 2026 secara daring.

Kegiatan yang diikuti mahasiswa FEB UNS, menghadirkan Wisnu Adi Saputro, Area Sales Manager PT. Gawih Jaya Surabaya sebagai narasumber utama.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program yang terus dikembangkan oleh Laboratorium Bina Desa untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dengan berbagai mitra eksternal.

“Acara ini merupakan salah satu seri kegiatan Laboratorium Bina Desa. Besok kami juga akan melaksanakan kegiatan bersama rekan-rekan dari HRD Klinik Pratama Sukoharjo, dan pada kesempatan berikutnya akan berkolaborasi dengan PLN. Kami berupaya agar layanan Laboratorium Bina Desa, baik kepada internal maupun eksternal, dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang nyata,” ujarnya.

Yogi menambahkan bahwa kolaborasi yang dibangun tidak hanya sebatas kegiatan pelatihan, tetapi juga diarahkan pada pengembangan kerja sama yang lebih luas. Salah satunya adalah membuka peluang magang bagi mahasiswa serta menghadirkan praktisi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan langsung kepada sivitas akademika.

“Ke depan, ketika terdapat peluang dari mitra seperti PT Gawihjaya atau perusahaan lainnya, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan magang. Sebaliknya, para praktisi juga dapat mengisi berbagai materi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. Bahkan, berbagai tantangan dan keresahan yang dihadapi perusahaan dapat menjadi ruang kolaborasi yang bisa kami respons melalui kajian, pendampingan, maupun program-program pengabdian,” jelasnya.

Dalam sesi pelatihan, Wisnu Adi Saputro membagikan berbagai strategi pemasaran yang relevan untuk meningkatkan daya saing usaha berbasis desa di tengah perkembangan ekonomi dan transformasi digital. Ia menekankan pentingnya memahami potensi lokal sebagai dasar dalam merancang strategi pemasaran yang efektif.

Materi yang disampaikan mencakup analisis potensi dan segmentasi pasar desa melalui pendekatan SWOT dan Value Proposition Canvas (VPC), strategi marketing mix (4P), penguatan branding produk lokal, hingga pemanfaatan berbagai platform digital sebagai sarana pemasaran yang efisien dan terjangkau.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan berbagai digital tools seperti WhatsApp Business, Instagram, TikTok, Canva, dan marketplace untuk mendukung promosi dan perluasan pasar produk desa. Melalui berbagai contoh praktik dan studi kasus, mahasiswa diajak memahami bagaimana teknologi digital dapat menjadi jembatan antara potensi lokal dan pasar yang lebih luas.

Wisnu juga menyoroti pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekonomi desa.

Menurutnya, keberhasilan usaha desa tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

“Ekonomi desa tidak dapat berdiri sendiri. Jejaring bisnis sangat penting untuk akses pasar, teknologi, dan dana. Prinsipnya adalah bersama lebih berdaya, terangnya.

Menutup sesi pelatihan, Wisnu menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa memerlukan komitmen bersama yang bertumpu pada inovasi dan kolaborasi.

Ia menyampaikan bahwa “Ekonomi desa yang tangguh dan mandiri dapat dibangun dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan.”

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS terus menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem kolaboratif antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat guna mendorong penguatan ekonomi desa yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 4, 8, dan 17 melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, penguatan ekonomi lokal, dan kolaborasi multipihak dalam pembangunan desa berkelanjutan.

 

Artikel Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo https://feb.uns.ac.id/feb/dari-limbah-menjadi-nilai-tambah-mahasiswa-mesp-uns-belajar-ekonomi-sirkular-di-umkm-desa-berjo/ Thu, 18 Jun 2026 05:57:44 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41483 Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak mahasiswa belajar langsung mengenai praktik ekonomi sirkular melalui kunjungan ke Minions Winner Sumber […]

Artikel Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak mahasiswa belajar langsung mengenai praktik ekonomi sirkular melalui kunjungan ke Minions Winner Sumber Echo di Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar, Rabu (16/6/2026).

