14 Jul 2020

Bahas Strategi Ekonomi di Tengah Pandemi, FEB Gelar Webinar Transformasi Digital

Mengangkat isu seputar kondisi dan inovasi finansial di era pandemi COVID-19, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sebelas Maret (FEB UNS) menyelenggarakan webinar bertemakan “Digital Transformation, Covid-10, and the Future of Financial Services” pada Kamis (25/6/2020).

Webinar yang diselenggarakan melalui aplikasi Zoom Meeting dan disiarkan secara langsung di kanal Youtube UNS Fintech Center tersebut mengundang para pakar finansial berskala internasional, yakni Sukarela Batunanggar (OJK), Johan Sulaeman (National University of Singapore), dan Larisa Yarovaya (University of Southampton).

Acara tersebut dibuka oleh Prof. Djoko Suhardjanto selaku Dekan FEB UNS yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 telah mempengaruhi sektor ekonomi secara global. Tak hanya itu, interaksi fisik pada layanan finansial di Indonesia yang ikut terdampak pun kini telah bergeser menjadi aktivitas digital. Berangkat dari hal tersebut, webinar ini diselenggarakan untuk menjadi wadah diskusi mengenai transformasi digital di era pandemi yang berpengaruh pada layanan finansial.

Dari sudut pandang transformasi digital, Sukarela Batunanggar menyoroti strategi yang harus dilakukan dan keterampilan yang harus dimiliki untuk menyikapi perubahan ini di masa depan. Hal ini dilatarbelakangi oleh model bisnis, perilaku konsumen, dan pola persaingan yang kian berubah.

“Perubahan di tingkat pendidikan juga harus bertransformasi menjadi lebih internasional, integratif, interdisiplin, inklusif, dan inovatif sebagai bentuk persiapan sumber daya manusia. UNS sudah ambil langkah tepat melalui UNS Fintech Center untuk mempersiapkan talent dan keterampilan baru dalam menghadapi digitalisasi di sektor finansial,” paparnya.

Selain itu, strategi transformasi yang harus dilakukan saat ini terkait dengan Covid-19 juga dijelaskan oleh Johan Sulaeman. Salah satunya yaitu peningkatan pengalaman para pengguna jasa seperti digital banking.

Para penyedia jasa finansial harus beradaptasi dengan teknologi agar tak ditinggalkan para pelanggannya. Adapun produk finansial juga perlu diperbarui agar dapat bersaing di tengah menjamurnya start-up di Indonesia.

Lebih lanjut, Larisa Yarovaya menyebut bahwa krisis akibat Covid-19 merupakan black swan di pasar cyrptocurrency yakni kejadian yang tidak pernah terjadi sebelumnya yang berdampak pada resiko manajemen. Namun, pada akhirnya cryptocurrency tersebut dianggap gagal untuk mengembalikan situasi terburuk di sektor ekonomi saat ini. (FEB UNS)