15 Jan 2021

Undang Praktisi,  Prodi MM Gelar Diskusi Perbankan Pemulihan Ekonomi Di Tengah Pandemi

Program Studi Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) adakan Diskusi Perbankan dan Pemulihan Ekonomi Ditengah Pandemi dengan narasumber Prof. Rofikoh Rokhim, SE, SIP, DEA, Ph. D., Kamis, 3 Desember 2020.

Dalam presentasinya, Prof. Rofikoh, Dosen FEB Universitas Indonesia yang juga sebagai Komisaris Independen BRI mengatakan dengan adanya Pandemi Covid-19, perbankan menjadi sektor yang juga terpengaruh karena disaat industri berhenti otomatis bank tidak ada pendapatan.

“Dengan pandemi Covid-19, perbankan termasuk yang terpengaruh. Bank akan melakukan restruksturisasi, meminta penundaan, keringanan bunga,  perpanjangan waktu dan seterusnya.  Kendati demikian,  industri perbankan kita masih positif, wajar dan  sehat” katanya.

Selanjutnya disampaikannya potret Bank Buku 4 yaitu bank dengan modal paling tinggi dibanding Bank Buku lainnya dengan modal intinya Rp 30 triliun. Per September 2020, Bank Buku 4 assetnya bertambah 14,2%, LOAN meningkat 4,8%, deposit meningkat 19.3 %, NPL  meningkat 3,14 %, dan net profit mengalami penurunan,  -30,2%.

Bank Buku 2 dan 4 likuiditasnya melimpah, bank tidak kekurangan likuiditas kecuali bank-bank kecil, Bank Buku 1 dan 3. Inilah yang menjadi “pe-er” pemerintah, berdasarkan hasil wawancara meskipun masyarakat mendapatkan bantuan ternyata banyak yang tidak dibelanjakan, namun disimpan di bank untuk berjaga-jaga karena pandemi belum tahu hingga kapan selesainya, sementara untuk keseharian masih ada dana.

Untuk hal ini, jika ada stimulus baru lagi,   Kementerian Keuangan sudah berencana menerapkan bantuan kemungkinan wujudnya bukan transfer uang tapi barang atau voucher agar masyarakat membeli barang sehingga ekonomi berputar terus. Jika suasana sudah aman, subsidinya pada perjalanan, restoran, bis, harga pesawatnya dan seterusnya.

Potret perbankan dari sisi Net Interest Margin (NIM) terjadi  penurunan, sebagian besar disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga dan peningkatan biaya provisi, termasuk biaya investasi digitalisasi perbankan. Indonesia, sebelumnya memiliki NIM paling tinggi di dunia, dengan Covid ini terjadi penyesuaian-penyesuaian.

Lebih lanjut,  biaya operasional semua bank mengalami peningkatan.  Beban operasional industri perbankan terus meningkat karena adanya biaya pencadangan untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit.

Banyak dukungan pemerintah untuk menanggulangi permasalahan karena Covid-19, begitu Presiden mengumumkam kan adanya Covid, segera direspon oleh OJK mengeluarkan POJK No 11/2020 tentang restrukturisasi bagi UMKM maupun kredit lainnya, lalu muncul Perppu, Permenko, PMK dan PP terkait Covid agar ekonomi jangan terperosok seperti krisis yang terjadi di  1998, minus 13.

Otoritas Jasa Keuangan akhirnya memperpanjang relaksasi dengan dikeluarkan POJK no  11/POJK.03/2020,  restrukturisasi diperpajang dari semula sampai pada 31 Maret 2021 menjadi 31 Maret 2022, karena pemulihan ekonomi baru tahun depan. Total yang direlaksasi Rp 932,4 triliun kredit untuk 7,53 juta debitur yang menikmati, berlaku bagi Bank Umum Konvesional, Bank Umum Syariah, Unit Syariah, Bank Perkreditan Rakyat dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah.

“Bank harus menerapkan manajemen risiko yang baik dalam penerapan stimulus,memastikan adanya kapasitas modal dan likuiditas. Prinsip kehatian-hatian, karena uang negara. Jangan sampai keliru diberikan kepada yang tidak berhak menerimanya” tegasnya.

Kepada peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa, Prof Rofikoh berpesan agar mahasiswa mengambil peran di masa pandemi, mengambil peluang dengan melakukan riset-riset penelitian, yang selain bermanfaat bagi studinya, juga bermanfaat bagi masyarakat.

“Banyak sekali ide riset yang bisa dikerjakan mulai dari dampak covid terhadap performa perbankan, tidak hanya keuangan, termasuk bagaimana perbankan menjaga juga resiko, baik resiko pasar atau resiko operasional. Bisa juga yang terkait dengan pencadangan, apakah bank yang pencadangannya semakin besar, apakah semakin kuat atau sebaliknya dan banyak lagi ide lain.

Banyak jurnal yang menawarkan publikasi yang kaitannya dengan permasalahan Covid, bahkan tidak sulit untuk masuk di jurnal Q1 dan Q2.  (Humas)