fakultas Arsip - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret https://feb.uns.ac.id/feb/category/fakultas/ Knowledge for Prosperity Wed, 01 Jul 2026 08:53:44 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://feb.uns.ac.id/feb/wp-content/uploads/2025/09/cropped-logo-feb-uns-baru-3-32x32.png fakultas Arsip - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret https://feb.uns.ac.id/feb/category/fakultas/ 32 32 Lab Bina Desa FEB UNS Bahas Potensi Kolaborasi Pembangunan Desa Berbasis Kearifan Lokal di NTT https://feb.uns.ac.id/feb/lab-bina-desa-feb-uns-bahas-potensi-kolaborasi-pembangunan-desa-berbasis-kearifan-lokal-di-ntt/ Wed, 01 Jul 2026 08:08:20 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41710 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Sharing Session Praktisi dan Akademisi secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (29/6/2026). Kegiatan yang mengangkat tema […]

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Bahas Potensi Kolaborasi Pembangunan Desa Berbasis Kearifan Lokal di NTT pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan Sharing Session Praktisi dan Akademisi secara daring melalui Zoom Meeting, Senin (29/6/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Sinergi Pembangunan Desa: Menjejaki Kolaborasi, Isu Lokal, Potensi Riset, dan Pemberdayaan Berbasis Kearifan Lokal di Nusa Tenggara Timur (NTT)” ini menghadirkan akademisi sekaligus praktisi literasi pendidikan NTT, Karolus Banda Larantukan, S.Fil., M.Hum.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E.,Ph.D, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan upaya membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas wilayah untuk memahami berbagai fenomena lokal yang berkembang di NTT.

Menurutnya, banyak kearifan lokal yang selama ini dianggap biasa oleh masyarakat setempat, namun sesungguhnya memiliki potensi besar untuk mendukung pembangunan desa.

“Kami meyakini bahwa ada hal-hal atau kearifan lokal yang bukan menjadi hambatan, tetapi justru sebuah peluang besar yang dapat mendorong kemajuan yang signifikan,” ujarnya.

Ia juga berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah awal terbentuknya kemitraan antara FEB UNS dan berbagai pihak di NTT, baik dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun pengabdian sosial.

“Antara lokalitas dan modernisasi, kita perlu mencari jalan tengah dan solusi bersama. Jika kemitraan ini berjalan secara sederhana tetapi tekun dan terus berdiskusi, saya meyakini perubahan itu dapat diwujudkan,” tambahnya.

Dalam paparannya, Karolus Banda Larantukan menjelaskan bahwa NTT memiliki karakteristik sebagai provinsi kepulauan dengan lebih dari 22 kabupaten dan kota serta kondisi geografis berupa lahan kering. Sebagian besar wilayah NTT mengalami musim kering hingga delapan bulan dalam setahun dan hanya sekitar empat bulan mengalami musim hujan. Kondisi tersebut berdampak pada produktivitas masyarakat, terutama di sektor pertanian.

Selain tantangan iklim, masyarakat NTT juga dihadapkan pada persoalan konektivitas logistik, keterbatasan infrastruktur dasar, serta akses modal yang masih rendah. Di sisi lain, NTT memiliki modal sosial yang kuat berupa adat istiadat dan budaya gotong royong yang di Flores Timur dikenal dengan istilah gemohing.

“Modal sosial yang paling besar di masyarakat NTT adalah adat dan gotong royong. Segala sesuatu dikerjakan bersama-sama tanpa memikirkan keuntungan finansial,” jelasnya.

Karolus juga menyoroti berbagai isu strategis di NTT, seperti kemiskinan dan stunting. Menurutnya, kedua isu tersebut masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan daerah, terutama karena penyebaran penduduk di wilayah kepulauan yang luas.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, ia menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media melalui pendekatan pentahelix.

“Dibutuhkan jembatan antara teori akademik di ruang kelas dengan realitas empiris di lapangan. Kita memerlukan teori yang kontekstual dan mengakar pada persoalan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam sesi tersebut, Karolus juga memperkenalkan berbagai inisiatif pemberdayaan yang dilakukan melalui Komunitas Taman Baca Hutan 46 Waibalun, sebuah komunitas literasi yang didirikannya di Larantuka, Flores Timur. Komunitas ini bergerak dalam pengembangan literasi, dokumentasi sejarah lokal, serta transformasi kearifan lokal sebagai upaya membangun kemandirian masyarakat.

Selain itu, ia menjelaskan berbagai potensi yang dimiliki NTT, mulai dari model pertanian terintegrasi tanam jagung panen sapi, hingga potensi energi terbarukan berupa tenaga surya dan angin yang dinilai sangat besar untuk dikembangkan.

Karolus juga menawarkan sejumlah agenda riset kolaboratif yang dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi, di antaranya penelitian mengenai ekonomi desa dan BUMDes, intervensi stunting berbasis budaya, pengembangan pariwisata dan pertanian lokal, hingga harmonisasi antara hukum adat dan hukum positif.

Ia membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara FEB UNS dan Institut Keguruan dan Teknologi Larantuka (IKTL), baik melalui penelitian bersama, magang tematik, KKN kolaboratif, maupun program pemberdayaan berbasis kearifan lokal.

Diakhir paparannya, Karolus menegaskan bahwa pembangunan desa di NTT tidak dapat hanya mengandalkan transfer teknologi, tetapi harus dibangun melalui dialog antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan lokal yang telah lama hidup di masyarakat.

“Sinergi pembangunan desa di NTT bukan sekadar transfer teknologi, melainkan dialog antara ilmu pengetahuan modern dan kearifan yang telah menjaga tanah ini selama berabad-abad,” tegasnya.

Menutup kegiatan, Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro mengapresiasi terselenggaranya sharing session yang mengangkat tema-tema lokal dalam pembangunan desa. Menurutnya, diskusi semacam ini perlu terus dilakukan secara berkelanjutan dan dapat dikembangkan menjadi serial kajian lintas daerah.