Rombongan diterima langsung oleh pemilik usaha kripik pisang, Rifal Afandi, alumni S-1 Ekonomi Pembangunan FEB UNS angkatan 2021, yang mengembangkan usaha pengolahan pisang dengan prinsip pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong dari Taylor’s University Malaysia juga turut di kegiatan tersebut untuk melihat secara langsung bagaimana konsep ekonomi sirkular diterapkan dalam aktivitas usaha masyarakat.

Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong menilai Minions Winner Sumber Echo sebagai sebuah hidden gem atau permata tersembunyi.

Menurutnya, usaha yang berada di wilayah pedesaan tersebut menunjukkan bahwa UMKM mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi melalui penerapan ekonomi sirkular.

“Kita mungkin mengira mereka hanya memproduksi makanan, tetapi ternyata mereka juga melakukan proses daur ulang yang luar biasa terhadap bahan-bahan yang ada. Ini sangat menarik karena dikembangkan oleh UMKM di daerah pedesaan, namun mampu menghasilkan nilai yang tinggi, terutama dalam penerapan ekonomi sirkular,” ujarnya.

Prof. Lin menjelaskan bahwa terdapat tiga praktik utama ekonomi sirkular yang terlihat di lokasi, yakni less waste, redesign, dan value creation. Hampir seluruh bagian dari pisang dapat dimanfaatkan, mulai dari buah hingga kulitnya, sehingga limbah yang dihasilkan sangat minim. Selain itu, pendekatan yang digunakan relatif sederhana dan tidak memerlukan teknologi tinggi, namun tetap mampu menciptakan nilai bagi masyarakat melalui produk yang dihasilkan.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dalam mendorong keberlanjutan UMKM. Menurutnya, dukungan berupa subsidi, regulasi, dan kebijakan yang memadai sangat dibutuhkan agar usaha-usaha seperti ini dapat terus berkembang.

Terkait pengembangan usaha, Prof. Lin menekankan bahwa penguatan merek atau branding menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Menurutnya, teknologi sederhana sudah cukup dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, namun usaha tetap memerlukan identitas dan merek yang kuat agar semakin dikenal oleh masyarakat.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM. Menurutnya, kedua pihak memiliki peran yang sama penting dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset dan pengembangan, khususnya pada aspek pemasaran, penguatan merek, serta penyempurnaan proses ekonomi sirkular, sementara implementasinya dilakukan oleh pelaku usaha.

Sementara itu, Kaprodi MESP FEB UNS, Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kunjungan industri ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai implementasi ekonomi sirkular di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara nyata potensi ekonomi sirkular yang dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi dalam pembelajaran maupun penelitian.

“Kami ingin mahasiswa melihat langsung bagaimana ekonomi sirkular diterapkan di masyarakat. Ternyata ada potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan dapat menjadi contoh bagi mahasiswa dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular,” jelasnya.

Pemilihan Minions Winner Sumber Echo sebagai lokasi kunjungan juga didasarkan pada nilai-nilai yang ditemukan dalam proses produksinya. Jika selama ini masyarakat lebih banyak memanfaatkan buah pisang, di tempat tersebut berbagai bagian lain, termasuk kulit pisang dan hasil samping proses produksi, turut dimanfaatkan sehingga hampir tidak ada limbah yang tersisa.

Menurut Prof. Suryanto, pengalaman lapangan seperti ini diharapkan dapat mendorong lahirnya ide-ide kreatif mahasiswa untuk dituangkan dalam tugas akhir maupun karya ilmiah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi MESP UNS dalam mendampingi pengembangan ekonomi sirkular di tengah masyarakat.

Ia berharap pengembangan ekonomi sirkular dapat terus diperkuat melalui pembelajaran, penelitian, dan pendampingan yang berkelanjutan. Keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan model usaha berbasis ekonomi sirkular diharapkan mampu mendukung pemberdayaan masyarakat, membuka peluang kerja, serta meningkatkan produktivitas warga sekitar. Semakin banyak usaha serupa yang tumbuh dan melibatkan masyarakat lokal, semakin besar pula dampak yang dapat dihasilkan bagi kesejahteraan masyarakat.

