13 Agu 2020

Strategi Bisnis Keluarga Menghadapi Covid-19

Bisnis keluarga merupakan bisnis yang kepemilikan dan pengambilan keputusannya berada di tangan keluarga dengan manajemennya yang unik. Berbagai survei terhadap bisnis di Indonesia dari usaha kecil sampai besar rata-rata dinominasi  bisnis keluarga hingga mencapai 73%.  Bisnis keluarga juga sebagai penyumbang Gross Domestic Product (GDP),  jumlahnya di atas 40% .

Di sisi kepemilikannya, Bisnis keluarga terbagi menjadi dua yakni family managed firms dan family owned firm. Family managed firms, keluarga akan mempertahankan saham mayoritas dan pengelolaannya jauh lebih rumit karena faktor emotion yang lebih tinggi.  Sedangkan dalam family managed firms, pemilik meng-hire profesional untuk menjalankan perusahaan agar berkembang lebih baik, pemilik hanya sebagai pengambil kebijakan.

Hal itu disampaikan Dr. Mugi Harsono, M.Si, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) saat menjadi narasumber di Webinar yang diselenggarakan oleh Universitas Maritim Raja Ali Haji , Sabtu 18 Juli 2020.

 “Pandemi Covid-19 sangat berdampak bagi bisnis keluarga.  Untuk melindungi bisnis keluarga,  pemilik dapat mendelegasikan tanggung jawab kepada yang ahli, membuat rencana kontingensi untuk pekerja, memprioritaskan aktivitas bisnis yang penting, peduli pada aliran kas karena kas adalah jantungnya perusahaan  serta  memperkuat komunikasi dengan stakeholder inti, konsumen atau penyandang dana dan seterusnya” Jelasnya.

Selanjutkan disampaikan, kelebihan bisnis keluarga adalah ketika menghadapi resesi finansial adalah masih bisa bicara menggunakan hati dan tidak pakai rasio, mengembangkan hubungan yang terbuka dan harmonis di antara anggota keluarga.

Strategi yang harus ditempuh bisnis keluarga dalam menghadapi Covid-19 adalah dengan strategi adaptif berdasarkan keunggulan kompetisi lalu dikompromikan dengan kondisi yang ada. Diantara strategi itu yakni redudancy, melakukan pengembangan sistem dan sumber daya cadangan untuk melindungi perusahaan manakala menghadapi gempuran dan memastikan agar operasional perusahaan tetap berjalan. Selain itu modularity,  kita mengajak pihak lain untuk bersama dengan perusahaan kita untuk membuat kepemimpinan yang kuat.

Strategi lainnya adalah mitigasi, secara cepat berevolusi ke market yang baru, dengan penjualan online, menciptakan produk dengan konsumen walaupun jaraknya jauh, intinya merespon perubahan yang sangat cepat. Hal lain yang juga penting dalam menghadapi pandemi adalah symbiosis,  kita mengembangkan kedekatan hubungan dekat dengan pelaku-pelaku penting, yakni bank, kreditur, konsumen,  pemerintah, dan seterusnya.

Selanjutnya, simplification,   mengurangi kompleksitas, memangkas birokrasi yang bertele-tele untuk mengatasi kelangkaan sumber daya serta heterogenity dengan mempromosikan keragaman dalam portofolio. (Humas)

Editor: Drs. BRM. Bambang Irawan, M.Si.