“Tema-tema lokal seperti ini penting dikembangkan agar mahasiswa tidak hanya memahami isu ekonomi yang berkaitan dengan perbankan dan keuangan, tetapi juga persoalan sosial dan potensi lokal di masyarakat,” ujarnya.

Prof. Bhimo juga menyampaikan terima kasih kepada narasumber, Laboratorium Bina Desa, serta seluruh peserta yang hadir dan berharap konsistensi dalam membangun ruang diskusi dan kolaborasi terus terjaga.

Versi ini tetap sesuai dengan narasi asli, tetapi lebih ringkas dan cocok dimasukkan ke dalam press release website fakultas.

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS berharap dapat memperkuat jejaring kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan komunitas lokal untuk menghasilkan riset dan program pemberdayaan yang lebih kontekstual serta berdampak bagi pembangunan desa di Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Bahas Potensi Kolaborasi Pembangunan Desa Berbasis Kearifan Lokal di NTT pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Sharing Session Laboratorium Bina Desa FEB UNS Angkat Potensi Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni Maluku https://feb.uns.ac.id/feb/sharing-session-laboratorium-bina-desa-feb-uns-angkat-potensi-pemberdayaan-desa-penghasil-kopi-tuni-maluku/ Wed, 01 Jul 2026 07:39:34 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41703 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Sharing Session bertajuk “Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni di Maluku: Sinergi Praktisi dan Akademisi Berbasis Kearifan Lokal” […]

Artikel Sharing Session Laboratorium Bina Desa FEB UNS Angkat Potensi Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni Maluku pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Sharing Session bertajuk “Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni di Maluku: Sinergi Praktisi dan Akademisi Berbasis Kearifan Lokal” secara daring melalui Zoom Meeting  Selasa (30/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Pembina Yayasan Kopi Maluku sekaligus Ketua Pengawas Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Yulius Wibowo, dan Ketua Pengurus Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Andre W.A. Sopolatu.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian diskusi yang diselenggarakan Laboratorium Bina Desa dan Research Group (RG) Ekonomi Kerakyatan FEB UNS untuk mengangkat potensi ekonomi lokal di berbagai daerah di Indonesia, khususnya kawasan timur Indonesia.

Dalam pengantarnya, Yogi memaparkan hasil kajian awal mengenai sejarah dan potensi ekonomi kopi di Maluku. Menurutnya, kopi tuni merupakan komoditas bersejarah yang telah dibudidayakan di Maluku sejak abad ke-17 dan memiliki potensi ekonomi yang besar.

“Nilai ekspor kopi cukup tinggi, namun masyarakat di Maluku masih menangkap sebagian kecil dari nilai rantai pasok tersebut. Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperbaiki tata kelola dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Pada sesi materi, Yulius Wibowo mengisahkan bahwa ketertarikannya terhadap kopi tuni bermula ketika ia mencoba kopi asal Maluku dan menemukan cita rasa yang unik. Pengalamannya berkeliling di berbagai wilayah Maluku membuatnya meyakini bahwa kopi tuni merupakan tanaman endemik yang telah lama tumbuh dan dikenal oleh masyarakat setempat.

Ia menjelaskan bahwa kopi tuni memiliki karakteristik yang khas karena setiap kampung menghasilkan cita rasa yang berbeda. Keunikan tersebut dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan pola tanam berbasis agroforestri dengan tanaman pendamping seperti durian, cengkeh, maupun kakao.

“Tidak ada dua kampung yang memiliki cita rasa kopi yang sama. Kami ingin setiap negeri memiliki kebanggaan terhadap kopi yang ditanam di wilayahnya masing-masing,” ungkapnya.

Menurut Yulius, rendahnya harga kopi di tingkat petani pada masa lalu menyebabkan kopi tuni hampir punah karena banyak petani beralih ke komoditas lain. Kondisi tersebut mendorong lahirnya Yayasan Kopi Maluku pada tahun 2018 yang kemudian menyusun grand design pengembangan kopi tuni dari hulu hingga hilir, termasuk pembentukan Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku.

Selain itu, Yayasan Kopi Maluku juga tengah mempersiapkan pendirian Sekolah Kopi Maluku sebagai wadah pendidikan dan peningkatan kapasitas bagi para petani kopi.

Sementara itu, Ketua Pengurus Koperasi Produsen Seribu Negeri Kopi Maluku, Andre W.A. Sopolatu, menjelaskan bahwa koperasi dibentuk untuk menciptakan tata kelola yang lebih berkeadilan bagi petani. Melalui pendampingan dan sistem pembelian yang lebih baik, harga kopi yang diterima petani mengalami peningkatan signifikan.

“Dalam sistem koperasi, kami mengutamakan keadilan bagi anggota dan mendorong petani untuk terus membudidayakan kembali kopi tuni di Maluku,” jelasnya.

Ia menambahkan, koperasi juga memberikan edukasi kepada petani mengenai teknik budidaya, panen, hingga pascapanen agar kualitas kopi yang dihasilkan semakin baik. Pendampingan dilakukan melalui jaringan koordinator di berbagai wilayah di Maluku, termasuk daerah pegunungan dan kepulauan.

Menurut Andre, kopi tuni Maluku saat ini tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga telah diperkenalkan di pasar internasional. Pada tahun 2021, kopi tuni hadir dalam festival kopi di Athena, Yunani, dan kini telah dipasarkan ke sejumlah negara, seperti Belanda, Amerika Serikat, Swiss, Jepang, dan Korea Selatan.

Meski demikian, keterbatasan bahan baku serta tantangan akses transportasi di wilayah kepulauan masih menjadi kendala dalam pengembangan kopi tuni Maluku.