Melalui pembelajaran langsung mengenai pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pelaku UMKM, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Artikel Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Visiting Lecturer MESP FEB UNS Bahas Peran Ekonomi Sirkular dalam Transformasi Industri https://feb.uns.ac.id/feb/visiting-lecturer-mesp-feb-uns-bahas-peran-ekonomi-sirkular-dalam-transformasi-industri/ Wed, 17 Jun 2026 12:22:10 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41463 Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong dari Taylor’s University, Malaysia, dalam kegiatan Visiting […]

Artikel Visiting Lecturer MESP FEB UNS Bahas Peran Ekonomi Sirkular dalam Transformasi Industri pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong dari Taylor’s University, Malaysia, dalam kegiatan Visiting Lecturer bertajuk The Role of Circular Economy in Industry, Senin 15 Juni 2026.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Circular Economy Workshop Series bekerja sama dengan CEBCAT Erasmus+ Project tersebut diikuti oleh dosen dan mahasiswa pascasarjana FEB UNS.

Kaprodi MESP FEB UNS Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. Lin sebagai bagian dari program Visiting Lecturer di UNS.

Menurutnya, pengalaman Prof. Lin sebagai akademisi yang telah menghasilkan berbagai publikasi pada jurnal internasional bereputasi akan memberikan wawasan berharga bagi sivitas akademika, khususnya dalam pengembangan penelitian dan publikasi ilmiah.

“Kami berharap Prof. Lin dapat berbagi pengalaman mengenai bagaimana membangun dan mengembangkan penelitian yang baik, menyusun proposal penelitian yang berkualitas, serta menulis artikel ilmiah yang baik,” ujar Prof. Suryanto.

Dalam pemaparannya, Prof. Lin mengajak peserta memahami ekonomi sirkular secara lebih mendalam. Ia mengingatkan bahwa meningkatnya perhatian terhadap ekonomi sirkular, SDGs, ESG, dan isu keberlanjutan perlu diikuti dengan pemahaman yang substantif, bukan sekadar mengikuti tren global.

“Saat ini dunia sedang banyak membicarakan ekonomi sirkular, SDGs, ESG, dan keberlanjutan. Namun bagi saya, ketika ingin melakukan sesuatu, hal tersebut harus berasal dari hati dan keyakinan kita sendiri. Jadi, jangan hanya karena semua orang sedang membicarakan ekonomi sirkular lalu kita ikut beralih ke topik ini,” ujarnya.

Menurut Prof. Lin, ekonomi sirkular merupakan pendekatan yang berfokus pada upaya mengurangi limbah melalui desain ulang sistem.

Untuk menjelaskan konsep tersebut, ia mencontohkan program trade-in yang diterapkan Apple. Produk lama yang dikembalikan pelanggan tidak langsung menjadi limbah, melainkan diperbaiki dan diperbarui (refurbished) sehingga dapat dimanfaatkan kembali dan tetap memiliki nilai ekonomi.

Ia menegaskan bahwa ekonomi sirkular tidak hanya berbicara tentang daur ulang, tetapi juga tentang bagaimana mempertahankan nilai produk, material, dan sumber daya selama mungkin melalui inovasi dan perbaikan sistem.

“Jika ingin memahami ekonomi sirkular, mulailah dengan memikirkan bagaimana mengurangi limbah (less waste). Namun bukan hanya sekadar mengurangi limbah, melainkan juga memikirkan bagaimana melakukan desain ulang (redesign),” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Lin menjelaskan bahwa penerapan ekonomi sirkular perlu diawali dengan mengidentifikasi berbagai titik kehilangan nilai (value leakage) dalam organisasi, baik berupa pemborosan material, energi, waktu, maupun sumber daya lainnya.

Dari identifikasi tersebut, perusahaan dapat mengembangkan berbagai strategi untuk meningkatkan efisiensi, memperpanjang umur produk, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan nilai yang lebih berkelanjutan.

Selain membahas implementasi di dunia industri, Prof. Lin juga mendorong peserta untuk melihat ekonomi sirkular sebagai peluang pengembangan riset.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi industri dapat dikembangkan menjadi pertanyaan penelitian yang relevan sekaligus memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik bisnis berkelanjutan, khususnya di kawasan ASEAN.

