25 Agu 2019

Divisi International Relations FEB Ajak Diskusi Mahasiswa yang Tergabung dalam AIESEC

Sebagian besar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia, masih merasa nyaman untuk menjalankan usaha dan marketingnya secara manual dan tradisional, berbeda dengan yang ada di luar negeri,  lebih kepada kepraktisan. Dan juga untuk  cara bayar pun,   di luar negeri sudah cashless, di Indonesia  masih jarang.

Hal itu diungkapkan oleh beberapa mahasiswa asing saat Lintang Ayuninggar, dari Divisi International Relations meminta pendapat mereka tentang UMKM dalam diskusi yang digelar Rabu, 24/7/2019 di Aula FEB.

Tastaftiyan, yang juga dari tim internasionalisasi, menanyakan kepada peserta, apakah betul, ke depan, beberapa penyedia lapangan kerja sudah tidak membutuhkan ijazah, tapi lebih pada kompetensi,  artinya bisa jadi 10 atau 20 tahun lagi ketertarikan mahasiswa untuk belajar ke universitas akan berkurang karena mereka bisa mempelajari apapun via online.

Secara umum tanggapan mereka adalah tidak menyetujui,  karena walau mungkin beberapa perusahaan sudah tidak mensyaratkan ijazah, tapi saat ini yang menggunakan ijazah sebagai seleksi administratif lebih banyak. Mereka juga berpendapat bahwa universitas bukan hanya tempat untuk mencetak ijazah namun juga tempat mencari pengalaman bagi mahasiswa itu sendiri.

Diskusi berlangsung dalam suasana  penuh keakraban, dengan 18 mahasiswa asing dari Kanada, Amerika, China, Vietnam,  Maroko, Polandia dan Perancis. Beberapa pembahasan utama selain pengembangan kurikulum internasional dan entrepreneurship, juga tentang student exchange dan double degree.

Ke delapan belas mahasiswa asing tersebut merupakan tim yang tergabung dalam Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC). Kedatangan mereka ke Solo adalah dalam rangka  projek sosial tahunan mereka yang tergabung dalam Summer Project 2019. Dalam Summer Project kali ini, terdapat empat projek sosial yang akan diselenggarakan, yakni Entrevolution 9.0, Kids n Care 2.0, Eduvaganza 3.0 dan Global Village. Acara ini mulai terselenggara sejak 17 Juni yang lalu dan akan berakhir pada 24 Agustus mendatang.

Kedatangan mereka di Solo diharapkan mampu membantu pemecahan sosial di masyarakat Solo, terutama terkait variasi dan keberagaman strategi dan alternatif cara bisnis.