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS berharap sinergi antara akademisi dan praktisi dapat terus diperkuat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat desa berbasis potensi lokal dan kearifan setempat, sekaligus mendorong terciptanya tata kelola komoditas yang lebih berkeadilan bagi petani.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Artikel Sharing Session Laboratorium Bina Desa FEB UNS Angkat Potensi Pemberdayaan Desa Penghasil Kopi Tuni Maluku pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Asesmen Lapangan LAMEMBA, Momentum Evaluasi dan Peningkatan Mutu PDIE FEB UNS https://feb.uns.ac.id/feb/asesmen-lapangan-lamemba-momentum-evaluasi-dan-peningkatan-mutu-pdie-feb/ Wed, 01 Jul 2026 03:38:41 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41686 Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menjalani Asesmen Lapangan (AL) dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) pada 25–26 […]

Artikel Asesmen Lapangan LAMEMBA, Momentum Evaluasi dan Peningkatan Mutu PDIE FEB UNS pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Doktor Ilmu Ekonomi (PDIE) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menjalani Asesmen Lapangan (AL) dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA) pada 25–26 Juni 2026.

Dua asesor LAMEMBA yang melakukan asesmen yakni Prof. Dr. Nasikh, S.E., M.P., M.Pd. dari Universitas Negeri Malang dan Prof. Putu Mahardika Adi Saputra, S.E., M.Si., M.A., Ph.D. dari Universitas Brawijaya.

Kegiatan pembukaan asesmen dilaksanakan pada Kamis (25/6/2026) di Ruang Sidang I Lantai 2 Gedung Soeharno TS FEB UNS dihadiri oleh pimpinan universitas, pimpinan fakultas, tim akreditasi, serta jajaran penjaminan mutu di lingkungan UNS.

Dekan FEB UNS, Prof. Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan bahwa asesmen lapangan merupakan proses yang wajar dalam sebuah institusi pendidikan dan menjadi momentum evaluasi serta pengembangan berkelanjutan bagi PDIE.

“Kalau kita memotret diri sendiri, biasanya kita tidak melihat titik-titik kelemahan dan kesalahan. Melalui asesmen lapangan ini, kami berharap bisa memperoleh pandangan yang lebih objektif sehingga sejalan dengan tujuan institusi untuk terus berkinerja di level nasional maupun internasional,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim task force yang telah mempersiapkan proses asesmen serta menegaskan komitmen fakultas untuk menindaklanjuti berbagai masukan dari asesor demi pengembangan institusi yang lebih baik.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (LPPMP) UNS, Dr. Anjar Sri Ciptorukmi Nugraheni, S.H., M.Hum., yang mewakili Ketua LPPMP, menyampaikan bahwa asesmen eksternal menjadi bagian penting untuk memperoleh pandangan yang objektif mengenai kualitas program studi.

“Kami memerlukan pandangan dari asesor eksternal untuk memotret kami dari luar. Apabila ditemukan hal-hal yang perlu diperbaiki, kami mohon masukan dan arahannya. Semua ini merupakan bagian dari upaya kami untuk terus meningkatkan mutu,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa UNS terus memperkuat Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) secara berjenjang mulai dari tingkat program studi, fakultas, hingga universitas, serta didukung oleh berbagai sistem digital yang menunjang bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Nasikh menyampaikan bahwa kehadiran asesor bukan untuk mencari kesalahan, melainkan melakukan klarifikasi dan konfirmasi atas data yang telah disampaikan program studi melalui Dokumen Evaluasi Diri (DED) dan Dokumen Kinerja Program Studi (DKPS).

“Kami datang untuk melihat fakta dan melakukan konfirmasi apakah dokumen yang telah dikirimkan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Kehadiran kami juga untuk memberikan masukan dan sharing agar ke depan menjadi lebih baik lagi,” jelasnya.

Ia juga mengapresiasi sambutan dan kerja sama yang diberikan oleh UNS dan FEB UNS selama proses asesmen berlangsung.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Putu Mahardika Adi Saputra menyampaikan bahwa proses akreditasi merupakan bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) yang dimiliki setiap institusi pendidikan.

“Semua lembaga pasti memiliki catatan untuk terus melakukan perbaikan. Dengan banyak pihak yang ikut mengawasi dan memberikan masukan, harapannya proses peningkatan mutu akan menjadi semakin efektif dan efisien,” katanya.

Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS sendiri memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya didukung oleh dosen berkualifikasi doktor dan profesor, produktivitas publikasi internasional yang tinggi, jejaring kerja sama internasional, pusat riset strategis, serta capaian lulusan yang kompetitif dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Selama dua hari pelaksanaan, asesor melakukan konfirmasi terhadap dokumen evaluasi diri dan dokumen kinerja program studi, peninjauan lapangan, serta berdialog dengan pimpinan, dosen, mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan.

Pelaksanaan asesmen lapangan ini menjadi bagian dari komitmen Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi melalui budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga akreditasi dalam mendorong peningkatan mutu pendidikan.

Artikel Asesmen Lapangan LAMEMBA, Momentum Evaluasi dan Peningkatan Mutu PDIE FEB UNS pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Dosen UNS Dampingi BUMDESMA Karanganyar Kelola Keuangan dan Perpajakan Sesuai Regulasi Terbaru https://feb.uns.ac.id/feb/dosen-uns-dampingi-bumdesma-karanganyar-kelola-keuangan-dan-perpajakan-sesuai-regulasi-terbaru/ Tue, 30 Jun 2026 01:12:56 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41675 Empat dosen Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. E. Muhtar, S.Pd., M.Si., CFrA, Sutaryo, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA., CRA., CRP., ACPA, Dr. Jaka Winarna, M.Si., Ak., dan Prihatnolo Gandhi […]

Artikel Dosen UNS Dampingi BUMDESMA Karanganyar Kelola Keuangan dan Perpajakan Sesuai Regulasi Terbaru pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Empat dosen Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. E. Muhtar, S.Pd., M.Si., CFrA, Sutaryo, S.E., M.Si., Ph.D., Ak., CA., CRA., CRP., ACPA, Dr. Jaka Winarna, M.Si., Ak., dan Prihatnolo Gandhi Amidjaya, S.E., M.Sc., melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat 26 Juni 2026.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus wujud nyata kampus berdampak melalui peningkatan kompetensi pengelola BUMDESMA, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan administrasi perpajakan.