Melalui kegiatan Visiting Lecturer ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai ekonomi sirkular sebagai pendekatan transformasi industri yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi yang berkelanjutan melalui desain ulang produk, proses, dan model bisnis.

Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kapasitas akademik dan kolaborasi internasional, SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan transformasi industri berbasis inovasi, serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui dorongan terhadap efisiensi sumber daya dan pengurangan limbah dalam aktivitas ekonomi.

Artikel Visiting Lecturer MESP FEB UNS Bahas Peran Ekonomi Sirkular dalam Transformasi Industri pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Working Paper Forum FEB UNS Bahas Strategi Pengungkapan Perusahaan Pasca Serangan Siber https://feb.uns.ac.id/feb/working-paper-forum-feb-uns-bahas-strategi-pengungkapan-perusahaan-pasca-serangan-siber/ Wed, 17 Jun 2026 11:22:42 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41457 Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian KPPMF FEB UNS Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Research Group (RG) Behavioral Accounting menyelenggarakan Working Paper Forum bertajuk […]

Artikel Working Paper Forum FEB UNS Bahas Strategi Pengungkapan Perusahaan Pasca Serangan Siber pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Pusat Pengembangan Penelitian dan Pengabdian KPPMF FEB UNS Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Research Group (RG) Behavioral Accounting menyelenggarakan Working Paper Forum bertajuk “Narrative Resilience: Abnormal Disclosure Tone After Cyberattacks” , Selasa (26/5/2026) di Ruang Diskusi Dosen FEB UNS.

Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa tersebut menghadirkan Taufiq Arifin, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak. dari RG Behavioral Accounting sebagai narasumber.

Dalam forum ini, Taufiq memaparkan hasil penelitiannya mengenai bagaimana perusahaan merespons serangan siber melalui pengungkapan informasi kepada publik.

Taufiq menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan bersama lima kolaborator tersebut mengkaji pengungkapan perusahaan yang mengalami serangan siber dengan menggunakan analisis tekstual terhadap laporan tahunan perusahaan di Amerika Serikat dan berbagai dokumen pelaporan regulasi selama periode 2005–2023.

Penelitian memanfaatkan pendekatan dictionary-based learning dan machine learning untuk menganalisis 17.008 observasi dari 575 insiden serangan siber.

“Penelitian ini berfokus pada bagaimana perusahaan membangun narasi pengungkapan setelah mengalami serangan siber, terutama terkait nada pengungkapan positif yang muncul dalam laporan mereka,” jelas Taufiq.

Dalam pemaparannya, Taufiq menguraikan dua perspektif teoritis yang digunakan untuk memahami perilaku pengungkapan perusahaan, yakni teori manajemen kesan (impression management) dan teori pengurangan asimetri informasi. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk menjelaskan bagaimana perusahaan menyampaikan informasi kepada investor dan pemangku kepentingan setelah mengalami insiden keamanan siber.

Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti mengukur nada pengungkapan abnormal dengan menganalisis proporsi sentimen positif dan negatif dalam laporan perusahaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak serangan siber terhadap nada pengungkapan positif perusahaan dapat bertahan hingga satu tahun setelah insiden terjadi. Efek tersebut bahkan cenderung meningkat ketika perusahaan mengalami serangan berulang atau ketika perusahaan lain dalam industri yang sama turut menjadi sasaran serangan.

Diskusi yang berlangsung interaktif juga menyoroti relevansi penelitian tersebut dalam konteks Indonesia.

Melalui Working Paper Forum ini, FEB UNS terus mendorong terciptanya atmosfer akademik yang kolaboratif dan produktif sekaligus menjadi ruang diskusi bagi pengembangan riset-riset terkini yang relevan dengan tantangan dunia bisnis dan akuntansi modern.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan kajian terkait transformasi digital dan keamanan siber, serta SDGs poin 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh) melalui upaya mendorong transparansi dan tata kelola perusahaan yang lebih baik dalam menghadapi risiko siber.

