25 Agu 2019

Tangkal Radikalisme melalui Pendekatan Budaya

Radikalisme merupakan ideologi, paham, aliran, pikiran atau tindakan yang ingin merubah tatanan sosial masyarakat yang sudah mapan, hal ini bisa positif atau negatif.

Hal itu disampaikan Prof. Djoko Suhardjanto, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) pada Seminar Nasional bertema Upaya Menangkal Radikalisme melalui Pendekatan Budaya, Jumat 27/7/2019.

Dihadapan lebih dari 300 peserta, Prof.Djoko menyatakan bahwa untuk mencegah radikalisme yang bersifat negatif bisa dilakukan dengan pendekatan budaya.

“Urip sing urup memayu hayuning bawono, kita hidup itu harus memberikan manfaat kepada yang lain dan jika itu bisa kita lakukan maka radikalisme yang bersifat negatif bisa ditangkal” jelasnya

Tata kesopanan yang menjadi nilai-nilai budaya luhur perlu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, punya rasa tepo seliro, grapyak, lembah manah, guyub rukun, ewuh pekewuh juga bisa mencairkan yang sifat radikalisme.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Abdul Kharis Almasyhari, Ketua Komisi I DPR RI, banyak permasalahan yang mengemuka ternyata bisa selesai dengan budaya-budaya yang kita miliki.

“Pada era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, kita dituntut untuk menemukan alternatif solusi melalui budaya. Listrik bisa mati, kalau provider eror komunikasi melalui ponsel bisa berhenti. Namun budaya kentongan dapat menjadi strategi keamanan alternatif dalam kondisi darurat tanpa gangguan provider dan listrik,” jelas Abdul.

Lebih lanjut dikatakan, jika RT dan RW berfungsi, musyawarah dengan warganya dioptimalkan, pendekatan secara personil, saling kontrol lingkungan sekitar, akan mampu menyelesaikan segala permasalahan di masyarakat, termasuk radikalisme.

Seminar yang digelar di Aula FEB UNS terlaksana atas kerjasama Komisi I DPR RI, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI dan FEB UNS.

Di malam harinya, FEB gelar pertunjukan wayang kulit dengan dalang Ki Warseno Slenk, mengambil lakon Wisanggeni Lair.

Ke depan, Dekan FEB UNS akan terus menggagendakan event-event budaya di FEB yang digelar pada masa libur perkuliahan.

Selain untuk “nguri-uri” budaya lokal, mengenalkan kembali kepada para generasi muda yang sudah banyak ditinggalkan, aktifitas ini juga bertujuan untuk menyatukan alumni ,mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan, melalui cara-cara yang cair, kumpul bareng wedangan sehingga hubungan kekeluargaan civitas akademika menjadi semakin erat.

Sesuai dengan semangat kita bahwa UNS sebagai Benteng Pancasila yang bisa menangkis radikalisme yang bersifat negatif.