Kegiatan pengabdian berfokus pada pendampingan pelaporan keuangan dan administrasi perpajakan berdasarkan regulasi terbaru selama satu hari. Setelah itu, tim pengabdian akan melanjutkan pendampingan pada praktik sehari-hari di masing-masing BUMDESMA, terutama terkait pengelolaan keuangan dan administrasi perpajakan.

Sebanyak 15 peserta yang terdiri atas manajer dan pengelola keuangan maupun perpajakan BUMDESMA di Kabupaten Karanganyar mengikuti kegiatan ini.

Melalui program tersebut, tim pengabdian berharap dapat meningkatkan literasi dan kompetensi pengelola BUMDESMA sehingga praktik administrasi keuangan dan perpajakan dapat berjalan dengan baik, patuh, transparan, dan akuntabel.

Dalam sambutannya, Sutaryo, perwakilan tim pengabdian menekankan pentingnya penguasaan regulasi terbaru dalam pengelolaan keuangan dan perpajakan bagi BUMDESMA.

Dengan kompetensi yang memadai, proses pengelolaan keuangan dan administrasi perpajakan BUMDESMA akan dapat dilakukan secara baik, patuh, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan, terangnya.

Sementara itu, perwakilan BUMDESMA, Teguh Wiyono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan tambahan informasi dan meningkatkan kompetensi pegawai BUMDESMA terkait pembaruan regulasi dan implementasinya dalam operasional sehari-hari.

Kegiatan seperti ini sangat penting dan bermanfaat bagi kami. Kami berharap kerja sama dan program pengabdian seperti ini dapat terus berlanjut sehingga pengelolaan BUMDESMA senantiasa mengalami perbaikan secara berkelanjutan,” ungkap Teguh.

Untuk memberikan dampak yang lebih luas, kegiatan ini akan dilanjutkan melalui pendampingan dalam bentuk evaluasi dan monitoring langsung terhadap praktik pengelolaan keuangan dan administrasi perpajakan di masing-masing BUMDESMA.

Dengan pendampingan tersebut, diharapkan para pengelola BUMDESMA mampu melaksanakan pengelolaan keuangan dan administrasi perpajakan secara mandiri, baik, dan sesuai dengan regulasi terbaru.

Kegiatan pengabdian ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan SDG 17: Kemitraan untuk Tujuan (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat.

Artikel Dosen UNS Dampingi BUMDESMA Karanganyar Kelola Keuangan dan Perpajakan Sesuai Regulasi Terbaru pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi https://feb.uns.ac.id/feb/lab-bina-desa-feb-uns-hadirkan-praktisi-pln-diskusikan-peluang-pengembangan-desa-berbasis-energi/ Mon, 22 Jun 2026 10:12:17 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41529 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Sharing Session bertajuk “Future Energy Synergy: Transformasi Desa melalui Sinergi Praktisi K3 PLN dan Lab Bina […]

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Sharing Session bertajuk “Future Energy Synergy: Transformasi Desa melalui Sinergi Praktisi K3 PLN dan Lab Bina Desa FEB UNS” secara daring, Jumat 19 Juni 2026.

Kegiatan ini menghadirkan Luky Handianto Adi Pamungkas, S.E., M.M., Senior Officer K3 PLN Unit Induk Transmisi Jawa Bagian Timur (UIT JBM), sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Luky menjelaskan bahwa sektor energi memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan masyarakat. PLN UIT JBM saat ini mengelola lebih dari 8.329 kilometer jaringan transmisi dan 173 gardu induk yang menjadi tulang punggung pasokan listrik bagi wilayah Jawa dan Bali. Infrastruktur tersebut menopang berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari sektor industri hingga masyarakat pedesaan.

Ia juga memaparkan tren pertumbuhan kebutuhan listrik di Jawa Timur dan Bali yang terus meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa energi tidak hanya menjadi kebutuhan dasar, tetapi juga faktor penting dalam mendorong produktivitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak memahami berbagai peluang kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi, khususnya dalam menghubungkan kompetensi mahasiswa FEB UNS dengan kebutuhan sektor energi. Salah satu fokus yang dibahas adalah peran lulusan bidang manajemen, akuntansi, dan ekonomi pembangunan dalam mendukung pengelolaan BUMDes, efisiensi energi, hingga transformasi ekonomi desa yang berkelanjutan.

Luky menekankan bahwa mahasiswa dapat menjadi agen perubahan di desa melalui peningkatan literasi energi, pengembangan inovasi BUMDes berbasis layanan digital, serta penguatan ekonomi kreatif yang memanfaatkan akses listrik secara optimal. Selain itu, mahasiswa juga dapat berperan dalam mengedukasi masyarakat mengenai keselamatan ketenagalistrikan dan pentingnya penggunaan listrik secara legal.

Dalam sesi diskusi, dibahas pula pentingnya penyesuaian kurikulum perguruan tinggi agar selaras dengan kebutuhan industri. Kompetensi yang relevan dengan perkembangan Industri 4.0, seperti digital business ketenagalistrikan, manajemen aset transmisi, serta sustainability dan ESG reporting, dinilai menjadi bekal penting bagi lulusan di masa depan.

Lebih lanjut, narasumber menawarkan peluang kerja sama antara PLN dan FEB UNS melalui riset bersama, mulai dari kajian dampak ekonomi stabilitas energi terhadap UMKM desa, evaluasi program CSR berbasis SDGs, hingga pengembangan konsep “Desa Energi Digital”. Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan dan publikasi ilmiah yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Laboratorium Bina Desa FEB UNS juga dinilai memiliki posisi strategis sebagai pusat inkubasi pengembangan masyarakat desa melalui penguatan keterampilan teknis, literasi keuangan, dan tanggung jawab sosial. Sinergi dengan praktisi PLN diharapkan dapat memperluas dampak program pemberdayaan masyarakat sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin dinamis.