Artikel Working Paper Forum FEB UNS Bahas Strategi Pengungkapan Perusahaan Pasca Serangan Siber pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
FEB UNS Fasilitasi 18 Mahasiswa Ikuti Short-Term International Mobility Program https://feb.uns.ac.id/feb/feb-uns-fasilitasi-18-mahasiswa-ikuti-short-term-international-mobility-program/ Sat, 13 Jun 2026 06:01:36 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41372 Sebanyak 18 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Short-Term International Mobility Program di Fakultas Bisnis dan Manajemen Universiti Teknologi MARA (UiTM) Selangor, Malaysia, pada 2–6 […]

Artikel FEB UNS Fasilitasi 18 Mahasiswa Ikuti Short-Term International Mobility Program pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Sebanyak 18 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengikuti Short-Term International Mobility Program di Fakultas Bisnis dan Manajemen Universiti Teknologi MARA (UiTM) Selangor, Malaysia, pada 2–6 Juni 2026.

Pengalaman internasional yang diperoleh mahasiswa tidak hanya melalui kegiatan perkuliahan, tetapi juga berbagai aktivitas akademik dan budaya. Selama berada di UiTM Malaysia, peserta mengikuti diskusi manajemen, perkuliahan kolaboratif dengan dosen UNS dan UiTM, seminar internasional, lokakarya pengembangan keterampilan, pengenalan budaya Malaysia, hingga kunjungan industri ke Beryl’s Chocolate Factory di Selangor. Bagi mahasiswa pascasarjana, program ini juga memberikan kesempatan untuk melakukan konsultasi riset bersama akademisi UiTM.

Program ini menjadi bagian dari komitmen FEB UNS dalam memperluas pengalaman internasional mahasiswa sekaligus meningkatkan daya saing lulusan di tingkat global.

Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNS, Tastaftiyan Risfandy, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa mahasiswa FEB UNS memiliki potensi akademik yang sangat baik. Oleh karena itu, fakultas berupaya memberikan pengalaman tambahan yang dapat memperkuat kompetensi mereka di luar ruang kelas.

“FEB punya mahasiswa yang pintar-pintar, punya mahasiswa yang berkemampuan cukup bagus dalam hal akademik. Nah, agar bisa menambah skills mereka, menambah exposure mereka, menambah daya saing mereka ketika mereka berada di luar kampus, itulah kenapa kami fakultas memutuskan dan membuat program agar mereka bisa mendapatkan international exposure di luar Indonesia,” ujarnya.

Menurut Tastaftiyan, pengalaman internasional menjadi semakin penting di tengah tantangan global yang terus berkembang. Mahasiswa perlu terbiasa berinteraksi dalam lingkungan multikultural dan menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai aktivitas akademik maupun profesional.

“Untuk menghadapi masa depan yang sudah sarat dengan globalisasi dan persaingan internasional, mereka harus familiar dengan bahasa Inggris. Maka kami mempersiapkan anak-anak dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk bisa mendapatkan   xposure di level internasional,” jelasnya.

Melalui program yang bekerja sama dengan UiTM Malaysia tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh berbagai pengalaman baru yang tidak hanya memperkuat kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan komunikasi dan kerja sama lintas budaya.

Tastaftiyan menjelaskan bahwa selama mengikuti program mobilitas, mahasiswa akan berinteraksi dengan mahasiswa internasional, mengikuti perkuliahan, serta terlibat dalam berbagai aktivitas akademik yang mendorong pengembangan kemampuan komunikasi dan negosiasi.

“Mereka harus speaking dengan mereka menggunakan bahasa Inggris, mereka harus mencoba berinteraksi dan mungkin ketika ada tugas-tugas tertentu, nanti ada negotiation skill yang juga bisa mereka pelajari. Saya kira itu beberapa hal dari serangkaian banyak benefit yang bisa mereka dapatkan ketika melakukan student mobility di Malaysia,” katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa internasionalisasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari arah pengembangan FEB UNS. Program mobilitas internasional telah dilaksanakan secara berkelanjutan dan sejalan dengan kebijakan universitas.

