13 Agu 2020

Tim Pengabdian Masyarakat FEB Kembangkan Potensi Batik Ciprat Bantu Penyandang Disabilitas

Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) Surakarta bekerjasama dengan pemerintah Desa Karangpatihan Ponorogo menggelar Webinar bertema Implementasi Pembelajaran Batik Ciprat bagi Penyandang Disabilitas sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian di Kampung Idiot Ponorogo, Selasa 22 Juli 2020.

Ketua Pengabdian Masyarakat, Dr. Evi Gravitiani, S.E., M.Si. dalam sambutannya mengatakan webinar ini adalah satu rangkaian acara dari Program Pengabdian Masyarakat yang beranggotakan dosen FEB UNS yakni Bhimo Rizky Samudro, S.E., M.Si,. Ph.D., Prof. Dr. Mugi Rahardjo, M.S, Prof. Dr. Julianus Johnny Sarungu, M.S serta Rochmat Aldy Purnomo, M.Si. mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB UNS sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Menurut Dr. Evi, program pengabdian masyarakat ini, persiapannya telah dilakukan sejak bulan Maret. Satu buku tentang Batik Ciprat sedang dalam proses editing dan tim bersyukur sudah memperoleh 3 HAKI dan ada 2 paper pengabdian yang sudah di submit ke jurnal pengabdian.

Selain Bhimo Rizky, PhD, narasumber lainnya adalah Eko Mulyadi, Kepala Desa Karangpatihan Ponorogo dan Samuji, pelaku sekaligus sebagai pendamping dari warga tuna grahita yang memproduksi batik ciprat.

Dalam paparan yang bertajuk Humanomics dalam Pembangunan Berkelanjutan, Belajar dari Batik Ciprat di Kampung Idiot Ponorogo, Bhimo mengangkat konsep bagaimana agar bisnis Batik Ciprat tetap berjalan dan bahkan meningkat namun juga tetap menghargai sisi kemanusiaan warga di sana yang melakukan proses produksi. Karena ada keterbatasan, kita perlu membantu mereka dalam memasarkan dan memantaunya serta menjaga kualitasnya dan menjaga sisi keamanan dari bahan bakunya.

Terlebih di masa pandemi, dimana pekerja juga dikenalkan dengan teknologi, maka perlu pendampingan yang lebih intensif.

“Kita mendorong pekerja yang memiliki kebutuhan khusus tersebut agar mampu berkembang, mereka tidak diperlakukan sekedar sebagai pekerja namun juga menjaga keberlangsungan sosialnya. Kita sebagai penyangga produk mereka sehingga ada yang menampung dan mereka tinggal menunggu feedbacknya, tidak harus mereka yang memasarkan atau mempromosikannya. Perlu diperhatikan pula bagaimana kualitas hidup mereka apakah semakin berkembang”, jelas Bhimo.

Sementara itu Eko Mulyadi mengatakan warga yang memiliki keterbatasan, khususnya tunagrahita diberi keterampilan Batik Ciprat hingga mereka benar-benar menguasainya.

Upaya ini dilakukan sebagai wujud pemberdayaan masyarakat, selain memberdayakan ekonomi sekaligus mengangkat strata mereka.

Warga memiliki pendapatan harian, bulanan, triwulan dan tahunan. Dengan keempat pendapatan yang mereka terima, kebutuhan hidup mereka sudah terpenuhi. (Humas)

Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.