Melalui kegiatan ini, FEB UNS menegaskan komitmennya untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan transformasi desa yang berkelanjutan. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan agen-agen perubahan yang tidak hanya memahami aspek ekonomi, tetapi juga memiliki wawasan mengenai ketahanan dan kedaulatan energi nasional.

Keterkaitan dengan SDGs: Kegiatan ini mendukung pencapaian SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi mahasiswa, SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui peningkatan literasi dan akses energi, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pemberdayaan ekonomi desa, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri.

Artikel Lab Bina Desa FEB UNS Hadirkan Praktisi PLN, Diskusikan Peluang Pengembangan Desa Berbasis Energi pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-manajemen-sdm-ii-feb-uns-menjawab-tantangan-ai-skill-gap-dan-transformasi-dunia-kerja/ Mon, 22 Jun 2026 09:28:44 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41517 Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Manajemen SDM II bertajuk “Human Resource Transformation and Addressing the Challenges Brought by AI and […]

Artikel Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Manajemen SDM II bertajuk “Human Resource Transformation and Addressing the Challenges Brought by AI and Digitization”, Sabtu 20 Juni 2026 secara daring melalui Zoom Meeting.

Kegiatan ini menghadirkan Ripy Mangkoesoebroto, S.Psi., M.Sc., Commissioner PT Sampoerna Karya Bangsa, yang membagikan wawasan mengenai transformasi pengelolaan sumber daya manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan digitalisasi.

Kuliah ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memperoleh perspektif praktis mengenai perubahan dunia kerja serta tantangan pengelolaan SDM di era transformasi teknologi.

Dalam pemaparannya, Ripy membagi materi ke dalam tiga aspek utama, yaitu perubahan dunia kerja (what is changing), pengelolaan transformasi people and culture (leading the transformation), serta persiapan individu dan organisasi menghadapi masa depan (how do we prepare ourselves).

Pada aspek pertama, ia menjelaskan bahwa AI dan digitalisasi telah mengubah cara organisasi beroperasi, mulai dari interaksi dengan pelanggan, rantai pasok, proses kerja, hingga struktur pekerjaan. Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada aspek teknis, tetapi juga pada ekspektasi terhadap tenaga kerja dan budaya organisasi. Seiring perkembangan ini, sejumlah pekerjaan mengalami transformasi, sementara peran-peran baru juga muncul dengan kebutuhan kompetensi yang berbeda. Karena itu, pembaruan keterampilan menjadi kebutuhan yang terus-menerus.

Ripy menegaskan bahwa saat ini fokus utama dunia kerja tidak lagi hanya pada job description, melainkan pada output dan dampak terhadap bisnis. Ia juga menyoroti adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dan ketersediaan talenta, di mana banyak lulusan belum sepenuhnya sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan keterampilan seperti literasi digital dan AI, literasi data, analytical thinking, problem solving, komunikasi, adaptasi, rasa ingin tahu, serta ownership.

Pada aspek kedua, Ripy menjelaskan bahwa transformasi organisasi perlu diikuti dengan perubahan dalam pengelolaan people and culture. Struktur organisasi kini bergerak menuju model yang lebih lincah, kolaboratif, dan berbasis kompetensi. Penilaian kinerja juga bergeser dari aktivitas menjadi dampak dan hasil yang diberikan terhadap bisnis. Sejalan dengan itu, peran kepemimpinan berubah dari fungsi kontrol menjadi fasilitator yang mengembangkan tim serta mengelola kolaborasi antara manusia dan teknologi.

Ia menegaskan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, aspek kemanusiaan tetap menjadi kunci, terutama empati, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang bijak. Selain itu, kesejahteraan karyawan (well-being) menjadi faktor penting karena kinerja optimal hanya dapat dicapai ketika individu berada dalam kondisi fisik dan mental yang baik.

Pada aspek ketiga, Ripy menekankan pentingnya kesiapan individu dan organisasi dalam menghadapi perubahan yang semakin cepat. Kemampuan beradaptasi, pemanfaatan teknologi secara efektif, serta pembelajaran berkelanjutan menjadi hal yang krusial. Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kompetensi seperti kemampuan analitis, inovasi, pengelolaan diri, ketahanan (resilience), komunikasi, dan kolaborasi. Di sisi lain, organisasi perlu memastikan tata kelola penggunaan AI dan perlindungan data dilakukan secara etis dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan bahwa peran fungsi Human Resource atau People and Culture kini berkembang menjadi mitra strategis bisnis yang tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga pada pengelolaan talenta berbasis data, perencanaan kebutuhan masa depan, serta pemanfaatan teknologi secara etis dalam pengambilan keputusan SDM.

Menutup paparannya, Ripy menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing. Ia mengingatkan bahwa dalam era digital, individu tidak akan tergantikan oleh teknologi, melainkan oleh mereka yang mampu memanfaatkannya secara lebih efektif.

Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education), SDG 8 (Decent Work and Economic Growth), dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan pendidikan, kesiapan kerja, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi dalam transformasi organisasi.

Artikel Kuliah Praktisi Manajemen SDM II FEB UNS: Menjawab Tantangan AI, Skill Gap, dan Transformasi Dunia Kerja pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-komunikasi-bisnis-feb-uns-bangun-career-branding-sejak-kuliah/ Mon, 22 Jun 2026 09:18:17 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41516 Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Mata Kuliah Komunikasi Bisnis dengan menghadirkan Sonny Hendrawan Saputra, Corporate Risk Management Section Head […]

Artikel Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi S-1 Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan Kuliah Praktisi Mata Kuliah Komunikasi Bisnis dengan menghadirkan Sonny Hendrawan Saputra, Corporate Risk Management Section Head PT Astra Honda Motor, sebagai keynote speaker.