“Student yang melakukan international mobility ini tidak hanya tahun ini. Tahun sebelumnya juga kita selaras dengan universitas. Tahun kemarin kita mengirimkan dua mahasiswa ke Prancis dalam rangka student mobility, sedangkan tahun ini kita mencoba fokus di Asia dengan mengirimkan 18 mahasiswa ke Malaysia,” ungkapnya.

Kerja sama antara FEB UNS dan UiTM Malaysia sendiri telah terjalin selama beberapa tahun melalui berbagai kegiatan tridarma perguruan tinggi. Dosen dari kedua institusi secara rutin terlibat dalam kegiatan pengajaran di masing-masing kampus sebagai bentuk kolaborasi akademik yang berkelanjutan.

Pada tahun 2026, kerja sama tersebut diperluas melalui program mobilitas mahasiswa. Menurut Tastaftiyan, mahasiswa FEB UNS memperoleh berbagai kemudahan selama mengikuti program di UiTM sebagai salah satu bentuk dukungan dari mitra internasional.

Selain memberikan manfaat bagi mahasiswa, program ini juga mendukung penguatan jejaring internasional yang dimiliki FEB UNS. Saat ini, FEB UNS memiliki jaringan kerja sama dengan berbagai institusi di kawasan Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Serikat.

“Salah satu alasan kita melakukan internasionalisasi adalah karena saat ini kita sedang pursuing international accreditation, yaitu AACSB. Salah satu prasyaratnya adalah elemen dari institusi, baik dosen maupun mahasiswa, memiliki aktivitas dengan partner-partner yang ada di luar negeri,” jelasnya.

Melalui program ini, FEB UNS berharap mahasiswa dapat memperoleh pengalaman global yang berharga sekaligus memperkuat posisi fakultas sebagai institusi pendidikan yang aktif membangun kolaborasi internasional. Kehadiran mahasiswa FEB UNS di UiTM Malaysia menjadi salah satu langkah nyata dalam menciptakan lulusan yang siap bersaing di tingkat internasional.

Keterkaitan dengan SDGs: Program ini mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kualitas pembelajaran berbasis pengalaman internasional serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan pendidikan tinggi antara FEB UNS dan UiTM Malaysia.

Artikel FEB UNS Fasilitasi 18 Mahasiswa Ikuti Short-Term International Mobility Program pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Menjembatani Riset dan Kebijakan Publik, MESP FEB UNS Gelar Workshop Penyusunan Policy Brief Berdampak https://feb.uns.ac.id/feb/menjembatani-riset-dan-kebijakan-publik-mesp-feb-uns-gelar-workshop-penyusunan-policy-brief-berdampak/ Thu, 11 Jun 2026 13:53:46 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41356 Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan workshop strategis bertajuk “Menyusun Policy Brief yang Berdampak bagi Pengambilan Kebijakan Publik” […]

Artikel Menjembatani Riset dan Kebijakan Publik, MESP FEB UNS Gelar Workshop Penyusunan Policy Brief Berdampak pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan workshop strategis bertajuk “Menyusun Policy Brief yang Berdampak bagi Pengambilan Kebijakan Publik” pada Kamis, 11 Juni 2026.

Bertempat di Gedung Bachtiar Effendi FEB UNS, kegiatan diikuti sivitas akademika, mahasiswa MESP serta perwakilan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen, hingga Pemkab Wonogiri.

Dalam sambutan pembukanya, Prof. Suryanto, Ketua Program Studi MESP menyampaikan rasa bangganya atas konsistensi program akademik di FEB UNS yang dilaksanakan secara terus-menerus. Sebelumnya, MESP telah sukses menggelar workshop mengenai Environmental Economics bersama narasumber dari UGM.

Ke depan, Prof. Suryanto mengumumkan agenda besar berikutnya pada 15-16 Juni 2026 mendatang. Agenda dua hari tersebut berfokus pada pengembangan Economics Green yang nantinya akan diintegrasikan menjadi sertifikat pendamping jasa atau SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah). Mahasiswa S2, khususnya dari MESP, diminta segera meregistrasikan diri.

Terkait workshop hari ini, Prof. Suryanto menekankan pentingnya penguasaan penulisan policy brief (risalah kebijakan) bagi akademisi maupun praktisi pemerintahan di Solo, Sragen, maupun Wonogiri.

