22 Okt 2020

Prodi MM Gelar Workshop  Pengabdian Masyarakat

Mengembangkan dan mempertahankan pariwisata lokal saat pandemi menjadi tema khusus yang diangkat dalam Workshop  Pengabdian Masyarakat Program Studi Magister Managemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (MM FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu 30 September 2020.

Kegiatan yang digelar secara daring dan luring itu merupakan kerjasama antara  MM FEB UNS dengan RG Digital Economy, Marketing, and Consumer Insights serta Unit Pelaksana Teknis Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Gunung Bromo UNS.

Retno Tanding Suryandari, Ph.D, Ketua Program Studi MM FEB UNS menjadi moderator dalam kegiatan yang menghadirkan tiga narasumber yakni Suwarmin, Direktur Bisnis Solo Pos, Junaedhi Mulyono, Kepala Desa Ponggok Klaten dan Parjan, pengelola obyek wisata Kalibiru Kulon Progo.

Direktur Bisnis Solo Pos, Suwarmin dalam paparan materinya mengatakan era baru pasca pamdemi harus disambut dengan semangat baru mulai dari sekarang.

“Era pandemi ini memberikan peluang yang sama, baik yang di daerah maupun di pusat untuk menemui market di luar. Pengelola wisata harus aktif mencari peluang itu. Aktif di platform digital dengan memanfaatkan wisata virtual dan merawat jaringan dengan live IG.

“Cari tokoh-tokoh yang memiliki follower yang banyak untuk diwawancarai dan live-kan di instagram, misal Pak Ganjar” tegasnya.

Pengelola harus mampu merawat dan membuat ketertarikan para pengunjung yang pernah datang ke tempat wisata, menyapa dan bersilaturahmi dengan virtual. Selanjutnya pengembangan wisata dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan kantor-kantor pemerintahan yang akan melakukan upgrading kepada timnya dengan melakukan kunjungan virtual atau bisa juga bekerja sama dengan wedding organizer untuk memanfaatkan tempat wisata.

Menjelang akhir paparannya, Junaedhi menyampaikan bahwa pasca pandemi, wisatawan ingin mendapatkan best experience, mendapat pengalaman yang berbeda. Desa wisata yang dikelola dengan 3 s, yakni serenity (ketenangan diri), spirituality (ketenangan batin) dan sustainability (menjaga keberlanjutan alam) akan lebih banyak dicari pengunjung.

Sementara itu, Kepala Desa Ponggok Klaten menjelaskan pengembangan Umbul Ponggok sebagai destinasi wisata yang terkenal secara nasional dan internasional  dengan daya tariknya yang unik.

Dimasa pandemi, Umbul Ponggok telah menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan pengawasan yang ketat. Layanan wisata juga dimodifikasi dengan layanan privat, semi prifat dan wisata virtual untuk pembatasan jumlah pengunjung disertai peningkatan kualitas layanan.

Untuk pembatasan interaksi pelaku wisata dengan pengunjung, pengelola Umbul Ponggok memberlakukan e-ticketing dan paket “all in”. Juga mengembangkan konsep storynomic untuk peningkatan nilai jual produk wisata, job creation dalam semua aspek layanan dan produk wisata.

Sementara itu, narasumber ketiga, Parjan,  pengelola wisata Kali Biru Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta memaparkan upaya yang telah ditempuh dalam pengembangan destinasi wisata Kali Biru. (Humas)