Kuliah Praktisi yang dimoderatori oleh Miftachul Ma’arif, S.E.I., M.M.,LSS.Cp, Dosen FEB UNS berlangsung secara daring,  Sabtu 20 Juni 2026.

Dalam sesi bertajuk “Career Branding & Strategic Job Market Navigation”, mahasiswa diajak memahami pentingnya membangun identitas profesional dan merancang strategi karier sejak masa perkuliahan.

Dalam paparannya, Sonny menekankan bahwa penguasaan teori dan keterampilan teknis saja tidak selalu cukup untuk menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin kompetitif.

Menurutnya, mahasiswa perlu mulai memikirkan bagaimana membangun nilai diri dan citra profesional yang dapat dikenali oleh lingkungan akademik maupun dunia industri.

“Kalau bisa mulai lebih awal dalam career branding, pasti akan semakin baik dibandingkan menunggu setelah lulus. Semakin dini dipersiapkan, semakin banyak peluang yang bisa terbuka di masa depan,” ungkap Sonny.

Ia juga membagikan perjalanan kariernya yang berawal dari berbagai aktivitas dan pengalaman selama menjadi mahasiswa. Berbagai pencapaian yang diraih, mulai dari pengalaman organisasi, aktivitas menulis, hingga pengembangan jejaring profesional, menurutnya merupakan bagian dari proses membangun personal branding yang kemudian berkembang menjadi career branding.

Dalam sesi tersebut, Sonny menjelaskan bahwa career branding merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menunjukkan nilai, kompetensi, serta keunggulan yang dimiliki seseorang kepada publik.

Melalui berbagai karya, aktivitas, maupun kontribusi yang dilakukan secara konsisten, seseorang dapat membentuk persepsi positif yang akan menjadi modal penting dalam pengembangan karier.

“Career branding adalah bagaimana orang lain melihat dan mengingat nilai yang kita miliki ketika kita tidak berada di ruangan tersebut. Karena itu, penting untuk mulai membangun value sejak sekarang,” jelasnya.

Selain membahas konsep career branding, Sonny juga mengajak mahasiswa untuk memiliki pandangan yang lebih strategis dalam merencanakan karier.

Ia menegaskan bahwa memperoleh pekerjaan tidak cukup hanya mengandalkan penyebaran CV atau keberuntungan semata, tetapi perlu didukung oleh kompetensi, pengalaman, jejaring, dan reputasi yang dibangun secara berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh wawasan praktis mengenai pentingnya mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja sejak dini. Kuliah praktisi menjadi sarana untuk menjembatani teori yang dipelajari di kelas dengan pengalaman nyata dari praktisi industri, sehingga mahasiswa dapat memahami tantangan sekaligus peluang yang akan dihadapi di masa depan.

Kegiatan ini mendukung SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan wawasan dan kompetensi mahasiswa, serta SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membekali mahasiswa strategi pengembangan karier dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Artikel Kuliah Praktisi Komunikasi Bisnis FEB UNS: Bangun Career Branding Sejak Kuliah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah https://feb.uns.ac.id/feb/kuliah-praktisi-maksi-feb-uns-kupas-tata-kelola-dan-pelaporan-keuangan-blud-pada-rumah-sakit-daerah/ Thu, 18 Jun 2026 08:59:23 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41501 Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Praktisi bertajuk Pelaporan Sektor Publik dan Penyusunan Modul: Case Study pada RSUD, Jumat […]

Artikel Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Studi Magister Akuntansi (MAKSI) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menyelenggarakan kegiatan Kuliah Praktisi bertajuk Pelaporan Sektor Publik dan Penyusunan Modul: Case Study pada RSUD, Jumat 12 Juni 2026 secara daring.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan tiga narasumber dari praktisi sektor publik dan profesi audit, yakni Direktur UPTD RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, Lampung, Dr. Eko Hendro Saputro, S.T., M.Kes., Plt. Kepala Bagian Keuangan UPTD RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, Fitri Novilia, S.E., M.S.Ak., serta Auditor KAP Wartono dan Rekan, Heru Prasetyo, S.E., M.H., Ak.

Ketua Program Studi Magister Akuntansi FEB UNS, Lulus Kurniasih, S.E., M.S.Ak., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber yang telah berkenan berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam pengelolaan keuangan sektor publik, khususnya di lingkungan rumah sakit daerah.

“Adapun kegiatan ini ditujukan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa S2 Akuntansi yang saat ini berada di semester 1 dan 2. Dengan harapan bahwa apa yang dipelajari tidak hanya theoretical based, tetapi juga mendapatkan gambaran bagaimana real case di dunia nyata,” ungkapnya.

Lulus menjelaskan bahwa kuliah praktisi merupakan bagian dari upaya Prodi MAKSI untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Melalui interaksi langsung dengan para praktisi, mahasiswa diharapkan mampu memahami implementasi berbagai konsep akuntansi dan pelaporan sektor publik yang selama ini dipelajari di ruang kelas.

Selain memberikan pengalaman belajar berbasis kasus nyata, kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah awal penguatan kerja sama antara FEB UNS dan RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro.

Menurutnya, tindak lanjut yang direncanakan tidak hanya berupa penandatanganan nota kesepahaman (MoU), tetapi juga penyusunan modul pembelajaran berbasis kasus yang dapat dimanfaatkan dalam proses pendidikan di Prodi MAKSI.

“Selain harapan adanya MoU, nantinya akan kami susun modul dari tim MAKSI berdasarkan apa yang kita dapatkan pada hari ini. Modul tersebut berbasis real case sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran,” jelasnya.

Dalam sesi utama, Dr. Eko Hendro Saputro memaparkan materi mengenai implementasi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) pada rumah sakit pemerintah daerah sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan pelayanan publik. Ia menjelaskan bahwa penerapan BLUD memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan tanpa mengesampingkan prinsip akuntabilitas dan transparansi.