“Kami berharap kegiatan ini bisa ada kelanjutannya atas arahan dan harapan penuh dari Ibu Wakil Dekan (Wadek). Kami memohon partisipasi serius dari Bapak, Ibu, dan adik-adik mahasiswa. Siapa tahu nanti jika disetujui, kita rencanakan policy brief ini bisa menjadi salah satu opsi pengganti tesis bagi mahasiswa S2,” ujar Prof. Suryanto.

Sebagai pengantar materi, Dr. Erda Rindrasih, S.Si., MURP, narasumber dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan bahwa kebijakan pada hakikatnya adalah sebuah keputusan (decision). Mengutip adagium, “policy is whatever government choose to do or not to do. It is what government do.” Ia mengingatkan para peserta agar mampu memetakan persoalan ke dalam tingkatan yang tepat: operasional, teknis, strategis, politis, hingga etis yang melampaui sekat politik (beyond politics).

“Kita harus belajar meletakkan solusi sesuai dengan porsi masalahnya. Sering kali kita terjebak meributkan hal operasional kecil—seperti isu adanya belatung di makanan Makanan Bergizi Gratis (MBG)—padahal masalahnya bisa jadi ada di tingkat teknis supply chain, desain strategis yang salah dari awal, atau bahkan di ranah penganggaran (politis). Jangan sampai isunya operasional, tapi solusinya politis. Jangan menepuk nyamuk dengan bom nuklir,” tegas Dr. Erda.

Ia juga mencontohkan bagaimana aspek etis memiliki tantangan global yang rumit karena perbedaan nilai (values) antar-daerah atau negara, seperti pandangan terhadap LGBT yang sudah diterima di luar negeri namun belum bisa diterima di Indonesia.

Prinsip Policy Brief: Selembar Risalah Ringan Teman Minum Kopi

Lebih lanjut, Dr. Erda meluruskan miskonsepsi yang sering terjadi di lapangan di mana istilah policy brief sering kali tertukar dengan policy paper, makalah kebijakan, atau artikel kebijakan. Policy brief atau risalah kebijakan memiliki karakteristik yang sangat spesifik: ringkas (4 hingga maksimal 8 halaman), dikemas secara ringan agar selesai dibaca dalam waktu 5-7 menit saja sambil minum kopi, serta menggunakan bahasa non-spesialis yang mudah dipahami layaknya anak kelas 2 SMP tanpa jargon asing yang rumit.

Untuk menyusun policy brief yang baik, Dr. Erda mengajak peserta melatih cara berpikir terstruktur melalui simulasi kasus kemandirian farmasi:

  1. Memahami Isu Strategis: Mendaftar masalah krusial di permukaan. Contohnya, tingginya impor bahan baku membuat industri farmasi nasional belum mandiri, sehingga jika harga bensin (Pertalite/Pertamax) naik, harga obat lokal rawan terdampak dan kalah saing dengan obat impor.
  2. Bergeser ke Akar Masalah: Menemukan alasan fundamental di balik isu tersebut, seperti regulasi yang belum sejalan atau dukungan anggaran pemerintah yang belum optimal.
  3. Merumuskan Rekomendasi: Menghasilkan argumen berbasis bukti (evidence-based) yang sistematis sebagai alat advokasi kebijakan publik.

Dukungan Terhadap Pencapaian SDGs

Melalui luaran konkret berupa draf policy brief dari para dosen, mahasiswa, peneliti, dan praktisi daerah yang hadir, kegiatan yang diinisiasi oleh FEB UNS ini secara tidak langsung turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals / Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Terutama pada SDGs Target 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui kemandirian sektor kesehatan/farmasi), SDGs Target 4 (Pendidikan Berkualitas), serta SDGs Target 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi erat antara akademisi perguruan tinggi dan pemerintah daerah (Pemkot Solo, Pemkab Sragen, dan Pemkab Wonogiri).

Artikel Menjembatani Riset dan Kebijakan Publik, MESP FEB UNS Gelar Workshop Penyusunan Policy Brief Berdampak pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>