Menurut Eko, BLUD menjadi instrumen strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

 “BLUD bukan hanya fleksibilitas keuangan, tetapi strategi penguatan pelayanan publik yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, ” tegasnya.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami berbagai aspek pengelolaan keuangan BLUD, mulai dari penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA), pelaksanaan anggaran, sistem akuntansi, hingga pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan. Narasumber juga menjelaskan tantangan implementasi BLUD, termasuk kebutuhan penguatan kapasitas sumber daya manusia, harmonisasi regulasi, dan perubahan budaya organisasi dalam mendukung tata kelola yang lebih efektif.

Selain aspek keuangan, materi juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan rumah sakit. Implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), Rekam Medis Elektronik (RME), pengembangan e-BLUD, serta pemanfaatan dashboard manajemen menjadi bagian dari upaya menciptakan tata kelola rumah sakit yang modern, terintegrasi, dan berbasis data.

Melalui studi kasus RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai bagaimana prinsip-prinsip pelaporan sektor publik diterapkan dalam praktik.

Kehadiran Fitri Novilia sebagai pengelola keuangan rumah sakit dan Heru Prasetyo sebagai auditor eksternal turut memberikan perspektif yang komprehensif mengenai pengelolaan, pelaporan, serta proses pengawasan dan audit pada organisasi sektor publik.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDGs 4, 3 dan 17 melalui penguatan pembelajaran berbasis praktik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan institusi pelayanan publik.

Artikel Kuliah Praktisi MAKSI FEB UNS Kupas Tata Kelola dan Pelaporan Keuangan BLUD pada Rumah Sakit Daerah pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa https://feb.uns.ac.id/feb/laboratorium-bina-desa-feb-uns-bekali-mahasiswa-dengan-strategic-marketing-tools-untuk-pengembangan-ekonomi-desa/ Thu, 18 Jun 2026 08:23:09 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41494 Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha melalui pelatihan bertajuk Strategic Marketing Tools for Rural-Based […]

Artikel Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Laboratorium Bina Desa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menyelenggarakan rangkaian kegiatan penguatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha melalui pelatihan bertajuk Strategic Marketing Tools for Rural-Based Enterprises: Membangun Daya Saing Ekonomi Desa Berbasis Inovasi dan Kolaborasi, Rabu 17 Juni 2026 secara daring.

Kegiatan yang diikuti mahasiswa FEB UNS, menghadirkan Wisnu Adi Saputro, Area Sales Manager PT. Gawih Jaya Surabaya sebagai narasumber utama.

Kepala Laboratorium Bina Desa FEB UNS, Yogi Pasca Pratama, S.E., M.E., Ph.D., dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program yang terus dikembangkan oleh Laboratorium Bina Desa untuk memperkuat sinergi antara dunia akademik dengan berbagai mitra eksternal.

“Acara ini merupakan salah satu seri kegiatan Laboratorium Bina Desa. Besok kami juga akan melaksanakan kegiatan bersama rekan-rekan dari HRD Klinik Pratama Sukoharjo, dan pada kesempatan berikutnya akan berkolaborasi dengan PLN. Kami berupaya agar layanan Laboratorium Bina Desa, baik kepada internal maupun eksternal, dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang nyata,” ujarnya.

Yogi menambahkan bahwa kolaborasi yang dibangun tidak hanya sebatas kegiatan pelatihan, tetapi juga diarahkan pada pengembangan kerja sama yang lebih luas. Salah satunya adalah membuka peluang magang bagi mahasiswa serta menghadirkan praktisi untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan langsung kepada sivitas akademika.

“Ke depan, ketika terdapat peluang dari mitra seperti PT Gawihjaya atau perusahaan lainnya, mahasiswa dapat memperoleh kesempatan magang. Sebaliknya, para praktisi juga dapat mengisi berbagai materi yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. Bahkan, berbagai tantangan dan keresahan yang dihadapi perusahaan dapat menjadi ruang kolaborasi yang bisa kami respons melalui kajian, pendampingan, maupun program-program pengabdian,” jelasnya.

Dalam sesi pelatihan, Wisnu Adi Saputro membagikan berbagai strategi pemasaran yang relevan untuk meningkatkan daya saing usaha berbasis desa di tengah perkembangan ekonomi dan transformasi digital. Ia menekankan pentingnya memahami potensi lokal sebagai dasar dalam merancang strategi pemasaran yang efektif.

Materi yang disampaikan mencakup analisis potensi dan segmentasi pasar desa melalui pendekatan SWOT dan Value Proposition Canvas (VPC), strategi marketing mix (4P), penguatan branding produk lokal, hingga pemanfaatan berbagai platform digital sebagai sarana pemasaran yang efisien dan terjangkau.

Selain itu, peserta juga diperkenalkan pada penggunaan berbagai digital tools seperti WhatsApp Business, Instagram, TikTok, Canva, dan marketplace untuk mendukung promosi dan perluasan pasar produk desa. Melalui berbagai contoh praktik dan studi kasus, mahasiswa diajak memahami bagaimana teknologi digital dapat menjadi jembatan antara potensi lokal dan pasar yang lebih luas.

Wisnu juga menyoroti pentingnya membangun jejaring dan kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekonomi desa.

Menurutnya, keberhasilan usaha desa tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga kemampuan membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

“Ekonomi desa tidak dapat berdiri sendiri. Jejaring bisnis sangat penting untuk akses pasar, teknologi, dan dana. Prinsipnya adalah bersama lebih berdaya, terangnya.

Menutup sesi pelatihan, Wisnu menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa memerlukan komitmen bersama yang bertumpu pada inovasi dan kolaborasi.

Ia menyampaikan bahwa “Ekonomi desa yang tangguh dan mandiri dapat dibangun dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan.”

Melalui kegiatan ini, Laboratorium Bina Desa FEB UNS terus menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem kolaboratif antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat guna mendorong penguatan ekonomi desa yang inovatif, adaptif, dan berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan SDGs 4, 8, dan 17 melalui peningkatan kapasitas mahasiswa, penguatan ekonomi lokal, dan kolaborasi multipihak dalam pembangunan desa berkelanjutan.

 

Artikel Laboratorium Bina Desa FEB UNS Bekali Mahasiswa dengan Strategic Marketing Tools untuk Pengembangan Ekonomi Desa pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo https://feb.uns.ac.id/feb/dari-limbah-menjadi-nilai-tambah-mahasiswa-mesp-uns-belajar-ekonomi-sirkular-di-umkm-desa-berjo/ Thu, 18 Jun 2026 05:57:44 +0000 https://feb.uns.ac.id/feb/?p=41483 Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak mahasiswa belajar langsung mengenai praktik ekonomi sirkular melalui kunjungan ke Minions Winner Sumber […]

Artikel Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>
Program Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan (MESP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) mengajak mahasiswa belajar langsung mengenai praktik ekonomi sirkular melalui kunjungan ke Minions Winner Sumber Echo di Desa Berjo, Kabupaten Karanganyar, Rabu (16/6/2026).

Rombongan diterima langsung oleh pemilik usaha kripik pisang, Rifal Afandi, alumni S-1 Ekonomi Pembangunan FEB UNS angkatan 2021, yang mengembangkan usaha pengolahan pisang dengan prinsip pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong dari Taylor’s University Malaysia juga turut di kegiatan tersebut untuk melihat secara langsung bagaimana konsep ekonomi sirkular diterapkan dalam aktivitas usaha masyarakat.

Assoc. Prof. Dr. Lin Woon Leong menilai Minions Winner Sumber Echo sebagai sebuah hidden gem atau permata tersembunyi.

Menurutnya, usaha yang berada di wilayah pedesaan tersebut menunjukkan bahwa UMKM mampu menciptakan nilai tambah yang tinggi melalui penerapan ekonomi sirkular.

“Kita mungkin mengira mereka hanya memproduksi makanan, tetapi ternyata mereka juga melakukan proses daur ulang yang luar biasa terhadap bahan-bahan yang ada. Ini sangat menarik karena dikembangkan oleh UMKM di daerah pedesaan, namun mampu menghasilkan nilai yang tinggi, terutama dalam penerapan ekonomi sirkular,” ujarnya.

Prof. Lin menjelaskan bahwa terdapat tiga praktik utama ekonomi sirkular yang terlihat di lokasi, yakni less waste, redesign, dan value creation. Hampir seluruh bagian dari pisang dapat dimanfaatkan, mulai dari buah hingga kulitnya, sehingga limbah yang dihasilkan sangat minim. Selain itu, pendekatan yang digunakan relatif sederhana dan tidak memerlukan teknologi tinggi, namun tetap mampu menciptakan nilai bagi masyarakat melalui produk yang dihasilkan.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dalam mendorong keberlanjutan UMKM. Menurutnya, dukungan berupa subsidi, regulasi, dan kebijakan yang memadai sangat dibutuhkan agar usaha-usaha seperti ini dapat terus berkembang.

Terkait pengembangan usaha, Prof. Lin menekankan bahwa penguatan merek atau branding menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan usaha. Menurutnya, teknologi sederhana sudah cukup dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, namun usaha tetap memerlukan identitas dan merek yang kuat agar semakin dikenal oleh masyarakat.

Selain itu, ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM. Menurutnya, kedua pihak memiliki peran yang sama penting dalam mendorong pengembangan ekonomi sirkular. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset dan pengembangan, khususnya pada aspek pemasaran, penguatan merek, serta penyempurnaan proses ekonomi sirkular, sementara implementasinya dilakukan oleh pelaku usaha.

Sementara itu, Kaprodi MESP FEB UNS, Prof. Dr. Suryanto, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kunjungan industri ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai implementasi ekonomi sirkular di masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa dapat melihat secara nyata potensi ekonomi sirkular yang dapat dikembangkan dan menjadi inspirasi dalam pembelajaran maupun penelitian.

“Kami ingin mahasiswa melihat langsung bagaimana ekonomi sirkular diterapkan di masyarakat. Ternyata ada potensi yang sangat besar untuk dikembangkan dan dapat menjadi contoh bagi mahasiswa dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular,” jelasnya.

Pemilihan Minions Winner Sumber Echo sebagai lokasi kunjungan juga didasarkan pada nilai-nilai yang ditemukan dalam proses produksinya. Jika selama ini masyarakat lebih banyak memanfaatkan buah pisang, di tempat tersebut berbagai bagian lain, termasuk kulit pisang dan hasil samping proses produksi, turut dimanfaatkan sehingga hampir tidak ada limbah yang tersisa.

Menurut Prof. Suryanto, pengalaman lapangan seperti ini diharapkan dapat mendorong lahirnya ide-ide kreatif mahasiswa untuk dituangkan dalam tugas akhir maupun karya ilmiah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi MESP UNS dalam mendampingi pengembangan ekonomi sirkular di tengah masyarakat.

Ia berharap pengembangan ekonomi sirkular dapat terus diperkuat melalui pembelajaran, penelitian, dan pendampingan yang berkelanjutan. Keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan model usaha berbasis ekonomi sirkular diharapkan mampu mendukung pemberdayaan masyarakat, membuka peluang kerja, serta meningkatkan produktivitas warga sekitar. Semakin banyak usaha serupa yang tumbuh dan melibatkan masyarakat lokal, semakin besar pula dampak yang dapat dihasilkan bagi kesejahteraan masyarakat.

Melalui pembelajaran langsung mengenai pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan dan penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pelaku UMKM, kegiatan ini turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Artikel Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah, Mahasiswa MESP UNS Belajar Ekonomi Sirkular di UMKM Desa Berjo pertama kali tampil pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret.

]]>